Renungan Dino Jemuwah:  Lailatul Qadar Perjalanan Metafisik dan Asketik, Spiritualisme, serta  Mistisme Melampaui Ruang dan Waktu (bag-3)

Oleh: Anwar Rosyid Soediro*

Latihan Pernapasan untuk Perjalanan Waktu

Itikaf (dzikir kontemplasi) — untuk memperkuat tubuh dengan laku jiwa, dalam hal ini ilmu pernapasan sangat penting. Napas manusia berosilasi terus menerus antara kesadaran (terjaga) dan ketidaksadaran (tidur) yang beroperasi dalam rentang tertentu. Dalam ketidaksadaran, siklus pernapasan selesai. Jika terganggu, orang tersebut akan mati.

Para pertapa menjaga siklus pernapasan dalam ketidaksadaran dan mencegah aktivitas apa pun dalam kesadaran guna meningkatkan kehidupan mereka. Semakin terkendali napas, semakin kuat alam bawah sadar. Selain itu, pernapasan yang berkepanjangan mengurangi hambatan dalam mimpi dan mimpi mulai muncul lebih sering.

Menurut Sufisme, hanya ada satu alam bawah sadar yang meliputi seluruh alam semesta: masa lalu, masa kini, dan masa depan, ketiga periode waktu tersebut ada di dalamnya, tetapi tabir perantara tidak dapat ditembus tanpa usaha dan disiplin manusia. Semakin kuat kecenderungannya terhadap asketisme (Zuhud) semakin kuat pula alam bawah sadarnya terutama saat menjalankan laku puasa. Allah SWT telah berfirman dalam hdits qudsy; Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda (bahwa Allah berfirman): “Untuk setiap amal kebaikan yang dilakukan oleh anak Adam, ia akan mendapat pahala sepuluh kali lipatnya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku akan memberi pahala untuknya”. (HR. Bukhari No. 1761 dan Muslim No. 1946).

Dengan mengadopsi ketakwaan akan memperkuat alam bawah sadar. Semakin banyak ketakwaan yang diadopsi seseorang, semakin kuat alam bawah sadarnya untuk menembus tabir dan halangan dalam penemuan ruang-waktu. Seperti “Tidur” adalah tabir dan tidak ada seorang pun yang melihat di balik tabir ini, padahal sebenarnya, saat tidur adalah keadaan lupa yang menyelimuti manusia dari segala sisi, dan menjadi penghalang antara Tuhan dan hamba-Nya.

Kita berjalan di bawah naungan tidur, mengira kita terjaga, tetapi sejatinya Taqwa membuat kita sadar bahwa setiap tindakan, kata, dan pikiran kita memiliki implikasi dan konsekuensi yang mendalam. Dalam memandang segala aspek kehidupan, taqwa menjadi panduan yang membantu kita untuk membuat keputusan yang baik dan menjalani hidup dengan integritas.

Tetap Terjaga: Landasan untuk Menembus Empat Ruang Tidur

Untuk menembus tabir ini, seseorang harus berlatih untuk tetap terjaga, kewaspadaan terus-menerus mengikis lapisan tidur dari mata. Para utusan dan orang suci mempertahankan pola pikir sentralitas ilahi untuk memperoleh keadaan pikiran ini, percaya bahwa hubungan mereka dengan segala sesuatu dimediasi semata-mata melalui Allah, bukan secara langsung dengan objek itu sendiri.

Konsep “ruang” dalam kognisi — manusia mengacu pada tabir ketidak-sadaran (tidur) di dalam pikiran. Ini terdiri dari empat alam yang berbeda: satu gelap dan ruang di balik kegelapan, dan satu terang dan ruang di balik penerangan; totalnya empat ruang. Untuk mencapai penguasaan atas keempat ruang tersebut, seseorang berkembang dari persepsi di dalam kegelapan ke balik penerangan melalui kebangkitan, secara bertahap memperluas kendali atas 24, 48, 72, dan 84 jam, biasanya mencapai penguasaan setelah 72 jam.

Keempat ruang ini muncul secara terpisah dari tabir pikiran, berisi fragmen masa depan yang secara bertahap dihubungkan oleh individu, membentuk makna yang koheren dari waktu ke waktu. Konsep ruang dan waktu adalah aspek fundamental dari kehidupan manusia yang mempengaruhi hampir setiap aspek dari pengalaman kita.  Dari perspektif fisika hingga psikologi dan budaya, pemahaman tentang ruang dan waktu membantu kita mengatur kehidupan sehari-hari dan berinteraksi dengan dunia di sekitar kita. Melalui pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana ruang dan waktu mempengaruhi kita, kita dapat meningkatkan cara kita berfungsi dalam berbagai konteks.

Dalam fisika  ruang dan waktu tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dalam apa yang dikenal sebagai ruang-waktu. Konsep ini menjelaskan bahwa perubahan dalam satu dimensi dapat mempengaruhi dimensi lainnya, seperti bagaimana percepatan atau gravitasi dapat mempengaruhi bagaimana waktu dirasakan.

Dari sudut pandang psikologi, ruang dan waktu berperan dalam membentuk persepsi manusia terhadap lingkungan. Persepsi ruang mempengaruhi bagaimana kita mengatur dan berinteraksi dengan objek di sekitar kita, sedangkan persepsi waktu mempengaruhi cara kita merencanakan dan mengingat peristiwa. Konsep ruang dan waktu juga memiliki dimensi budaya dan sosial yang signifikan.

Berbagai budaya memiliki cara unik dalam memahami dan mengatur ruang serta waktu. Misalnya, beberapa budaya mungkin menganggap waktu sebagai siklus yang berulang, sedangkan yang lain melihatnya sebagai garis lurus yang maju. (bersambung)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *