Renungan Dhino Jemuwah: Hakikat Haji Mengenal Diri Sejati dan Mengenal Tuhan (bag-10)

Oleh: Anwar Rosyid Soediro*

I. Jamarat; Simbol Jihad Terhadap Trinitas Qabilisme

Mina adalah Palagan (front) revolusi pertempuran tanpa henti terhadap musuh-musuh kemanusiaan– sehingga, ketiga monumen jamarat itu adalah tiga berhala yang melambangkan setan yang berusaha menggoda Ibrahim: Berhala pertama (Jumratul Uula) adalah lawan dari fase Arafah.  Berhala kedua (Jumratul Wustha) adalah lawan dari fase Masy’ar, dan Berhala ketiga (Jumratul Uqba) adalah lawan dari fase Mina.

Ketiga berhala ini meskipun mereka berdiri sendiri dan masing-masing memiliki identitasnya sendiri– namun mereka saling berkomplot dan bekerja sama untuk menjerumuskan manusia.– dengan kata lain, secara bersamaan ketiga berhala ini melambangkan satu setan– yang ada adalah satu entitas dengan tiga wajah atau tiga entitas dengan sebuah sumber yang sama– tiga entitas berhala ini sesungguhnya yang dikenal dengan Trinitas.

Wajah Trinitas ini berubah dalam setiap zaman, sejak putra Adam disimbolkan dengan Qabil Sang Pembunuh  — yang memiliki tiga wajah, yaitu wajah Fir’aun, Qarun, dan Balaam.  Fir’aun mensimbolisasi kekuasaan, Qarun mensimbolisasi kekayaan dan kekuatan ekonomi, Balaam mensimbolisasi kelas agamawan/pendeta penguasa. Masing-masing dari tiga pribadi ini membentuk kesatuan Tunggal– mereka merupakan manifestasi tiga sisi wajah dari satu Qabil.

Tiga setan yang terletak di sepanjang jalan itu jaraknya satu sama lain kurang lebih seratus meter– ketika pasukan  jamaah haji telah tiba di Mina, semuanya memegang senjata (batu kerikil) dan siap menyerang. Ketika mereka sampai pada berhala pertama, mereka tidak boleh menembak. Begitu juga ketika mereka sampai pada berhala kedua, mereka belum boleh menembak– akan tetapi manakala sampai pada berhala ketiga– kini mereka harus menyerang dan menembaknya. Mengapa demikian?

Memang, ada nasehat dari para guru yang bijak dan berpengalaman biasanya menyuruh kita untuk bertindak secara diam-diam, setahap demi setahap dan bergiliran– tetapi, di sini Khalilullah Ibrahim adalah komandannya dan mengeluarkan perintah: Tembaklah yang terakhir dalam serangan pertamamu.  Ketika berhala yang terakhir tumbang, berhala yang pertama dan kedua tidak bisa melawan karena yang menopang mereka adalah berhala yang terakhir (ketiga).

Lempar Jumrah secara keseluruhan adalah simbolisasi perlawanan total manusia terhadap kejahatan, penindasan, dan godaan setan di dunia. Tiga pilar jumrah menjadi representasi tiga musuh kemanusiaan dan ajaran agama, yakni– Jumrah Pertama (Uula): Menyimbolkan penolakan terhadap Balaam (Bal’am), yang merepresentasikan para ulama atau pemuka agama yang korup, munafik, dan memperalat ilmu agamanya untuk melayani tirani kekuasaan. Kedua (Wustha): Menyimbolkan perlawanan terhadap  Qarun (Korah)– yang mewakili tirani kekayaan, materialisme, dan keserakahan ekonomi yang menindas kaum lemah.  Jumrah Ketiga (Aqabah): Menyimbolkan perlawanan terhadap Firaun (Pharaoh), yang melambangkan tirani kekuasaan politik yang memonopoli kebenaran, menindas rakyat, dan bertindak sewenang-wenang.

Melalui ritual ini, ditegaskan bahwa jemaah haji diajak untuk terus menerus melawan ketiga kekuatan destruktif ini dalam diri sendiri dan masyarakat. Mereka para tamu Allah menembakkan peluru dengan niat merobohkan Balaam ini–  terutama, katanya, ketika dia mendapati hal ini sesuai dengan Al-Qur’an: “Mereka telah mengambil para rahib, pendeta, dan Al-Masih anak Maryam sebagai tuhan-tuhan mereka di samping Allah”, (QS. At-Taubah: 31)

Allah juga mengutuk penindas, kebodohan, dan kemunafikan. Dia mengkritik mereka yang disebut sebagai para pemimpin spiritual yang bukannya membimbing, tetapi justeru secara sengaja atau tidak sengaja telah menyesatkan manusia. Allah SWT, murka terhadap mereka dalam firmannya: “Mereka seperti keledai yang mengangkat buku-buku.”  (QS. Al-Jumu’ah: 5). “Dia seperti seekor anjng; jika engkau menyerangnya maka dia terengah-engah dengan lidah terjulur.  (QS. Al-A’raf: 176)

Ayat lain dalam Al-Qur’an surah terakhir (Surah 114)– Allah menyebutkan Nabi saw. yang memikul tanggung jawab yang paling besar terhadap kepemimpinan dan kemerdekaan umat manusia. Allah memberitahukan kepada Nabi bahwa ada bahaya mengancam dan dia tidak terlindung dari itu, karena itu dia harus minta perlindungan dari Allah.

Dalam surah An-Nas atribut-atribut berikut ini diberikan kepada Allah: Rabb (Pemelihara), Malik (Raja), dan Ilaah (Penguasa).  Lebih dalam lagi mengetahui bahwa ketiga atribut tersebut hanya milik Allah Yang Mahabesar– dan orang seperti Nabi saw. Juga masih disarankan agar meminta perlindungan kepada sang Pemelihara, dari bahaya  Khannas:Dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi.” (QS. An-Nas: 4)

Khannas– menurut kamus, adalah setiap sesuatu yang menyesatkan, menyerang, membuat terlena, mengikuti dan memperdayakan– yang dilakukan Khannas adalah menggoda dan mengilhamkan kejahatan kedalam hati. Sedangkan godaan menurut kamus, adalah bujukan untuk melakukan suatu perbuatan yang tidak bijak atau tidak bermoral, untuk menimbulkan penyakit yang mengganggu kebijakan dan menciptakan perasaan tergila-gila, kebingungan, dan perasaan tidak berguna.  Khannas ini, bisa jadi dia terbuat Jin atau manusia: “Yang membisikkan kejahatan ke dalam hati manusia, yaitu dari Jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 5-6).

Oleh karena itu, di Mina, tempat Ibrahim digoda oleh setan, berhala yang terakhir (Jumratul Uqba), melambangkan Khannaas. Khannaas, menurutnya, adalah para pemimpin spiritual (ustadz atau kyai) yang menjual agama demi memperoleh kekayaan atau seorang saintis (ilmuan) yang menjual pengetahuannya atau seorang intelektual yang khianat. “Mengapa diperlukan menentukan atau mengidentifikasi setiap berhala?”

Ketiadaan identifikasi itu memang sudah merupakan identifikasi dari masing-masing berhala bersembunyi di antara dua berhala lainnya. Oleh karena itu, begitu tiba di Mina maka yang harus pertama kali dilakukan menyerang dan membunuh dengan peluru-pelurumu adalah berhala yang terakhir.  Siapa yang terakhir yang harus ditembak lebih dahulu? Di sini memberikan kebebasan memilih kepada jamaah haji untuk menentukan siapa menurut mereka yang terakhir sesuai dengan pandangan hidup masing-masing.

Setiap individu jamaah haji dapat bertanya kepada dirinya sendiri– mana berhala yang melambangkan Fir’aun, simbol penindasan? Mana yang melambangkan Karun simbol kapitalis? Dan mana yang melambangkan Balaam– simbol kemunafikan?

Setiap orang yang berpikiran seperti Ibrahim bapak monoteise–  yang bergantung pada pandangan-pandangan pribadinya, metode-metode perubahan sosial yang diajukannya, kewajiban-kewajibannya, dan sistem sosio-politik dari komunitasnya, mungkin menganggap berhala (setan) yang terakhir sebagai:  “Fir’aun” bagi orang-orang  (atau kelompok jamaah) yang berkepentingan dengan politik dan hidup di bawah despotisme, militerisme, dan fasisme. Atau sebagai “Qarun”: bagi orang-orang yang berkepentingan dengan ekonomi dan memandangnya sebagai struktur bangunan masyarakat.   Atau juga sebagai “Balaam”: bagi kaum intelektual yang percaya bahwa tidak akan terjadi perubahan sosial kalau tidak ada perjuangan sejati melawan kebodohan, kelemahan pikiran, dan setiap kondisi yang dapat menyebabkan manusia menganut politeisme (syirik) dengan berkedok monoteisme (Tauhid).

Baik yang berasal dari  masyarakat kapitalistik yang sudah maju, masyarakat belum berkembang dengan sistem sosial abad pertengahan, atau masyarakat beraliran fasis, diktator, dan monarkis, semuanya menembak berhala yang sama tapi dengan niat yang berbeda.  Berhala yang terakhir (Jumratul Uqba) mendukung dua berhala lainnya Fir’aun merestui perampasan yang dilakukan oleh Qarun; Qarun mendukung Balaam dengan uangnya– Fir’aun mendukung Balaam dengan kekuasaannya; dan Balaam menghubungkan kekuasaan Fir’aun dengan kekuasaan Tuhan melalui tipu-daya (manipulasi) kitab.

Mengapa harus meneruskan pertempuran?

Jamah Haji diingatkan– bahwa jangan lupa setan mampu bertahan hidup meskipun telah dikalahkan. Bisa jadi kalah di luar dirimu tetapi dia bisa bangkit di dalam dirim.  Dia dirobohkan dalam pertempuran, tetapi dia bisa memperoleh kekuatan kembali dalam perdamaian. Dia lenyap di Mina, tetapi kini dia bisa subur dalam dirimu.

Godaan, setan memiliki ribuan wajah– bisa saja ditolak karena tampil sebagai seorang kafir, namun dia pun akan kembali kepadamu sebagai seorang yang beriman. Dia  bisa ditolak sebagai seorang politeis, namun dia akan menampilkan diri sebagai seorang monoteis. Manusia  menguburnya di rumah berhala, namun dia bisa menunjukkan diri di mihrab (bilik pribadi).

Manusia dapat membunuhnya dengan senjata di Badar– mungkin telah terluka di dalam Perang Khandaq di Madinah tetapi dia musuh manusia tidak selalu berupa senjata atau sebuah pasukan perang. Musuh manusia bisa berwujud neokolonialisme, birokrasi, teknokrasi, atau digitalisasi. Pada waktu tertentu mungkin dia merupakan eksibisionisme (gemoy, pencitraan), nasionalisme, dan rasisme– sementara pada kali yang lain nazifasisme, borjuisme dan militerisme.  

Mungkin juga berupa kecintaan terhadap kesenangan (efiqurisme), kecintaan terhadap ide-ide (idealisme), kecintaan terhadap benda (materialisme), kecintaan terhadap seni, dan keindahan (romantisisme), kecintaan terhadap bukan sesuatu apa pun (eksistensialisme), kecintaan terhadap negeri dan darah (rasisme), terhadap para pahlawan dan pemerintahan pusat (fasisme), terhadap individu-individu (individualisme), terhadap semua orang (sosialisme), terhadap perekonomian (komunisme), terhadap kearifan (filosofi), terhadap perasaan (gnostisisme), terhadap sorga (spiritualisme), terhadap eksistensi (realisme), terhadap sejarah (fatalisme), terhadap kehendak Tuhan (determinisme), terhadap seks (Freudisme), terhadap naluri (biologisme), terhadap akhirat (agama), ketakhayulan idealisme, ketamakan ekonomisme.  Semua itu adalah berhala-berhala politeisme (kemusyrikan) masa kini. (bersambung)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia

Editor: Jufri Alkatiri

Caption Foto: Renungan Dhino Jemuwah: Hakikat Haji Mengenal Diri Sejati dan Mengenal Tuhan (bag-10)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *