Renungan Dino Jemuwah : Kosmologi  Eling Lan  Waspada (bag-6)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Rumah Tuhan

Dalam beragam makhluk Kosmos selain manusia — pada tingkat apa pun mereka berada, dari spiritual dan Malaikat hingga jasmani dan indrawi — jejak nama dan sifat Tuhan diwujudkan sebagai karakteristik spesifik dan unik dari setiap makhluk semesta. Setiap makhluk di alam semesta dapat mengenal atau menghadirkan Tuhan dengan cara yang spesifik, berbeda, dan ditentukan, yang didefinisikan oleh sifat-sifat yang ditampilkan oleh hal tersebut, atau oleh firman yang diwujudkannya; setiap hal memberikan kabar tentang Tuhan dan menampilkan tanda-tanda-Nya melalui keberadaannya di ceruk spesifiknya dalam ucapan Tuhan yang tidak pernah terulang, yaitu alam semesta.

Sebaliknya, dalam realitas berlapis-lapis yang merupakan diri manusia, jejak nama dan sifat Tuhan relatif terinternalisasi. Jejak-jejak tersebut meluas dari ranah jasmani ke ranah spiritual, dan mereka berputar di sekitar Ka’bah (rumah) mereka, yaitu  hati, pusat keberadaan yang bercahaya, roh yang ditiup Tuhan ke dalam Adam pada saat penciptaannya. Hanya manusia yang diberi potensi untuk mengenal Tuhan secara global dan sintetis, karena hanya manusia yang diciptakan menurut gambar bukan satu atau beberapa nama tertentu, tetapi menurut gambar nama-nama Allah yang mahakuasa, yang menunjuk Tuhan sebagaimana adanya, baik dalam kemutlakan-Nya maupun ketidakterbatasan-Nya, hakikat-Nya dan sifat-sifat-Nya, ketidakbandingan-Nya dan kesamaan-Nya, transendensi-Nya dan immanensi-Nya.

Jika kesempurnaan `ibâda  (ibadah dan pelayanan) adalah Eling atau mengingat Tuhan dengan cara yang sesuai dengan realitas-Nya yang total, maka jelas bahwa hanya manusia, yang diciptakan menurut gambar Tuhan, yang dapat menjadi hamba (`abd) Tuhan. Meskipun demikian, dalam arti yang lebih sempit, `ibâda  hanya berarti melayani tujuan Tuhan, dan dalam arti ini segala sesuatu menyembah Tuhan, karena  makhluk  yang bergantung tidak dapat melakukan apa pun selain melayani Dzat Mutlak yang darinya ia memperoleh seluruh dirinya.

Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, “Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang tidak datang kepada Yang Maha Pengasih sebagai hamba” (QS. Maryam/19: 93). Setiap makhluk menyembah dan melayani Tuhan dengan cara keberadaannya masing-masing.

Setiap makhluk memiliki status yang ditentukan oleh cara Tuhan mengungkapkannya sebagai firman dalam Nafas-Nya., namun, manusia tidak memiliki cara keberadaan yang spesifik, karena kesadaran dan pemahamannya tidak memiliki batasan batin. Hanya dialah yang merupakan gambaran global dari Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Sadar. Pada intinya, manusia memiliki potensi untuk menjadi gambaran lahiriah dari Nafas Yang Maha Pengasih itu sendiri, manifestasi dari seluruh Wujud dan semua nama serta sifat Ilahi.

Status manusia yang khas berarti bahwa hanya dialah yang dapat memenuhi tujuan akhir menciptaan, yaitu agar Tuhan disembah dan dilayani bukan hanya dengan cara pasif seperti semua makhluk melayani-Nya, tetapi juga dengan cara aktif yang dicapai melalui kesadaran penuh akan Harta Karun Tersembunyi dan penerimaan bebas atas segala sesuatu yang dituntutnya. Inilah sebabnya, menurut Ibnu Arabi, fungsi manusia sebagai wakil Tuhan memenuhi proses penciptaan dan mencapai tujuannya. Peran manusia begitu sentral sehingga, jika  tidak terpenuhi, dunia akan hancur berantakan. Tuhan menjadikan bumi ini sebagai tempat (locus) bagi wakil-Nya. Oleh karena itu, bumi adalah tempat kediaman kerajaan-Nya dan tempat wakil-Nya, yang terwujud melalui sifat-sifat nama-nama-Nya.

