Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
Ibn ʿArabī memahami Nama-nama Tuhan* sebagai sarana merujuk pada hubungan (nisab, iḍāfāt) antara Tuhan dan makhluk ciptaan, dalam konteks ini maknanya menjelaskan bahwa segala sesuatu selain Tuhan memiliki hubungan keterikatan, ketergantungan, dan kepemilikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa — dengan tetap menjaga konsep ketauhidan yang murni (tauhid) dan transendensi (kesucian) Allah dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk-Nya, berbeda dengan atribut entitatif (ṣifāt maʿnawīya) yang ada dalam Hakikat Tuhan; dalam hal ini, Ibn ʿArabī menolak ajaran kunci Teologi Kalām Sunni.
Dengan demikian, setiap nama Ilahi menggambarkan hubungan antara makhluk ciptaan dan Tuhan. Semua hubungan ilahi-makhluk ini, jika digabungkan, membentuk apa yang disebut Ibnu Arabi sebagai Keilahian Tuhan (al-ulūhīya) atau Tingkat Tuhan (al-martaba). Secara Ontologis, Keilahian Tuhan adalah perantara utama atau tanah genting (barzakh) yang menjadi penengah antara Hakikat Tuhan yang tidak terjangkau dan semua makhluk ciptaan:
Keilahian berhadapan dengan makhluk melalui hakikat-Nya sendiri dan Dia berhadapan dengan Hakikat melalui hakikat-Nya sendiri. Itulah sebabnya Dia menampakkan diri (tajallī) dalam banyak bentuk, mengubah (taḥawwul) — Diri-Nya sendiri dan mengalami perubahan terus-menerus di dalamnya. Dia memiliki wajah yang menghadap ciptaan melalui mana Dia menampakkan Diri-Nya dalam bentuk-bentuk ciptaan; Dia memiliki wajah yang menghadap Hakikat melalui mana Dia menjadi nyata bagi Hakikat.
Maka makhluk ciptaan tidak mengenal Hakikat kecuali dari balik barzakh ini, yaitu Keilahian. Dan Hakikat itu tidak menjalankan sifat-sifatnya di dalam makhluk ciptaan kecuali melalui barzakh ini, yaitu Keilahian. Kami telah memverifikasinya, dan kami mendapati bahwa Dia tidak berbeda dengan nama-nama terindah yang kita seru. (Chittick 1989: 62)
Nama-nama Ilahi itu beraneka ragam, tetapi juga diurutkan menurut tingkatan keunggulannya. Di antara semua nama ilahi, Yang Maha Hidup (al-ḥayy) adalah yang tertinggi derajatnya karena merupakan dasar bagi semua Nama Ilahi lainnya: “Kita tahu bahwa tingkatan Yang Maha Hidup (al-ḥayy) adalah tingkatan yang paling agung di antara nama-nama tersebut, karena merupakan prasyarat (al-syarṭ) bagi keberadaan nama-nama tersebut” (Chittick 1989: 49).
Keilahian Tuhan yang terdiri dari banyak Nama Ilahi, sering disebut Satu-Banyak (al-wāḥid al-kathīr) karena banyaknya Nama Ilahi masih ditopang oleh kesatuan Hakikat Tuhan: “Hakikat Kehidupan adalah hakikat Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Menginginkan, dan Yang Maha Kuasa. Dan selanjutnya dengan yang lainnya. Jadi hubungannya beragam, tetapi Hakikatnya adalah Satu” (Chittick 1989: 52).
Dengan demikian, setiap Nama Ilahi – ketika dipahami sebagai predikat atau atribut – dengan tepat menggambarkan Keilahian Tuhan dan bukan Hakikat Tuhan; ini karena setiap Nama Ilahi menggambarkan hubungan antara Tuhan dan makhluk-Nya, yang membutuhkan keberadaan makhluk-makhluk tersebut. Bahkan nama ilahi yang mencakup segala sesuatu, Allah, ketika dipahami sebagai penanda semua atribut ilahi, menggambarkan Keilahian Tuhan sebagai lawan dari Hakikat Tuhan, yang tetap berada di luar deskripsi positif dan negatif:
Apa yang dilambangkan oleh nama Allah menuntut Kosmos dan segala sesuatu di dalamnya. Jadi nama ini seperti nama raja atau penguasa. Oleh karena itu, ini adalah nama Tingkat, bukan Hakikat. (Chittick 1989: 50). Dalam konteks Kosmologi dan penciptaan, Ibn ʿArabī menyebut Keilahian Tuhan yang meliputi semua Nama Ilahi sebagai Nafas Maha PengasihTuhan (al-nafas al-raḥmānī). Nafas Yang Maha Pengasih adalah firman kreatif Tuhan atau Logos – tindakan abadi-Nya mengucapkan Jadilah yang berfungsi sebagai penyebab abadi terciptanya semua makhluk (Chittick 1989: 126). Nafas Yang Maha Pengasih disebut dengan berbagai nama, yaitu “Awan” — Yang Nyata Melalui Kosmos tercipta melalui Nafas ini (Chittick 1989: 141). (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta
Editor: Jufri Alkatiri
