Oleh: Renville Almatsier*
Lampion merah bergantungan sepanjang gang sempit yang pendèk sekitar Museum Benteng Heritage (MBH) itu. Kecuali di Kelenteng Boen Tek Bio yang berjarak beberapa puluh meter dan Roemah Boeroeng juga tidak jauh, suasana Jalan Cilame yang kalau siang berada di tengah Pasar Benteng Tangerang sore itu sepi.
Hari Minggu lalu, tanggal 1 Maret kami diundang oleh Pak Udaya Halim, seorang pelestari budaya dan penggiat pembauran, untuk hadir pada kaitan perayaan Imlek di kawasan itu. Ada acara istimewa Capsame. Acara berlangsung di Museum Benteng Heritage (MBH).
Gedung ini merupakan bangunan kuno yang terletak dalam kompleks yang disebut benteng Pasar Lama. Di seberang bangunan ini doeloe Pak Udaya melewati masa kecilnya. Kini bangunan itu berada di tengah pasar yang padat, rame, dan bau. Untunglah pada sore itu, pasar sudah sepi.
Acara itu diliput oleh beberapa stasiun tv seperti Metro, SCTV, Da-Ai dan dihadiri antara lain oleh tokoh-tokoh seperti Guruh Sukarnoputra, Lestari Luhur, Asvi Warman, Adam, Andy Noya, dan beberapa tamu warga asing. Dibuka dengan Mock Ciaotao atau peranakan wedding kepada kami yang berdesakan di lantai atas bangunan sempit yang penuh artefak peninggalan budaya Cina itu, diperagakan upacara perkawinan tradisional lengkap.
Adegan diperankan oleh anak-anak muda warga keturunan. Sambil menjelaskan arti semua tahapan prosesi, Pak Udaya menyelipkan info dan data sejarah kehadiran warga Tionghoa di negeri ini, khususnya di Tangerang. Juga historis wangsa Han di Tiongkok sana, dan keturunannya yang tersebar di seantero Indonesia, siapa yang datang ke Jawa, Kalimantan dan Sumatera.
Ternyata sejak lebih 600 tahun lalu penduduk Tionghoa sudah berada di Tangerang. Itulah asal muasal budaya Tionghoa terakulturasi dengan budaya setempat. Kita pun mengenal sebutan Cina Benteng — jejak warisan budaya Tionghoa itu kemudian kita temui dari baju koko, ronggeng Betawi, gambang Kromong serta istilah-istilah becak, tahu, caisim, taoco, lihai, bakiak, loteng, bakso, bakmi, bihun dan sebagainya.
Selesai acara, pas waktu berbuka, para tamu diajak membatalkan puasa dengan aneka takjil. Keluar MBH, kami disambut oleh gadis-gadis berpakaian tradisional Cina serombongan anak-anak membawa boneka Naga sepanjang puluhan meter. Lalu kami, para tamu pun beriringan berjalan sambil diperkenankan ikut mendukung barisan liong yang panjang itu…Kami menyusuri gang menuju bangunan yang disebut Roemboer (Roemah Boeroeng) untuk mengikuti acara lanjutan yaitu makan bersama di bangunan tiga lantai yang tak kalah sempitnya dengan MBH tadi.
Semua bangunan ini dipugar atas prakarsa Udaya Halim bersama komunitas kaum.peranakan Tionghoa. Sambil menikmati hidangan, suasana dimeriahkan oleh musik biola dan alat musik tradisional.lain. Beberapa tamu ikut memberi sambutan.
Begitulah, bagi saya acara hari itu menjadi pengingat bahwa Imlek bukan sekedar acara budaya tapi juga pelestari keberagaman. Dan keberagaman adalah bagian dari sejarah Indonesia. Pembauran bukan menghapus identitas tetapi hidup berdampingan dengan saling menghormati dengan penuh toleransi.
Semoga kita bangsa ini pun makin memahami hal yang kadang’kadang peka ini. Bila etnis Tionghoa oleh sementara kalangan selalu dikaitkan agak negatif dengan urusan ekonomi, dagang, cuan, dan “sembilan naga”, maka mereka sebenarnya ikut berperan dalam perkembangan ekonomi, budaya dan sosial kita. Bukan salah bunda mengandung bila mereka terlahir di tanah yang selalu diklaim sebagai “milik” pribumi ini. Di bawah lampion yang bergoyang pelan di halaman MBH dan Roemboer itu terasa bahwa toleransi sebenarnya sederhana: saling hadir saling menyapa dan saling menghormati.
*Pengamat Sosial dan Mantan Jurnalis Majalah Berita Tempo
Editor: Jufri Alkatiri
