Oleh: Helmi Hidayat, M.Si*
Jurnalis Senior dan Dosen Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ((Foto ilustrasi dibuat oleh Meta AI)
Jika kita buka kamus, kata ‘’santri’’ jelas bukan dari bahasa Arab— karena itu, ketika pada hari ini, 22 Oktober 2026, umat Islam di Indonesia merayakan ‘’Hari Santri’’, sesungguhnya mereka sedang merayakan sekaligus mengabadikan tradisi Buddhisme di Nusantara, jauh sebelum Islam datang ke negeri ini.
Menurut sejumlah peneliti seperti C.C. Berg, Zamakhsyari Dhofier, atau Nurcholish Madjid, kata ‘’santri’’ berasal dari bahasa Sanskerta: “shastri” atau “santri”, yang artinya orang yang melek huruf, yang memahami kitab suci. Di India, seorang shastri adalah sarjana yang ahli kitab Weda.
Dalam bahasa Jawa kuno, kata itu berkembang menjadi “cantrik” — yaitu murid yang selalu mengikuti gurunya ke mana pun sang guru pergi dan menetap. Itulah definisi santri sampai hari ini: bukan sekadar siswa, tapi pengikut setia seorang guru.
Lalu dari mana sistem pesantren di Indonesia datang? Sebelum Islam datang pada abad ke-13 M (kini ada yang berpendapat abad ke-7 M), Nusantara selama 1.400 tahun adalah negeri Hindu-Buddha. Sistem pendidikannya bernama ‘’Mandala, Pashraman’’, atau ‘’Pesantian’’ — yaitu sistem asrama tempat para murid (cantrik) tinggal bersama guru, yakni resi dan biksu, untuk belajar kitab, meditasi, sekaligus bela diri. Bayangkan saja film-film bertema Shaolin Temple yang diimpor dari China.
Ketika Islam datang, dengan sangat bijak — Walisongo tidak menghapus sistem itu. Mereka lebih memilih jalur kultural dalam menyebarkan Islam ketimbang jalur struktural (kekuasaan). Itulah sebabnya mereka meneruskan, melestarikan dan mengislamkan tradisi pesantian itu. Di sini, Walisongo menyulap Mandala Hindu menjadi pondok, Pashraman (asrama) menjadi pesantren (awalnya adalah kata pe-santri-an lalu terjadi perubahan diftong menjadi pesantren, seperti kata durian jadi duren, kabupatian jadi kabupaten). Sedangkan posisi dan nama Resi berubah jadi Kyai, dan Cantrik menjadi Santri.
Bahkan menurut tradisi popular– sistem pondokan itu sendiri berasal dari ‘’pondokan’’ (dormitory), ashram untuk Hindu atau vihara untuk Buddhis, tempat di mana para cantrik belajar filsafat agama, bela diri, dan meditasi. Jadi, kalau Anda melihat santri memakai sarung, duduk bersila di lantai mengaji kitab kuning di depan seorang kyai, itu adalah adegan yang sudah terjadi di Jawa sejak zaman Borobudur dan Prambanan — hanya saja dulu mereka mengaji kitab Weda dan Tripitaka, sekarang mengaji Al-Quran dan hadis Nabi SAW– karena itu, jangan heran kalau pesantren kerap diklaim sebagai bangunan sekaligus sistem transformasi pengetahuan paling asli Indonesia, bukan impor dari Arab (meski banyak yang mengatakan kata funduq diimpor dari Arab, tetapi sistemnya lokal), bukan pula impor dari Barat– dengan demikian pesantren, catat baik-baik, adalah transformasi dari tradisi Buddhisme Nusantara itu sendiri menuju tradisi Islam.
Merayakan Hari Santri setiap tahun– sejatinya umat Islam Indonesia tengah merayakan satu tradisi belajar yang sudah 1.000 tahun lebih menjaga Nusantara tetap melek huruf — dari ‘’shastri’’ menjadi ‘’santri’’.
*Jurnalis Senior dan Dosen Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
