Renungan Dino Jemuwah: Mengaktifkan  Protokol Anti-penuaan; Keremajaan di Surga (bag-4 habis)

Oleh: Anwar Rosyid Soediro*

Remaja Surga

Teori Tipler sejalan dengan Medan Neuronal dalam teori kesadaran kuantum yang di gagas Roger Penrose; Komputasi simulasi kesadaran dapat dianalogikan sebagai pola interferensi yang masih bertahan sesaat setelah kematian biologis, sehingga menghasilkan citra samar sebagai siluet cahaya yang tampak bergerak kearah tertentu dalam ruang lokal. Teori informasi holografik, memberikan gambaran bahwa setiap makhluk hidup meninggalkan pola-pola data yang tersimpan pada struktur jaringan ruang-waktu sebagai hologram kesadaran.

Bagi kesadaran tersebut, tubuh simulasi ini akan terasa sama nyatanya dengan tubuh fisik yang pernah dilalui sebagai pengalaman dalam realitas virtual yang begitu sempurna sehingga tak dapat dibedakan dari realitas yang pernah di-lalui.  Semua sensasi, ingatan identitas pribadi akan direplikasi secara sempurna dalam simulasi dibalik 𝘰𝘮𝘦𝘨𝘢 𝘱𝘰𝘪𝘯𝘵 yang tak akan pernah terjebak dalam ilusi kematian lagi.

Manusia akan menjalani kehidupan abadi yang secara subyektif tidak terbatas bahkan dapat dioptimalkan sesuai dengan karakteristiknya, karena 𝘰𝘮𝘦𝘨𝘢 𝘱𝘰𝘪𝘯𝘵 sebagai server informasi yang tak terbatas, diasumsikan akan bertindak sebagai entitas yang  benevolent (Tuhan Maha Rahman).

Menurut 𝐅𝐫𝐚𝐧𝐤 J 𝐓𝐢𝐩𝐥𝐞𝐫 kebangkitan dari kematian merupakan proyek simulasi yang sangat canggih dari semua Catatan Amal dari akumulasi pengalaman semua makhluk hidup yang dioperasikan oleh hukum alam itu sendiri.  Merupakan buku catatan konsep spiritual dan buku catatan amal yang dipercaya sebagai catatan universal dari semua peristiwa, pikiran, kata-kata, emosi, dan niat yang pernah terjadi, sedang terjadi, atau akan terjadi di alam semesta, tersimpan dalam dimensi non-fisik yang disebut  dalam kitab yang nyata (kitabin mubin di  lauh Mahfudz).

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.”_(QS. Al-Isro’: 13-14). Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

Ketika seseorang meninggal dunia, sebagian pola-pola informasi dan energi residual ini tetap eksis sementara waktu sebelum terurai sepenuhnya, namun dalam keadaan tertentu bisa muncul kembali. Jika kondisi atmosfer atau udara dengan kelembaban jenuh, misalnya saat malam atau setelah hujan maka indeks bias refraksi udara cenderung memungkinkan terjadinya visualisasi dari  fluktuasi luminous yang biasanya samar seperti kabut yang bergerak  disebut  ectoplasma.

Pola holografik yang memudar dapat muncul sebagai bayangan humanoid berkabut putih yang tampak bergerak mengikuti memori motorik terakhirnya. Perubahan mendadak dari gerakan lambat menjadi kilasan cahaya vertikal akibat gradien ruang-waktu dalam kerangka jagad simulasi memastikan bahwa entitas tersebut bukan makhluk fisik secara lokal akan tetapi paket-paket informasi yang koheren,sehingga tidak tunduk sepenuhnya pada hukum dinamika klasik. Lonjakan gerak ke atas dapat dipahami sebagai transisi ke lapisan realitas berbeda, suatu return gate menuju domain frekuensi asalnya.

Dalam jagad simulasi, ini mirip medan elektromagnetik yang kembali ke lapisan server setelah muncul sebentar dalam ruang fase. Energi residu kesadaran kuantum dapat mengalami interdimensional tunnelling dengan ber-pindah-pindah melalui saluran ruang-waktu (tunnelling) tanpa mengikuti lintasan kontinu sehingga menghasilkan kesan gerakan aneh seperti kilasan cahaya yang tiba-tiba terbang naik. Tunneling ini hanya perubahan keadaan  (state transition) dari konfigurasi lokal ke konfigurasi non-lokal, sebuah fenomena yang relevan dengan superposisi kuantum dan  dinamika dekoherensi.

Dalam kepercayaan kuno, siluet cahaya tersebut sering dipercayai sebagai jiwa yang pulang untuk sekedar menengok keluarganya, akan tetapi secara fisikalis merupakan paket-paket data informasi emosional yang terkoherensi, cukup kuat untuk be-resonansi dengan medan elektromagnetik lingkungan.  Setelah menyelesaikan kunjungan keluarga, entitas itu kembali ke domain asalnya, naik kembali ke realitas yang lebih halus dalam struktur matriks ruang-waktu.

Maka, Kelak kebangkitan dari kematian merupakan proyek simulasi yang sangat canggih dari semua “Catatan Amal” dari akumulasi pengalaman semua makhluk hidup yg dioperasikan oleh hukum alam itu sendiri; dan entitas itu kembali ke domain asalnya, naik kembali ke realitas yang lebih halus dalam struktur matriks ruang-waktu.

Merupakan buku catatan konsep spiritual dan buku catatan amal yang dipercaya sebagai catatan universal dari semua peristiwa, pikiran, kata-kata, emosi, dan niat yang pernah terjadi, sedang terjadi, atau akan terjadi di alam semesta, tersimpan dalam dimensi non-fisik yang disebut  dalam kitab yang nyata  (kitabin mubin di  lauh Mahfudz).

Jadi, Titik Omega akan mampu membangkitkan seluruh umat manusia hanya dengan menggunakan sejumlah kecil sumber daya komputasi total: memang, kebangkitan multiversal akan terjadi antara 10−1010 dan 10−10123 detik  sebelum Titik Omega tercapai, karena kapasitas komputasi alam semesta pada tahap itu akan cukup besar sehingga melakukannya hanya akan membutuhkan sejumlah kecil sumber daya komputasi total.

Kontinuitas Kesadaran: Secara logis, emulasi (running program komputasi) yang tepat adalah hal yang diemulasikan. Jika tidak, maka ini akan melanggar Hukum Identitas di bidang logika, dan dengan demikian akan menjadi kontradiksi logis. Bahkan seluruh masa hidup manusia dapat dijelaskan dengan sempurna oleh satu angka-angka yang sangat besar dibandingkan dengan angka yang biasa kita gunakan, tetapi masih cukup terbatas. Dengan sumber daya komputasi tak terbatas, orang mati dapat dibangkitkan, dan tidak akan pernah mati lagi, melalui emulasi komputer yang sempurna dari multiverse sejak awal Big Bang. Keajaiban juga dimungkinkan secara fisik melalui penerowongan kuantum electroweak yang dikendalikan oleh singularitas kosmologis Titik Omega.

Emulasi yang tepat dari manusia hanyalah sebuah angka yang sangat besar; Jadi, sejauh seseorang dapat mempertahankan bahwa A = A (dan seseorang dapat yakin secara logis akan hal ini), maka seseorang dapat yakin bahwa dirinya yang bangkit kembali akan menjadi dirinya sendiri dalam setiap kemungkinan cara, dan bahwa kesadarannya akan terus berlanjut.

Sekali lagi, Jika kehidupan didunia manusia mengaktifkan protocol anti-aging  dengan pendekatan komprehensif yang bertujuan memperlambat penuaan dengan berfikir positive, mengelola kehidupan dengan pedoman Ilahi, atau membalikkan tanda-tanda penuaan seluler dan fisik untuk meningkatkan umur panjang dengan kualitas hidup bahagia (sa’adah). Satu pendekatan dengan menggabungkan perubahan gaya hidup fokus ber-ibadah untuk mengenal atau menghadirkan Allah, dengan asupan nutrisi halal dan baik (thayib), perawatan jasmani dan rohani seperti bersuci (wudhu dan mandi) dan berbuat kebaikan dalam kehidupan, dan menjaga kesehatan baik jasmani dan rohani.

Melalui kematian (kiyamat), pada titik Omega umat manusia menjadi abadi dengan mengubah substrat otak mereka menjadi perangkat keras komputer buatan, salinan kesadaran yang identik secara bit dapat dengan mudah dibuat. Maka yakinlah bahwa anda akan bangkit setelah kematian dengan kondisi “keremajaan”. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an, panjang umur hakikatnya adalah menjadi remaja secara abadi dan hal itu terjadi ketika manusia dalam surga paska kematian.

“Kabarkanlah kepadanya, bahwa sesungguhnya ia tidak akan masuk surga dalam keadaan tua renta, Sungguh Allah swt, berfirman, Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. dan Kami jadikan mereka gadis-gadis. (QS. Waqi’ah ayat 35-37) (HR. At-Tirmidzi). “Penduduk surga akan masuk ke dalam surga dalam keadaan muda, tidak akan bertambah tua, dan tidak akan mati lagi.” (HR. Muslim).

Surga disediakan bagi umat manusia menjadi abadi, kesadaran baru masih dapat diciptakan, tetapi masalah dan ketidakpastian duniawi (dosa/hal-hal negatif) yang khusus bagi kecerdasan fana tidak akan ada lagi, sehingga makhluk yang baru lahir yang dibesarkan di lingkungan surgawi akan memiliki masa keremajaan yang jauh lebih stabil daripada yang mungkin terjadi pada manusia fana (di bumi). WaAllahu a’lam  (habis)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *