Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi, MA*
Bagi masyarakat Muslim Dunia — terkhusus Indonesia, meyakini bahwa puasa Syawwal memiliki makna luar biasa, seolah mereka tengah berpuasa setahun penuh. Keyakinan ini didasari atas hadits nabi yang menyatakan bahwa siapa saja yang berpuasa sebulan penuh selama Ramadhan, kemudian diikuti 6 hari di bulan Syawwal — seolah mereka sedang berpuasa setahun penuh. Puasa Syawwal memang Sunnah, bahkan ada ulama yang menyebutnya Sunnah Mu’akkadah, Sunnah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw. Tradisi ini terus diikuti oleh para sahabat dan muslim sesudahnya hingga kini, termasuk Muslim Indonesia melakukannya.
Biasanya, puasa Syawwal dilakukan sehari atau dua hari setelah Idul Fitri dan mereka baru merayakan Lebaran di hari ketujuh atau kedelapan di bulan Syawwal. Bahkan ada yang melaksanakan sehari puasa kemudian dilanjutkan dua atau beberapa hari sesudahnya. Terpenting masih di bulan Syawwal. Bagi yang berpuasa Sunnah Syawwal pada hari kedua, berarti Sabtu ini mereka akan merayaksn lebaran yang disebut hari rayagung.
Kuliner yang sudah dipersiapkan sejak akhir Ramadhan ditambah kuliner yang baru merekka buat, mereka santap di hari raya ini. Salah satu kuliner yang mereka persiapkan untuk menghadapi Lebaran puasa Syawwal adalah Ketupat. Tradisi Lebaran ini seperti tradisi yang sudah mereka lakukan puluhan bahkan ratusan tahun, sejak tradisi ini diperkenalkan oleh Sunan Kaljaga di tanah Jawa.
Lebaran Ketupat: Perspektif Historis-Filosofis
Tradisi Lebaran Ketupat merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa. Bagi masyarakat Jawa– Lebaran Ketupat merupakan simbol kebersamaan dan kesederhanaan. Di beberapa daerah di Jawa, Lebaran Ketupat dikenal juga dengan istilah Syawalan.
Dilansir dari NU online diketahui bahwa tradisi ini dimulai sejak Sunan Kalijaga memperkenalkan tradisi baru dalam berdakwah. Salah satu tradisi yang dikenal masyarakat Nusantara adalah Selametan — dan Sunan Kalijaga memadukan tradisi tersebut dengan tradisi Lebaran Ketupat, sehingga masyarakat merasa tidak asing lagi tradisi yang baru diperkenalkan Dunan Kalijaga.
Kata Kupat atau Ketupat, menurut budayawan al-Zastrowi berasal dari kata ngaku lepat, artinya mengakui kesalahan — karena itu, saat Lebaran Ketupat harus saling memaafkan kesalahan masing-masing, sehingga pasca-lebaran ketupat, semua kesalahan termaafkan dengan cara makan ketupat secara bersama-sama.
Banyak makna filosofis dari diksi ketupat atau kupat. Bungkus yang terbuat dari janur sebagai simbol penolak bala. Dahulu banyak orang percaya jika ketupat diletakkan di atas pintu depan akan membuat penghuninya selamat. Ketupat diisi dengan beras putih dan ketika matang ketupat berwarna putih sebagai simbol kebersihan jiwa setelah puasa syawal dan lebaran ketupat. Beras sebagai simbol kesejahteraan bagi warga untuk bulan atau tahun berikutnya. Kemudian kerumitan pembuatannya melambangkan kerumitan hidup dan hanya bisa diselesaikan dengan salibg memaafkan dalam lebaran ketupat.
Tradisi Lebaran Ketupat ini dilakukan oleh generasi keturunan Jawa, seperti Banjarmasin, Gorontalo, selain di daerah Jawa sendiri. Selain itu, dahulu juga pernah dilakukan oleh komunutas etnis Betawi di Jabodetabek tetapi sekarang sudah jarang dan mungkin juga sudah tidak dilakukan. Dengan demikian bisa dipahami bahwa tradisi yang dahulu pernah diceritakan Sunan Kalijaga hingga kini masih tetap dilakukan oleh generasi muslim, terutama di Jawa dan sekitarnya.
*Profesor Sejarah dan Peradaban. Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