Maka, dari bumi Dia menciptakan kita. Di dalamnya Dia memberi kita tempat tinggal, baik hidup maupun mati. Dan dari bumi Dia akan mengeluarkan kita melalui Kebangkitan dalam konfigurasi terakhir. Dengan demikian, ibadah tidak pernah meninggalkan kita di mana pun kita berada, di dunia ini dan di akhirat, karena, meskipun akhirat bukanlah tempat tinggal taklîf (ajaran agama), ia adalah tempat tinggal ibadah. Di antara kita, siapa pun yang tanpa henti menyaksikan apa yang untuknya dia diciptakan di dunia ini dan di akhirat adalah hamba yang sempurna, tujuan yang dimaksudkan dari alam semesta, dan wakil dari seluruh alam semesta.

Seandainya seluruh alam semesta  (yang tertinggi dan terendah)  lupa akan mengingat Allah untuk sesaat saja, dan seandainya hamba ini mengingat-Nya, Dia akan menggantikan seluruh alam semesta melalui ingatan itu, dan keberadaan alam semesta akan terpelihara melalui dirinya. Namun, jika hamba manusia itu lupa akan mengingat Allah, alam semesta tidak dapat menggantikannya. Bagian alam semesta yang kosong dari manusia yang mengingat-Nya akan hancur. Nabi bersabda, “Kiamat tidak akan datang selama masih ada orang di bumi yang mengucapkan ‘Allah, Allah’” (HR. Muslim, no. 148).

Nama-nama dan sifat Tuhan merupakan jembatan antara dunia non-fenomenal dengan fenomenal, baik secara  Epistimologis maupun Ontologis. Tanpa nama-nama Tuhan yang diwahyukan di dalam kitab suci, maka tidak seorang pun mampu memperoleh pengetahuan utuh mengenai modalitas-modalitas Wujûd. Nama nama Tuhan merupakan realitas aktual dari Wujûd, yang mana nama-nama tersebut menampakkan diri-Nya.

Masing-masing sifat Tuhan, seperti ilmu, kehendak, kekuasaan, firman, pemurah, adil, kasih sayang, pemaaf, dan sebagainya, menjelmakan diri di berbagai entitas yang ada dalam kosmos. Setiap entitas mempunyai kesiap-sediaan (isti’dâd) tertentu yang memungkinkannya untuk menunjukkan sifat-sifat Tuhan pada tingkatan tertinggi atau terendah.

Sebuah batu adalah bentuk kekuatan pasif, suatu tanaman menunjukkan cara hidup, pengetahuan, kehendak dan kekuatan yang aktif. Seekor hewan menyajikan semua sifat-sifat Tuhan dengan entitas yang lebih tinggi. Pada puncak hirarki wujûd dalam kehidupan nyata, manusia berpotensi menyajikan setiap nama ketuhanan.

Ibnu Arabi menjelaskan bahwa di dalam segala sesuatu bagi-Nya adalah tanda, yang menunjukkan bahwa sesungguhnya Ia adalah Esa. Sebuah pandangan yang menggambarkan Tuhan, alam semesta, manusia, dan kenabian dalam bentuk kata-kata dan ucapan. Yaitu dengan Tiga prinsip iman;  (keesaan, kenabian, dan kembali kepada Tuhan)  semuanya dipahami dalam bentuk nama-nama Tuhan dan penamaan-Nya. Tugas manusia adalah menanggapi situasi yang dihadapinya dengan mengingat nama-nama benda, yaitu, nama-nama benda yang nyata dan sebenarnya, yang merupakan benda-benda sejauh nama-nama tersebut menunjukkan Realitas Ilahi, atau sejauh nama-nama tersebut merupakan artikulasi dari ucapan Ilahi.

Tugas manusia ini hanya dapat diselesaikan di dalam “hati”, sebuah kata yang menunjukkan ranah kesadaran dan kepekaan manusia yang tak terbatas. Hanya hati, di antara semua ciptaan, yang mampu diberikan kemampuan untuk meliputi Tuhan. Seperti yang dikatakan dalam firman Ilahi yang terkenal di luar Al-Quran, “Langit dan bumi-Ku tidak meliputi-Ku, tetapi hati hamba-Ku yang beriman meliputi-Ku.” Mengingat Tuhan sepenuhnya dan secara nyata berarti menemukan Dia bersemayam di dalam hati, yang merupakan Singgasana-Nya dalam mikrokosmos. Seperti yang ditulis Ibnu Arabi, Tuhan menjadikan hati hamba-Nya sebagai rumah, karena Dia menjadikannya tempat pengetahuan tentang-Nya, yaitu pengetahuan yang merupakan gnosis  (`irfân), bukan teori (nazar) . Dia melindungi rumah itu dengan penuh semangat dan cemburu, agar tidak menjadi tempat bagi yang lain.

Hamba (orang yang taat) itu maha mengetahui. Tidak dapat dipungkiri, Yang Maha Nyata menjadi nyata bagi hamba dalam berbagai bentuk, atau dalam bentuk segala sesuatu, karena hamba adalah tempat pengetahuan tentang segala sesuatu. Dan tidak ada tempat pengetahuan selain hati, tetapi Yang Maha Nyata cemburu terhadap hati hamba-Nya, agar jangan sampai ada sesuatu selain Tuhannya di dalamnya. Oleh karena itu, Dia menunjukkan kepada hati bahwa Dia adalah wujud dari segala sesuatu dan identik dengan segala sesuatu, karena hati seorang hamba mencakup segala sesuatu. Alasannya adalah karena segala sesuatu adalah Nyata, karena tidak ada yang mencakup segala sesuatu kecuali Yang Nyata. Siapa pun yang mengetahui Yang Nyata dalam kaitannya dengan Keberadaan-Nya telah mengetahui segala sesuatu.

Namun, seseorang yang mengetahui suatu hal tidak serta merta mengetahui Yang Nyata, dan [ia tidak mengetahuinya] secara nyata. Seorang hamba yang mengira bahwa ia mengetahui suatu hal sebenarnya tidak mengetahuinya, karena jika ia mengetahuinya, ia akan mengetahui bahwa itu adalah Yang Nyata. Jadi, selama   dia tidak mengetahui bahwa itu adalah Yang Nyata, kita katakan tentang dia bahwa ia tidak mengetahuinya (al-Futuhat al Makkiyya).

Pengetahuan tentang segala sesuatu sebagaimana adanya hanya dapat diperoleh melalui pengetahuan tentang hal-hal tersebut sebagai pengungkapan Yang Nyata, sebagai tanda dan jejak yang menampilkan nama dan sifat Tuhan. Ini bukanlah pengetahuan teoritis, tetapi pengetahuan tentang pengenalan dan gnosis. Tujuannya adalah untuk memperoleh visi sejati tentang kemahakuasaan Ilahi, kenyataan bahwa, sebagaimana Al-Quran menyatakan, “Ke mana pun kamu berpaling, di situ ada wajah Allah” (QS. Al-Baqarah/2: 115).

Pengetahuan seperti itu datang melalui dzikir, yaitu al-hudûr ma`a’l-madhkûr, “kehadiran bersama Yang Maha Eling”.Hanya pengetahuan semacam inilah yang memungkinkan manusia untuk melihat bahwa segala sesuatu di dunia ini terkutuk/terlaknat jika ia tidak melihatnya sebagai perwujudan Yang Maha Nyata, dan bahwa dirinya sendiri terlaknat sejauh ia tidak mengetahui bahwa segala sesuatu memang mewujudkan Yang Maha Nyata.  Begitu kita melihat dunia sebagaimana adanya, kita melihat bahwa dunia itu tidak lain adalah eling miring Allah (dzikir akan Allah, penyebutan Allah, mengingat Allah).

Tanggapan kita terhadap dunia hanya dapat mengikuti petunjuknya untuk menyebut dan mengingat Allah. “Segala sesuatu terkutuk,” kata hadits, kecuali eling marang Allah, namun segala sesuatu adalah eling kepada Allah, sehingga tidak ada yang terkutuk. Alkimia dzikir mengubah yang terkutuk menjadi yang diberkati. Tempat dzikir atau eling, di mana Allah benar-benar hadir dan manusia benar-benar diberkati, adalah hati (qolbu). Sebagai penutup, mari kita Eling melalui satu nasihat dari Ibnu Arabi: Dosa terbesar adalah yang menyebabkan kematian hati. Hati mati hanya karena tidak mengenal Allah.

Inilah yang disebut ketidaktahuan — karena hati adalah rumah yang telah Allah pilih untuk Diri-Nya sendiri dalam konfigurasi manusia ini. Tetapi orang seperti itu telah menyalahgunakan rumah itu, menghalangi hubungan antara rumah itu dan pemiliknya. Orang seperti itu adalah orang yang paling mendzalimi dirinya sendiri, karena ia telah merampas kebaikan yang seharusnya datang kepadanya dari Pemilik rumah [seandainya ia menyerahkan rumah itu kepada-Nya.]. Inilah perampasan karena ketidaktahuan. (al-Futuhat al Makkiyya). (habis)

*Pemerhati Keagamaan, Filsafat, dan Alumni Fateta UGM  Yogyakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *