Jurnalisme Humanistik di Tengah Era Kebohongan Digital

Oleh: Benz Jono Hartono*

Di zaman ini, berita bukan lagi tentang kebenaran, tetapi tentang siapa yang lebih cepat menekan tombol upload. Manusia berlari di atas gelombang notifikasi, dikejar algoritma, diseret oleh tren. Dan di tengah arus deras itu, jurnalisme, yang dulu adalah saksi nurani sejarah, kini sering terperangkap dalam layar kaca yang dingin, tanpa napas kemanusiaan. Namun ada satu aliran yang menolak menjadi mesin, jurnalisme humanistik.

Dia tidak berlari bersama kerumunan, tetapi berjalan pelan, menatap mata manusia satu per satu, mencoba mendengar bisik yang tidak terdengar dan tidak terlihat oleh televisi, “Aku masih manusia, bukan angka dalam laporan BPS.” Ketika Fakta Kehilangan Rasa. Berita moderen terasa seperti batu: keras, dingin, tanpa emosi. “Sepuluh orang tewas,” katanya. Tetapi siapa mereka? Apakah mereka punya nama, keluarga, atau mimpi yang tertinggal di reruntuhan rumahnya? Itu tak penting. Yang penting, headline-nya klikable. Padahal, di situlah jurnalisme humanistik berdiri, menolak dehumanisasi fakta. Ia tidak berhenti di permukaan angka, tapi menggali napas di baliknya. Ia tahu bahwa data tanpa rasa adalah kematian yang dibungkus profesionalisme.

Dari Kantor Redaksi ke Hati Nurani. Para wartawan yang masih punya nurani kini seperti pengelana spiritual di padang kebohongan digital. Mereka menulis bukan untuk memuaskan SEO (Search Engine Optimization) tetapi untuk menyelamatkan jiwa manusia dari keputusasaan. Mereka datang ke kamp pengungsi, ke gang-gang sempit, ke rumah yang roboh — bukan mencari “angle dramatis”, tetapi mencari arti keberadaan. Mereka tahu bahwa tugas jurnalis sejati bukan hanya menginformasikan, tapi juga menghidupkan rasa kemanusiaan yang mulai beku dalam dada pembaca.

Algoritma Tidak Punya Empati

Lihatlah media sosial hari ini. Yang viral bukan berita tentang penderitaan, tetapi tentang pertengkaran. Yang disebarkan bukan kisah kasih, tetapi kebencian. Algoritma mencintai konflik, karena konflik menghasilkan engagement. Namun jurnalisme humanistik justru bergerak melawan itu. Dia menulis bukan untuk viral, tetapi untuk membangkitkan kesadaran. Dia mengajarkan bahwa empati adalah bentuk tertinggi dari pengetahuan.

Menulis dengan Hati, bukan dengan mesin. Seorang jurnalis humanistik menulis dengan tinta yang terbuat dari air mata orang lain. Setiap kalimatnya adalah bentuk penghormatan pada manusia. Dia menolak menjadikan korban sebagai objek penderitaan untuk rating. Dia memanusiakan mereka memberi nama, memberi ruang bicara, memberi martabat. Dan justru di sanalah kekuatan sejatinya, ketika berita menjadi doa, ketika narasi menjadi pengingat, bahwa kebenaran tanpa kasih adalah kekejaman yang disamarkan dalam profesionalitas.

Mengapa dunia masih membutuhkannya? Dunia tidak kekurangan berita, tetapi kekurangan rasa. Kita dibanjiri informasi, namun lapar makna. Kita tahu siapa yang kalah dan menang, tetapi lupa mengapa manusia saling membunuh. Di sinilah Jurnalisme Humanistik mengambil perannya: sebagai lentera kecil di tengah malam informasi, sebagai suara yang berbisik di tengah kebisingan, “Berhentilah sejenak, lihatlah manusia di seberang layar itu. Ia sepertimu.”

Kembali pada Nurani

Mungkin di masa depan, berita akan ditulis oleh AI, dibaca oleh robot, dan dikomentari oleh akun palsu, namun selama masih ada satu jurnalis yang berani menulis dengan hati, yang berani menulis bukan karena pesanan, yang berani memihak pada manusia, maka jurnalisme belum mati. Sebab jurnalisme humanistik bukan sekadar metode. Dia adalah iman terhadap kemanusiaan itu sendiri — dan selama manusia masih bisa menangis melihat penderitaan sesamanya, selama itu pula Jurnalisme Humanistik akan terus hidup, meski dunia digital telah kehilangan rasa.

*Hiawatha Institute dan Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *