Ketajaman Pisau Filsafat di Zaman Tiktok Diperlukan, Saat  Kita Kehilangan Waktu Kritis

Oleh: Jufri Alkatiri*

Jurnalis Senior dan Pegiat Filsafat (Foto: detik.com)

Apa yang terjadi jika anak  bangsa kehilangan kemampuan untuk berpikir panjang secara kritis ? Jawabannya ada di timeline media sosial kita hari ini. Setiap pagi kita bangun dan langsung diserbu. Satu video 15 detik tentang perselingkuhan artis, satu potongan ceramah agama yang dipotong 30 detik, satu thread Twitter tentang teori konspirasi politik.

Kita marah, kita kesal, kita tertawa, lalu kita share. Kisaran 15 menit kemudian kita lupa. Kita mencari kemarahan baru. Siklus itu berulang. Di tengah kebisingan ini, ada pertanyaan filsafat yang mendesak– mengapa masyarakat kita tampak semakin pintar secara informasi, tetapi semakin bodoh dalam kebijaksanaan? Mengapa kita semakin reaktif, tetapi semakin sulit untuk reflektif?

Mengkritisi secara radikal sesuia dengan standar ilmu filsafat –perlu kembali ke seorang sejarawan ekonomi asal Kanada yang jarang dibaca di Indonesia: Harold Innis. Pada tahun 1951, Innis menulis karya monumental berjudul The Bias of Communication. Teori Innis sederhana tetapi sangat profetik.

Menurutnya, setiap medium komunikasi memiliki bias– ada media yang bias ruang (space-biased), yaitu media yang ringan, mudah disebar, mudah menjangkau wilayah luas, tetapi tidak tahan lama. Contohnya: papirus, koran, radio, dan hari ini: internet, dan media sosial. Media ini cocok untuk imperium yang ingin menguasai ruang, memperluas kekuasaan, mengontrol wilayah.

Sebaliknya, ada media yang bias waktu (time-biased), yaitu media yang berat, sulit dipindahkan, tetapi tahan lama dan mampu mengawetkan memori lintas generasi. Contohnya: tablet batu, prasasti, candi, naskah lontar, buku filsafat.  Media ini cocok untuk menjaga tradisi, kebijaksanaan, dan keberlangsungan komunitas dalam waktu yang panjang.

Keseimbangan satu peradaban, kata Innis, terletak pada keseimbangan antara bias ruang dan bias waktu– jika satu peradaban terlalu didominasi oleh media yang bias ruang– akan menjadi imperium yang luas tetapi rapuh, ekspansif tetapi lupa diri– akan sibuk menaklukkan ruang, tetapi kehilangan waktu.

Inilah yang sedang terjadi pada masyarakat Indonesia hari ini. Kita sedang mengalami dominasi total media yang bias ruang. Lihatlah isu-isu di masyarakat kita. Kasus perundungan di sekolah viral 24 jam, semua orang menjadi hakim di kolom komentar, lalu besok hilang ditelan kasus viral lain. Debat politik Pilpres di TikTok direduksi menjadi joget-joget dan gimmick, bukan adu gagasan. Ceramah agama 2 jam dipotong menjadi 15 detik untuk memancing kemarahan antar-kelompok. Semua serba cepat, serba luas, serba dangkal.

Media sosial adalah puncak dari media yang bias ruang– sangat ringan– menjangkau dari Sabang sampai Merauke dalam sedetik, dan menguasai ruang publik kita secara total– tetapi sama sekali tidak bias waktu. Pasalnya, tidak dirancang untuk mengingat– dirancang untuk melupakan.

Algoritmanya memaksa kita untuk selalu mencari yang baru– kemarin sudah dianggap basi. Akibatnya, masyarakat kita kehilangan apa yang dalam filsafat disebut sebagai longue durée atau kesadaran akan durasi panjang. Ilmu filsafat adalah medium yang paling bias waktu. Filsafat tidak laku untuk viral—berat dan butuh waktu.

Membaca satu halaman karya Immanuel Kant — butuh satu jam perenungan. Membaca satu bab dari Being and Time karya Martin Heidegger butuh kesunyian. Filsafat tidak bisa di-thread dalam 10 tweet– melawan logika kecepatan– karena itulah, di era dominasi bias ruang, filsafat dianggap tidak berguna. Di kampus, mahasiswa bertanya: belajar filsafat mau jadi apa?

Di masyarakat, orang yang berpikir reflektif dicap lambat, tidak responsif, kudet– padahal, justru kemampuan untuk berpikir lambat itulah yang sedang kita butuhkan. Mari kita ambil tiga isu konkret di masyarakat.Pertama, isu kebenaran.

Di era bias ruang, kebenaran ditentukan oleh kecepatan penyebaran, bukan oleh kedalaman verifikasi. Siapa yang paling cepat viral, dialah yang dianggap benar. Ini yang disebut Innis sebagai monopoli pengetahuan oleh media baru. Dulu, kebenaran dimonopoli oleh tokoh agama yang menguasai naskah kitab suci. Kini– kebenaran dimonopoli oleh influencer yang menguasai algoritma.

Filsafat mengajarkan kita untuk curiga pada kebenaran yang datang terlalu cepat– seperti yang dikatakan Rene Descartes– ragukan segala sesuatu, bahkan yang paling viral sekalipun.  Filsafat adalah seni menunda penilaian.Kedua, isu toleransi. Mengapa masyarakat kita mudah sekali terbelah? Karena media yang bias ruang selalu membutuhkan musuh untuk memperluas jangkauannya. Algoritma bekerja dengan emosi: marah, takut, benci adalah emosi yang paling cepat menyebar dan menguasai ruang. Media yang bias waktu, seperti candi Borobudur atau naskah Babad Tanah Jawi– justru mengajarkan kebijaksanaan: bahwa kebenaran itu berlapis, bahwa hidup itu tidak hitam-putih.

Filsafat Jawa mengajarkan tepa selira, filsafat Islam mengajarkan tasamuh (toleransi, tenggang rasa, lapang dada, atau keluasan pikiran). Nilai-nilai itu tidak bisa tumbuh dalam 15 detik video TikTok– butuh waktu, butuh perjumpaan yang lama, butuh dialog yang bias waktu. Ketiga, isu keadilan sosial. Innis mengingatkan, imperium yang hanya menguasai ruang akan runtuh karena ia lupa merawat waktu, yaitu tradisi dan keadilan internalnya.

Mengembalikan Keseimbangan Bias

Hari ini — kita melihat pembangunan infrastruktur fisik yang masif untuk menguasai ruang, jalan tol, IKN, konektivitas digital–tetapi kita lupa membangun infrastruktur waktu: etika publik, nalar kritis, empati sosial. Kita sibuk membangun jalan tol, tetapi kita lupa membangun jalan berpikir. Lalu apa peran ilmu filsafat? Filsafat bukanlah solusi praktis–tidak akan memberikan kita 5 cara mengatasi hoaks– tetapi filsafat memberikan sesuatu yang lebih penting– mengembalikan keseimbangan bias komunikasi kita.

Tugas filsafat di era TikTok adalah menjadi penjaga waktu –menjadi jangkar yang berat di tengah lautan informasi yang ringan. Bagaimana caranya? Di level individu– filsafat mengajarkan praktik slow thinking, seperti yang ditulis Daniel Kahneman. Berani untuk tidak langsung berkomentar. Berani untuk membaca satu buku sampai selesai sebelum menghakimi. Berani untuk jeda.

Di level komunitas– seperti yang kami coba lakukan di Komunitas Pijar melalui Gerakan Komunikasi Sambung Nalar— filsafat harus turun dari menara gading kampus menjadi ruang-ruang publik yang bias waktu: taman baca, diskusi lingkar, kelas menulis esai, bukan kelas membuat konten viral. Kita butuh lebih banyak prasasti daripada instastory.

Di level negara– kebijakan komunikasi tidak boleh hanya berorientasi pada penguasaan ruang, pemerataan sinyal internet– tetapi juga pada penguatan bias waktu: pendidikan kritis, perpustakaan yang hidup, perlindungan terhadap naskah-naskah lokal, dan kurikulum yang mengajarkan anak untuk berpikir panjang, bukan hanya berpikir cepat.

Harold Innis menulis teorinya ketika televisi baru lahir– dia sudah cemas. Jika dia hidup hari ini dan melihat TikTok, mungkin dia akan berkata: inilah imperium bias ruang yang paling sempurna, yang akan membuat kita menguasai seluruh dunia, tetapi kehilangan diri kita sendiri. Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Kita kekurangan orang yang bijaksana.

Kepintaran adalah kemampuan menguasai ruang, menjawab dengan cepat. Kebijaksanaan adalah kemampuan menjaga waktu, bertanya dengan dalam. Ilmu filsafat, dengan segala keberatannya, dengan segala kelambatannya– adalah satu-satunya medium yang masih berani menjaga waktu untuk kita. Sudah waktunya kita berhenti sejenak dari mengejar yang viral, dan mulai merawat yang abadi.

*Jurnalis Senior dan Pegiat Filsafat

Editor: Dikara Meitri Pradipta Alkarisya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website