Oleh: Toto Izul Fatah*
Dalam salah satu hukum tua sejarah kekuasaan — semakin tinggi kesombongannya — semakin dekat dengan kejatuhannya. Itulah sinyal kuat yang, sepertinya, akan segera di alami Presiden Amerika Serikat Donald Trump — meski belum jatuh beneran, tetapi dia sedang gencar menabung kejatuhan. Kekuasaan Trump yang begitu perkasa lambat laun sedang menuju senjakala.
Trump yang semula ingin tampak menjadi manusia kuat yang lebih besar dari konstitusi, lebih keras dari hukum, lebih berani dari sejarah, ternyata tinggal menunggu waktu menuju kehancuran otoritasnya. Hari demi hari, Trump terus mengalami defisit kepercayaan dan kerontokan kekuasaan.
Trump tidak sadar, sejarah membuktikan, banyak kekuasaan runtuh bukan karena serangan musuh dari luar, melainkan karena arogansi dari dalam — yaitu, ketika seorang pemimpin terlalu percaya diri sehingga bebas berbuat sesuka hati. Dalam kontek ini, Trump potensial jatuh dari keduanya, serangan musuh dari luar dan arogansi dari dalam.
Sekali lagi — Trump tidak belajar dari satu pelajaran paling tua dalam sejarah kekuasaan, bahwa kesombongan selalu membawa penguasa ke tepi kehancuran. Jauh sebelum Masehi, misalnya, sejarah keagamaan menaruh Fir’aun sebagai lambang paling telanjang dari kuasa yang mabuk kekuasaan. Sesudah Masehi — sejarah politik dunia memperlihatkan bagaimana para penguasa Romawi dan akhirnya Kekaisaran Romawi sendiri retak oleh watak yang hampir sama — yaitu, merasa terlalu besar untuk dibatasi, terlalu agung untuk dikoreksi, dan terlalu kuat untuk dijatuhkan.
Di situlah Trump tampak sedang berjalan di jalur yang berbahaya itu. Fir’aun bukan sekadar nama, melainkan simbol. Dalam tradisi keagamaan, dia dikenang bukan karena kebijaksanaan, melainkan karena kesombongan yang mencapai puncak. Kuasa baginya bukan amanah, tetapi alat untuk menundukkan, memaksa, dan mempertontonkan keagungan diri. Dia merasa dirinya pusat dari segala-galanya dan justru ketika seorang penguasa mulai mengira dirinya pusat semesta, pada saat itulah dia sedang menyiapkan panggung bagi kejatuhannya sendiri.
Trump memperlihatkan watak yang mengingatkan pada pola lama itu — dia menjadikan kekuasaan sebagai pertunjukan ego dan tontonan arogansi. Dia tidak cukup hanya berkuasa; dia ingin tampak paling kuat, paling ditakuti, paling menentukan arah dunia. Dalam soal Iran, misalnya, beberapa hari terakhir Trump bergerak dari ancaman keras, pengeboman, klaim “kemenangan total”, sampai menerima gencatan senjata dua pekan yang bahkan masih rapuh dan dipenuhi tafsir berbeda.
Reuters melaporkan bahwa perang ini justru meninggalkan ketidakpastian baru. Misalnya, Selat Hormuz yang belum sepenuhnya normal, sementara Iran masih memegang daya ungkit, dan Washington tampak masih berlum berdaya. Inilah tanda pertama dari pemimpin yang mulai terperangkap oleh bayangan dirinya sendiri. Dia makin keras dalam bahasa, tetapi makin kabur dalam hasil. Dia ingin dikenang sebagai pemenang, tetapi realitas tidak selalu patuh pada naskah pidatonya — Dia ingin dunia melihat ketegasan, tetapi yang tampak justru kegelisahan.
Reuters juga mencatat bahwa Trump mendorong sekutu-sekutu NATO segera ikut menanggung komitmen di Hormuz, sementara sebagian sekutu Eropa justru menekankan diplomasi dan khawatir aliansi pecah akibat perang AS-Iran. Dari sini, pelajaran Romawi menjadi relevan. Kekaisaran Romawi Barat tidak runtuh dalam sehari. Keruntuhannya didahului oleh gejala yang sangat akrab bagi setiap kekuasaan yang membusuk: korupsi pemerintahan, instabilitas politik, konflik elite, tekanan ekonomi, dan ambisi ekspansi yang terlalu berat ditanggung negara.
Trump memang bukan Kaisar Romawi. Amerika pun bukan Roma kuno -tetapi watak dan polanya kurang lebih sama. Di dalam negeri, Trump terus menumpuk ketegangan. Misalnya, lembaga-lembaga ditekan, hukum diperlakukan seperti penghambat, oposisi dimusuhi, dan konflik sosial-politik dibiarkan membesar karena berguna bagi mobilisasi basis.
Di luar negeri, dia mengandalkan ancaman, kejutan, dan tekanan maksimum, seolah dunia dapat terus dipaksa tunduk pada satu kehendak. Padahal sejarah sudah berkali-kali membuktikan, penguasa yang terlalu lama memerintah dengan ego, akhirnya akan berhadapan dengan tembok realitas.
Fir’aun mengajarkan bahwa kesombongan membuat seorang pemimpin buta pada batas. Romawi mengajarkan bahwa imperium sebesar apa pun bisa hancur ketika keretakan di dalam dibiarkan menjadi watak. Dan Trump hari ini tampak memelihara dua-duanya sekaligus: kesombongan personal dan kecenderungan meretakkan institusi. Itulah sebabnya, ancaman terbesar bagi Trump sesungguhnya bukan hanya lawan politiknya. Bukan Demokrat — bukan media, bukan bahkan Iran. Ancaman terbesar bagi Trump adalah dirinya sendiri—naluri arogannya, kebiasaannya memerintah dengan ledakan, dan keyakinannya bahwa kekuasaan pribadi bisa terus mengungguli akal sehat, hukum, dan sejarah.
Semua pemimpin sombong mempunyai kesalahan yang sama — bahwa mereka mengira kejatuhan hanya milik orang lain. Fir’aun merasa dirinya terlalu tinggi untuk ditumbangkan. Penguasa Romawi merasa imperiumnya terlalu besar untuk roboh tetapi sejarah tidak pernah tunduk pada kesombongan. Dia justru paling keras menghukum mereka yang merasa kebal. Sayang sekali, Trump tidak belajar sejarah, atau jangan-jangan Trump memang tidak mengerti Sejarah — termasuk, sejarah Fir’aun, dan Romawi.
*Toto Izul Fatah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat
Editor: Jufri Alkatiri
