Renungan Dino Jemuwah : Lailatul Qadar, Perjalanan Metafisik dan Asketik, Sipiritualme dan Mistisme; Melampaui Waktu dan Ruang (bag-1)

Oleh: Anwar Rosyid Soediro*

Istiftah

Lailatul Qadar  (Malam Ketetapan), Al-Qur’an surat Al-Qadar ayat 1-5 menjelaskan peristiwa quantum leap menembus ruang dan waktu lebih baik dari 1000 bulan, dengan puasa menyelaraskan ritme manusia dengan siklus langit (matahari/bulan), bertindak sebagai “teknologi asketis” yang mentransisikan individu dari dunia fisik ke alam spiritual yang transenden, sehingga selaras dengan frekuensi  messengers agent (Malaikat dan ruh) memungkinkan pemurnian spiritual, disiplin diri, dan, dalam beberapa tradisi, penyelarasan dengan kesadaran universal atau keilahian.

Semakin dalam menyelami konsep iman kepada malaikat, semakin dalam berpuasa akan menemukan diri sejati terbenam dalam alam keindahan spiritual yang mewujudkan keagungan Sang Pencipta dan menanamkan dalam jiwanya rasa percaya yang mendalam pada hal-hal ilahiyah (spiritual).

Al-Qur’an surat Adh-Dhukhan Allah bersumpah dengan al-Quran yang lafazh dan maknanya jelas, sesungguhnya Kami menurunkannya di malam Qadar, malam yang penuh dengan kebaikan dan keberkahan yang banyak, yang ada di Bulan Ramadhan. Sesungguhnya Kami memberi peringatan kepada manusia tentang apa yang bermanfaat bagi mereka dan apa yang merugikan mereka. Hal itu dengan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab, agar hujjah Allah tegak atas hamba-hamba-Nya.

Di malam itu segala perkara yang pasti mencakup ajal dan rizki dalam setahun itu serta hal-hal lainnya yang terjadi padanya sampai akhir ditetapkan dan dialihkan ke buku-buku para malaikat pencatat dari Lauhul Mahfuzh, tidak diganti dan tidak dirubah.

Keputusan bijaksana itu adalah keputusan dari Kami. Segala apa yang terjadi, maka ia dengan takdir Allah dan apa yang Dia wahyukan, maka ia dengan perintah, izin, dan ilmu Allah.  Sesungguhnya Kami mengutus kepada manusia para rasul, yaitu Muhammad dan para rasul sebelumnya, sebagai rahmat dari Tuhanmu (wahai rasul), kepada kaum yang mana kamu diutus kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar yang mendengar segala suara, Maha Mengetahui segala urusan makhlukNya, yang lahir maupun yang batin.

Dia adalah Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada pada keduanya, bila kalian adalah orang-orang yang meyakini hal itu, maka ketahuilah, bahwa Tuhan seluruh makhluk adalah Sembahan mereka Yang Haq; tiada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Dia semata, tiada sekutu bagiNya, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. Tuhan kalian dan Tuhan nenek moyang kalian yang terdahulu, maka sembahlah Dia, bukan tuhan-tuhan yang tidak kuasa mendatangkan manfaat dan mudarar.

Mengeksplorasi gagasan fenomena ruang-waktu, khususnya bilokasi dalam tradisi keagamaan dan mistik Islam dan Sufisme untuk memahami kebenaran spiritual yang lebih dalam dan implikasinya terhadap keterkaitan ranah material dan metafisik.

Analisis Hermeneutika  dan Fenomenologi telah digunakan untuk memahami kompleksitas bilokasi (Waktu dan Ruang) dengan pemeriksaan komprehensif terhadap teks-teks kitab suci, dan catatan sejarah tentang spiritualitas, asketisme, dan mistisisme untuk mengungkap realitasnya.

Temuan menunjukkan bahwa waktu dan ruang; bilokasi dengan kesadaran kolektif mengganggu dan melampaui pengalaman hidup biasa. Lebih jauh lagi, dengan mengintegrasikan wawasan dari agama-agama komparatif dan psikologi transpersonal, penelitian ini memperkuat studi ilmiah tentang agama di bawah interpretasi mistik tubuh fisik.

Setiap makhluk bernama manusia hidup dalam realitas luar biasa memiliki diri batin pribadi dan individualnya yang mencakup banyak nama dan definisi seperti cahaya, energi, jiwa, roh, atau komunikasi.

Terkadang, hidup dalam batasan ruang dan waktu dunia yang diakomodasi, tubuh fisik kita tetap terhubung atau terputus karena sibuk. Setiap kali batin kita mulai belajar atau mencari kebenaran atau informasi tentang kebenaran dalam hal pengetahuan, kita mengklasifikasikannya sebagai perjalanan spiritual yang mengatakan bahwa untuk percaya kepada Allah, Tuhan, Baghwan, atau hal gaib lainnya, tidak ada paksaan untuk menjadi Muslim, Hindu, Kristen, Yahudi, atau penganut sistem kepercayaan apa pun, apa pun atau siapa pun dalam seluruh sistem universal dapat menemukan kebenaran tertinggi, jadi untuk menjadi orang spiritual tidak ada paksaan untuk terhubung dengan sistem kepercayaan apa pun, ini merupakan tahap pertama.

Pada tahap kedua, setiap makhluk hidup, atau tubuh fisik apa pun, yang memiliki jiwa, harus hidup di dunia kehidupan yang ditentukan atau ruang yang dibangun seperti rumah. Kita selalu menemukan orang-orang yang sudah ada di sekitar kita ketika kita datang ke dunia ini, leluhur berbagi perjalanan batin kesadaran kolektif mereka, tradisi kepercayaan, kitab suci, atau ritual yang diajarkan kepada kita. Kita diajarkan sistem kepercayaan atau keyakinan yang sudah ada sebagai agama untuk mengidentifikasi agama kita di antara semua agama lain.

Pada tahap ketiga, penyalaan jalan spiritual selaras dengan agama yang dianut oleh manusia (jiwa+tubuh) untuk menemukan jawaban metafisik: eksistensi dan identitas, waktu dan ruang, kesadaran dan pikiran, kehendak bebas dan determinisme, makna dan tujuan, realitas dan tujuan, pertanyaan moral dan etika, hubungan dan keterkaitan.

Makalah ini bertujuan untuk mengeksplorasi jawaban metafisik seputar waktu dan ruang (bilokasi) di bawah formula yang ditetapkan oleh agama (Islam) dan ilmu agama (spiritualitas, estetisisme, mistisisme, Sufisme) untuk menemukan jalan melampaui waktu dan ruang. (bersambung)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, dan Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *