Pesan Magis Hariman Siregar di Penghujung Ramadhan 1447 Hijriyah

Oleh: Toto Izul Fatah*

Menutup Ramadhan dengan Buka Bersama memang bukan tradisi baru buat Hariman Siregar. Tokoh Malari yang populer sebagai “Bapaknya para aktivis nasional ini” — agak berbeda dari tradisi-tradisi sebelumnya dalam mengakhiri Ramadhan 1447 H kali ini. Ditengah suasana publik yang makin gaduh, keras,  dan bising oleh berbagai isu baik nasional maupun global, buka bersama kali ini diwarnai pesan magis yang berbalut aroma spiritual.  “Kondisi bangsa yang sedang tidak baik-baik saat ini, jangan membuat kita kehilangan silaturahmi dan spirit berbagai. Mari kita jaga semangat berbangsa lewat ketulusan hati untuk terus berjuang,”, demikian kalimat singkat yang keluar dari Bang Hariman beberapa saat sebelum Adzan Magrib tiba.

Hadir pada kesempatan itu, cendekiawan muslim, Prof Yudi Latif, para aktivis dan sejumlah wartawan senior. Apa yang disampaikan Bang Hariman itu, memang terasa bukan sekadar nasihat Ramadhan – tetapi panggilan moral. Intinya sederhana, namun mendasar: pentingnya menjaga silaturahmi, semangat berbangsa  dan merawat semangat berbagi.

Kesederhanaan pesan itu justru menunjukkan kedalamannya — sebab dalam kehidupan berbangsa hari ini, yang paling banyak hilang bukan hanya keteladanan, tetapi juga kehangatan. Kita hidup di zaman ketika orang mudah terhubung, tetapi sulit benar-benar dekat. Mudah berdebat, tetapi sulit memahami. Mudah menghakimi, tetapi pelit Empati.

Dalam suasana seperti itu, seruan untuk menjaga silaturahmi sejatinya adalah ajakan untuk menyelamatkan fondasi etika sosial bangsa ini. Pesan itu menjadi jauh lebih bermakna karena datang dari sosok yang memiliki bobot moral dan jejak sejarah yang kuat. Bang Hariman Siregar bukan sekadar Tokoh Malari yang tercatat dalam buku sejarah sebagai simbol keberanian mahasiswa melawan ketimpangan dan ketidakadilan. Dia juga dikenal luas sebagai figur yang tetap hidup di tengah masyarakat, menjadi tempat orang datang mengadu, meminta pandangan, mencari jalan keluar, bahkan sekadar menitipkan keluh kesah.   Yang datang kepadanya bukan hanya mereka yang membawa soal-soal kebangsaan dan kenegaraan, tetapi juga orang-orang yang memikul beban pribadi, persoalan keluarga, kesulitan hidup, bahkan kegelisahan batin. Itu artinya, Hariman bukan hanya tokoh gerakan dalam pengertian politik, melainkan juga simpul kepercayaan sosial.

Dalam banyak hal, posisi seperti itu jauh lebih penting daripada sekadar jabatan formal. Sebab orang yang dijadikan tempat mengadu sesungguhnya sedang memikul amanah kemanusiaan. Dia menjadi semacam rumah moral bagi banyak orang.  Di tengah krisis keteladanan hari ini, figur seperti Hariman Siregar menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati bukan pertama-tama soal kuasa, melainkan soal ketersediaan diri untuk mendengar, menampung, dan peduli.

Spirit yang sama disampaikan Prof. Yudi Latif yang  menghadirkan dimensi lain yang tidak kalah penting: kedalaman intelektual dan keluasan pandangan kebangsaan. Dari Yudi Latif, publik terbiasa mendengar bahwa agama, kebudayaan, dan kebangsaan bukanlah ruang yang harus dipertentangkan, melainkan harus dipertemukan dalam satu horizon etik: memuliakan manusia dan menjaga Indonesia sebagai rumah bersama. Ketika Yudi berbicara tentang silaturahmi dan semangat berbagi, dia tidak sedang menyampaikan pesan klise keagamaan. Dia sedang menegaskan bahwa kualitas spiritual seseorang baru berarti bila berbuah dalam hubungan sosial yang sehat dan dalam keberpihakan kepada sesama.

Karena itu, pesan dua tokoh tersebut sesungguhnya menampar keadaan kita hari ini. Negeri ini tampak semakin kehilangan ruang-ruang batin untuk saling merawat. Politik terlalu sering mengajarkan persaingan, bukan persaudaraan. Ekonomi terlalu sering melatih akumulasi, bukan distribusi. Media sosial terlalu sering memproduksi sensasi, bukan solidaritas. Dalam iklim seperti ini, silaturahmi lalu direduksi menjadi seremoni, sementara berbagi kerap dipersempit menjadi aksi musiman yang miskin makna.

Padahal silaturahmi bukan urusan ringan. Dia adalah infrastruktur sosial bangsa. Silaturahmi menjaga bangsa ini tetap punya urat nadi kemanusiaan. Tanpa silaturahmi, masyarakat akan mudah pecah ke dalam kelompok-kelompok yang saling curiga. Tanpa silaturahmi, perbedaan akan cepat berubah menjadi permusuhan — dan tanpa silaturahmi, demokrasi akan kehilangan adabnya karena ruang publik hanya diisi oleh suara paling keras, bukan oleh suara paling bijak.

Begitu pula dengan berbagi. Berbagi bukan sekadar amal karitatif, lalu selesai. Berbagi adalah bentuk paling konkret dari pengakuan bahwa hidup ini tidak boleh dikuasai oleh ego. Berbagi berarti menolak menjadi manusia yang kenyang sendiri di tengah banyak orang lapar. Berbagi berarti menolak bahagia sendirian di tengah banyak orang sedang memikul luka. Berbagi berarti menegaskan bahwa harta, ilmu, pengaruh, jabatan, bahkan waktu dan perhatian, semuanya mengandung tanggung jawab sosial.

Dari sini kita memahami, mengapa pesan Hariman Siregar dan Yudi Latif terasa penting untuk dicatat — karena keduanya datang bukan dari ruang kosong. Hariman membawa otoritas moral seorang pejuang yang sejak muda memilih berdiri di sisi nurani publik, dan hingga hari ini tetap menjadi alamat pengaduan banyak orang. Yudi membawa otoritas intelektual seorang pemikir yang terus berusaha menyambungkan nilai-nilai keislaman dengan etika kebangsaan yang berkeadaban. Ketika dua arus ini bertemu dalam satu pesan—jaga silaturahmi, hidupkan semangat berbagi—maka sesungguhnya yang sedang disampaikan adalah resep dasar untuk menjaga kewarasan bangsa.

Apalagi pesan itu disampaikan di hadapan para wartawan senior. Ini penting. Sebab wartawan senior bukan hanya penulis berita, tetapi juga penjaga memori kolektif bangsa. Mereka menyaksikan perubahan zaman, pergantian rezim, lahir dan runtuhnya harapan publik. Maka ketika forum seperti itu diisi oleh seruan tentang silaturahmi dan berbagi, publik patut membacanya sebagai pengingat bahwa bangsa ini tidak boleh terus hidup hanya dengan logika kompetisi.  Dia juga harus diikat oleh logika kepedulian.

Indonesia hari ini tidak hanya memerlukan kecanggihan kebijakan, tetapi juga kedalaman hati. Tidak hanya memerlukan pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan relasi sosial. Tidak hanya memerlukan elite yang pandai berbicara, tetapi juga figur-figur yang bersedia mendengar keluhan rakyat—seperti Hariman Siregar yang tetap menjadi tempat banyak orang mengadu, baik soal negara maupun soal hidup mereka yang paling pribadi.

Pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung-gedung tinggi, melainkan bangsa yang mampu menjaga tali kasih di antara warganya. Dan bangsa yang sehat bukan hanya bangsa yang pertumbuhan ekonominya tinggi, melainkan bangsa yang masih punya rasa ingin berbagi. Dari pesan Bang Hariman Siregar dan Yudi Latif — kita diingatkan kembali bahwa kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada institusi dan kekuasaan, tetapi juga pada silaturahmi yang hidup dan tangan-tangan yang ringan untuk berbagi. Bila dua hal itu mati, bangsa ini akan kehilangan jiwanya — tetapi bila dua hal itu tetap dirawat, Indonesia akan selalu punya harapan.

*Pemerhati Keagamaan dan Sosial Kemasyarakatan. Alumni IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *