Oleh: Jefri Dwi Kurnia*
Perkembangan peradaban manusia — Era kolonialisme dan imperialisme yang semakin pesat diiringi dengan peningkatan upaya manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan dasar yang krusial diproduksi dalam skala massal untuk menjawab permasalahan tersebut. Hal ini mendorong manusia untuk menciptakan sistem manufaktur yang masif dan ekspansif yang ditandai dengan kemunculan industrialisasi moderen seperti yang kita kenal saat ini — Artificial Intelligence atau AI.
Sejak awal kemunculannya pada tahun 1760-an, Gerakan Revolusi Industri telah mengubah arah cara hidup manusia yang pada kurun waktu tersebut masih mengandalkan hasil pertanian kemudian semakin bergeser menjadi industri. Sistem industri telah berevolusi semakin canggih hingga abad ke-21 dan lebih cenderung mengandalkan teknologi.
Sebelum implementasi sistem industri berbasis teknologi seperti yang kita kenal sekarang, sejarah industri dimulai dari penemuan mesin uap oleh James Watt untuk memudahkan proses manufaktur. Sistem yang sudah berjalan kemudian diperbaiki dan disempurnakan supaya lebih efisien dan murah. Revolusi Industri tahap kedua menekankan pada efisiensi proses tansportasi yang ditandai dengan penemuan “ban berjalan”. Pada setiap perubahan sistem industri, fokusnya selalu pada mencapai proses produksi yang efektif dan efisien.
Pada Revolusi Industri ketiga == mulai diperkenalkan teknologi mutakhir yaitu komputer dan robot karena dinilai bisa mempercepat aktivitas industri. Penemuan ini dirasa sangat bermanfaat karena tidak hanya bermanfaat di bidang industri tetapi juga di bidang informasi. Transformasi teknologi yang begitu cepat juga berdampak pada pengembangan industri seperti yang sedang terjadi sekarang ini.
Revolusi Industri 4.0 — semakin mempertebal peran teknologi untuk melakukan tugas manusia melalui teknologi otomatisasi. Peran manusia semakin menyempit dan tenaga kerja terlatih semakin terhimpit. Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan pasti akan terjadi. Belum selesai dengan tantangan Revolusi Industri 4.0, sekarang muncul lagi tantangan yang lebih berat bagi tenaga kerja manusia. Revolusi Industri 5.0 — menekankan pada penggunaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang secara fungsi lebih canggih dengan maintenance yang lebih murah.
Hal itu tidak perlu ditanggapi dengan ketakutan dan kekhawatiran. Pada dasarnya, manusia telah teruji dengan tantangan yang muncul dari perkembangan teknologi. Contohnya, saat kemunculan kalkulator sebagai teknologi alat bantu perhitungan, bagi mereka yang mau belajar dan meningkatkan kemampuan mereka, maka hal tersebut bukanlah sebuah ancaman.
Begitu juga saat kemunculan perangkat lunak keluaran Microsoft yaitu Microsoft Excel, yang mampu menyelesaikan persoalan akuntasi ribuan baris dan kolom hanya dengan formula sederhana, itu juga bukan sebuah ancaman. Toh buktinya saat ini kita sedang menggunakan dan bahkan skill menggunakan Microsoft Excel menjadi syarat dasar bagi rekrutmen karyawan baru. Artinya teknologi sehebat apapun tidak menjadi masalah selama disikapi sebagai sebuah tantangan yang harus ditaklukkan bukan ancaman yang menakutkan.
Begitu juga dengan fenomena kemunculan AI yang tengah booming saat ini — dapat menjadi alat bantu yang justru bisa memudahkan pekerjaan. Penggunaan AI praktis telah dimanfaatkan di berbagai bidang kehidupan contohnya deteksi kanker melalui penggunaan deep learning dengan metode Convolutional Neural Network (CNN) yang memproses data berdasarkan gambar hasil pemeriksaan CT Scan guna memprediksi pertumbuhan sel kanker sehingga deteksi dini bisa mencegah penyebaran kanker menjadi lebih ganas. Masih banyak lagi bidang kehidupan yang terbantu dengan pemanfaatan teknologi AI ini.
Pada akhirnya, teknologi AI memang menantang bagi manusia — namun perlu dipahami, bahwa ancaman AI yang dikhawatirkan akan menggantikan posisi tenaga kerja manusia dalam pekerjaan adalah tidak benar. Justru — inilah peluang terbaik untuk kolaborasi sinergis antara manusia dan teknologi. Bagi mereka yang menganggap AI adalah ancaman — boleh jadi adalah para comfort zoners, yang malas untuk belajar lagi, enggan untuk melakukan aktualisasi diri, dan telah larut pada apa yang dimiliki — karena sesungguhnya hakikat manusia adalah untuk berkembang — untuk menjadi lebih baik dan tidak alergi terhadap revolusi.
*Sarjana Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang dan Pekerja Kantoran yang Memiliki Hobi Menulis
Editor: Dikara Maetri Pradipta Alkarisya
