Renungan Dino Jemuwah: Menjelajah Prasasti Tuhan melalui Fenomena Kuantum (Bag-7 habis)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Menjelajah Prasasti Tatakelola Alam Semesta

Manajemen tata-kelola semesta merupakan derivative — sifat Allah Maha Pemelihara (Mudabbir); yang didalam Al-Qur’an disebut dengan istilah  at-tadbir  (pengaturan). Kata ini merupakan akar kata dari kata dabbara (َmengatur)– dari kata ini kita sering mendengar istilah mudabbir,_ yang berarti pengelola/pengurus dan ِmengatur segala urusan tentang semesta.

Kata yudabbiru dalam Al-Qur’an terdapat pada QS. As-sajdah ayat 5: “dia mengatur segala urusan dari langit kebumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”. (QS. As-sajdah: 5).

Berdasarkan Surat As-Sajdah Ayat 5 di atas– Allah adalah pengatur segala urusan dari langit dan bumi. Semua urusan diatur oleh Allah, termasuk semua urusan kehidupan manusia di muka bumi. Melalui firman-nya ini, Allah ingin menjelaskan kepada manusia bahwa segala sesuatu sudah diatur oleh Allah. Manusia mengetahui aturan-aturan yang dibuat Allah melalui firman-nya, yaitu Al-Qur’an, bahwa manusia diberi pengetahuan tentang sifat dan propertis semesta.

Al-Qur’an sebagai kitab pedoman untuk mengatur kehidupan manusia. Selain itu, manusia diturunkan di bumi juga sebagai khalifah, pengatur, dan penjaga alam dari kerusakan. Manusia disebut sebagai  co-worker with god, —artinya asisten Allah dalam mengatur alam. Allah menciptakan alam semesta dan manusia sebagai khalifah di bumi bertugas untuk memelihara dan menjaga dari kerusakan.

Bagaimana manusia (co-worker with god) dapat melihat semesta bekerja pada wujud aslinya; science menyatakan bahwa seluruh materi dalam semesta ini tidak lain terbentuk dari molekul; Molekul adalah kumpulan atom-atom yang saling berikatan kuat satu sama lainnya — dan perlu diketahui bahwa atom tidak memiliki struktur fisik.

Jika kita mengamati komposisi atom dengan mikroskop, kita akan melihat pusaran kecil seperti Tornad  dengan sejumlah pusaran energi yang sangat kecil yang disebut  quark. Maka, mempelajari Energi, vibrasi dan frekuensi adalah ilmu semesta yang harus kita ketahui secara kolektif.

Terminologi energy, frequency, and vibration — memiliki daya tarik luar biasa, melampaui batas sains dan merambah ranah filosofis serta spiritual.  Pernyataan ini mengundang para ilmuwan untuk merenungkan bahwa di balik segala fenomena fisik terdapat jaringan energi yang kompleks dan dinamis  — yang tidak hanya dapat dijelaskan secara ilmiah tetapi juga diterjemahkan melalui Kebijaksanaan Abadi  (Perennial Wisdom).

Pemikiran visioner tentang  energy, frequency, and vibration” — yang diajukan Nikola Tesla harus diakui, melampaui zamannya. Meski muncul dua abad setelah era Newton– gagasan tersebut sejalan dengan prinsip Fisika Newton dan, lebih jauh lagi, menjadi fondasi yang kuat bagi Fisika Kuantum. Cahaya  sebagai entitas fundamental, mengandung energi, frekuensi, dan vibrasi secara bersamaan. Berdasarkan “kunci” untuk memahami cahaya berarti membuka jalan untuk mengungkap misteri alam semesta.

Cahaya dalam Perspektif Ilmiah dan Spiritual

Newton yang dikenal luas karena teorinya tentang Gravitasi, sebenarnya memberikan pengaruh mendalam melalui studinya tentang cahaya. Einstein, dalam teori relativitasnya, menempatkan cahaya sebagai komponen kunci rumus ikonik E=mc² tidak mungkin ada tanpa melibatkan kecepatan cahaya.

Lebih dari itu, cahaya menjadi pijakan penting dalam kelahiran Fisika Kuantum. Penemuan-penemuan seperti dualisme gelombang-partikel, efek fotolistrik, hingga foton membuka tabir rahasia alam semesta yang dulunya tersembunyi. Dalam konteks spiritual, cahaya memiliki makna mendalam. Al-Qur’an menggambarkan Allah sebagai sumber cahaya yang melampaui batas-batas fisik: “Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah misykat yang di dalamnya ada pelita besar.”  (QS. An-Nur: 35).

Ayat ini menekankan bahwa cahaya bukan hanya entitas fisik, tetapi juga simbol kebenaran, petunjuk, dan kehadiran Ilahi yang memancar ke seluruh penjuru alam semesta. Hadis Qudsi juga menyebutkan tentang cahaya sebagai manifestasi kekuasaan Allah: “Hijaab-Nya adalah cahaya. Seandainya– Dia singkapkan, niscaya sinar wajah-Nya akan membakar apa saja yang dijangkau pandangan-Nya dari makhluk-makhluk-Nya. (HR. Muslim).

