Oleh: Benz Jono Hartono*
Di suatu masa yang sangat jauh sebelum manusia mengenal sejarahnya sendiri, ada satu makhluk yang dikenal sebagai ahli ibadah paling tekun di antara makhluk-makhluk Tuhan. Dia bukan Malaikat, tetapi kedudukannya hampir sejajar dengan mereka karena ketekunannya bersujud. Makhluk itu adalah Iblis.
Beribu-ribu tahun dia bersujud. Beribu-ribu tahun dia memuji. Beribu-ribu tahun dia berdiri dalam ketaatan yang tampak sempurna. Langit mengenalnya sebagai makhluk yang tekun. Para Malaikat mengenalnya sebagai makhluk yang rajin beribadah — namun sejarah langit berubah hanya oleh satu perintah.
Ketika Tuhan menciptakan Adam, manusia pertama — Tuhan memerintahkan seluruh makhluk yang berada di hadapan-Nya untuk bersujud sebagai penghormatan kepada ciptaan baru itu. Para Malaikat, yang tidak pernah membantah kehendak Tuhan, langsung bersujud. Langit dipenuhi gerakan sujud. Seluruh makhluk tunduk dalam kepatuhan. Tetapi di tengah lautan sujud itu, satu makhluk tetap berdiri.
Dia adalah Iblis, dia tidak bergerak, dia tidak tunduk, dan tidak bersujud — dengan keberanian yang bercampur kesombongan, Iblis berkata kepada Tuhan: “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api — sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah.
Satu kalimat, hanya satu kalimat, tetapi kalimat itu mengandung racun yang paling berbahaya di alam semesta: kesombongan. Iblis tidak menolak Tuhan, dia tidak berhenti mengakui keberadaan Tuhan. Dia bahkan masih berbicara langsung dengan Tuhan, namun dia menolak kehendak Tuhan. Di situlah kejatuhan itu terjadi. Langit yang dulu memuliakannya kini menjadi saksi pengusirannya.
Tuhan murka. Iblis yang dahulu dekat dengan Tuhan diusir dari kemuliaan langit. Dia turun bukan sebagai makhluk yang dimuliakan, tetapi sebagai makhluk yang dilaknat hingga hari kiamat — dan pada suatu kisah yang sering dilupakan manusia, Iblis pernah menangis. Dia berdiri di depan pintu langit yang telah tertutup baginya. Dia menangis, tetapi tangisan itu bukan karena takut masuk neraka, bukan pula karena menyesal kehilangan surga.
Iblis menangis karena satu kesadaran yang datang terlambat: Dia telah melampaui batas atas kehendak Tuhan. Dia menyadari sesuatu yang tidak pernah dia sadari ketika kesombongan menguasai dirinya: kesombongan adalah hak Tuhan semata. Hanya Tuhan yang berhak menyatakan keagungan-Nya. Hanya Tuhan yang berhak memiliki kebesaran mutlak. Makhluk, betapapun tinggi kedudukannya, tidak pernah memiliki hak itu, tetapi Iblis telah mencoba mengambilnya. Dan sejak saat itulah sejarah manusia dimulai dengan satu pelajaran besar: Bahwa ibadah yang panjang tidak menjamin keselamatan bila di dalam hati tumbuh kesombongan. Bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak berarti apa-apa jika seseorang mulai merasa dirinya lebih tinggi daripada kehendak Tuhan.
Iblis adalah makhluk yang pernah sangat dekat dengan langit, tetapi dia jatuh bukan karena kurang ibadah, dan dia jatuh karena sombong. Dan di depan pintu langit yang tertutup itu, tangisannya menjadi saksi bagi seluruh makhluk: bahwa kehancuran terbesar tidak datang dari dosa yang kecil, tetapi dari kesombongan yang membuat makhluk merasa lebih benar daripada Tuhan. Itulah tangisan Iblis di depan pintu langit. Tangisan seorang makhluk yang terlambat memahami bahwa di hadapan Tuhan, tidak ada yang lebih mulia selain ketaatan — dan tidak ada dosa yang lebih berbahaya daripada kesombongan.
*Praktisi Media Massa, Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat, dan Executive Director Hiawatha Institute
Editor: Jufri Alkatiri