Energi sebagai Medium Transformasi Kosmik

Energi adalah fondasi dari segala sesuatu, baik dalam pandangan sains maupun spiritualitas. Dalam konteks sains, teori relativitas Einstein menunjukkan bagaimana materi dan energi saling berkaitan. Semua materi, pada tingkat terdalam, adalah manifestasi dari energi yang bergerak dan berubah bentuk.

Tradisi spiritual dari berbagai budaya, seperti konsep prana dalam Hindu, chi dalam Taoisme, dan ruh dalam Islam– mengacu pada gagasan bahwa energi hidup mengalir melalui setiap aspek kehidupan. Hal ini menciptakan ketersambungan antara dimensi fisik dan metafisik, seperti tesis yang diajukan Tesla. Al-Qur’an menegaskan bahwa seluruh ciptaan Allah berasal dari energi kosmik yang melampaui fisik: “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan sia-sia.”(QS. Sad: 27).

Frekuensi dan Resonansi sebagai Simfoni Ilahi

Setiap elemen di alam semesta bergetar pada frekuensinya menciptakan resonansi yang membangun struktur kosmos. Dalam fisika, konsep ini tercermin dalam gelombang elektromagnetik dan resonansi mekanik. Dari sudut pandang spiritual, resonansi ini adalah pengejawantahan kehendak Allah yang menyatukan alam semesta. Vibrasi primordial, seperti suara ritme dzikir, mengingatkan pada hakikat penciptaan melalui firman Allah: “Kun fayakun” (Jadilah, maka jadilah dia) (QS. Yasin: 82). Frekuensi ini bukan hanya soal fenomena teknis, tetapi juga harmoni kosmik yang dapat ditemukan melalui pemahaman terhadap pola-pola alam semesta.

Getaran sebagai Manifestasi Kehidupan

Dalam Fisika Kuantum, partikel sub-atom terus bergerak dan bergetar, bahkan pada suhu terendah sekalipun. Dalam biologi, detak jantung manusia adalah ritme getaran yang menunjukkan keberlangsungan hidup. Hadis Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang “ritme” kehidupan dalam zikir: “Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dan orang yang tidak mengingat-Nya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari).

Dzikir adalah cara manusia menyelaraskan diri dengan getaran Ilahi, melampaui batas material dunia. Tradisi spiritual lainnya, seperti meditasi atau dzikrullah, menggunakan vibrasi suara untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Harmoni Semesta

Nikola Tesla tidak hanya memprovokasi pemikiran ilmiah, tetapi juga membuka pintu refleksi mendalam tentang tempat manusia dalam semesta — dengan memahami energi, frekuensi, dan getaran, kita tidak hanya mengungkap fenomena fisik tetapi juga menyentuh inti spiritualitas universal.  Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi…” (QS. Yunus: 101).

Pendekatan sains, Perennialisme, memberikan lensa multidimensional untuk melihat alam semesta sebagai jaringan harmoni, di mana manusia adalah bagian tidak terpisahkan. Tesla, melalui pandangannya, menunjukkan bahwa memahami energi dan vibrasi tidak hanya memiliki aplikasi teknologi, tetapi juga membawa manusia pada kesadaran lebih tinggi, menyatu dalam simfoni kosmik yang hanya dapat dirasakan dengan jiwa.

Masih terkait Cahaya– dalam keajaiban fertilisasi/pembuahan, terdapat fenomena yang jarang kita sadari: kilatan seng atau zinc spark. Saat sperma berhasil memasuki ovum, ion-ion seng dilepaskan dari sel telur, menciptakan kilatan cahaya mikroskopis– ini bukan sekadar reaksi kimia, melainkan tanda awal kehidupan baru.

Temuan fenomenal di laboratorium Northwestern University oleh Teresa Woodruff beserta timnya, termasuk Alison McGinnisyang mengintip melalui “jendela” dunia mikroskopis, berhasil menguak misteri dan keajaiban penciptaan. Apa yang mereka saksikan pada 2016 kala itu, bukan hanya sebuah ritus biologis; melainkan penemuan yang jelas mengubah cara kita memahami asal-usul kehidupan.

Kilatan seng/zincadalah simbolisasi awal perjalanan setiap manusia. Cahaya itu seolah berkata bahwa kehidupan dimulai dengan sinar harapan, energi, dan potensi tidak terbatas. Dibalik proses biologis ini, ada pesan mendalam: kita adalah keajaiban sejak detik pertama keberadaan.

Kita dilahirkan dari percikan Cahaya yang mengingatkan bahwa hidup adalah anugerah luar biasa. Fenomena ini mengajarkan kita untuk menghargai setiap langkah perjalanan hidup, sebagaimana kehidupan kita dimulai dengan secercah sinar kecil namun begitu sangat bermakna. (habis)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Komputer Universitas Indonesia

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *