Oleh: Anwar R. Soediro*
Christianity: Tindakan Ilahi di Dunia Kuantum
Umat Kristen memiliki sejarah panjang dalam berinteraksi dengan sains masa kini, mulai dari kaum Skolastik yang menyelaraskan diri dengan fisika Aristoteles hingga para Teolog kontemporer yang mendalami relativitas dan teori kuantum. Perhatian utama dalam Teologi Kristen adalah bagaimana Tuhan berinteraksi dengan dunia, bagaimana memahami mukjizat, pemeliharaan, dan jawaban doa berdasarkan hukum alam.
Pada abad ke-20 dan ke-21, banyak Teolog dan ilmuwan Kristen (yang sering bekerja sama dalam bidang sains dan agama) telah beralih ke mekanika kuantum sebagai konteks yang menjanjikan bagi tindakan Tuhan. Daya tariknya adalah bahwa fisika kuantum, sebagaimana telah kami jelaskan, melunakkan batasan Determinisme.
Fisika kuantum menciptakan celah ketidakpastian di mana, secara potensial, Tuhan dapat bertindak tanpa terdeteksi. Idenya bukanlah untuk mereduksi Tuhan menjadi sekadar gaya kuantum, melainkan untuk mengusulkan bahwa modus operandi Tuhan untuk mengatur alam secara halus mungkin melalui pemilihan hasil kuantum (sebagaimana dibahas sebelumnya) atau memengaruhi fluktuasi kuantum dengan cara yang tepat untuk mencapai tujuan ilahi.
Hal ini telah diartikulasikan dalam apa yang disebut tindakan ilahi objektif non-intervensionis; Non-Interventionist Objective Divine Action (NIODA) oleh Teolog Robert John Russell dan lain-lain. Istilah ini terdengar teknis, tetapi mencerminkan persis apa yang telah kita catat: Tuhan bertindak secara objektif di dunia (yang benar-benar menyebabkan peristiwa terjadi), tetapi dengan cara non-intervensionis (tidak menangguhkan atau melanggar pola hukum fisika yang teratur).
Peristiwa kuantum, karena bersifat probabilistik, memungkinkan tindakan semacam ini karena “intervensi” pada tingkat tersebut tidak perlu mengumumkan dirinya dengan melanggar keteraturan alami apa pun itu hanya akan terlihat seperti salah satu dari banyak hasil acak yang diizinkan oleh fisika kuantum.
Fisikawan dan Teolog John Polkinghorne — mantan fisikawan partikel Cambridge yang menjadi pendeta Anglikan, adalah seorang pelopor dalam bidang ini. Ia berpendapat bahwa sains menyajikan kita bukan alam semesta yang mekanis, melainkan alam semesta yang “terbuka” di tepinya, dan bahwa pemeliharaan ilahi dapat bekerja melalui tepi-tepi yang terbuka tersebut.
Bukan hanya ketidakpastian kuantum, tetapi juga teori chaos (ketergantungan sensitif pada kondisi awal) dan bentuk-bentuk keterbukaan lainnya di alam dapat menjadi wahana bagi bimbingan halus Tuhan. Polkinghorne berpendapat bahwa Tuhan tidak mengatur secara mikro dengan cara yang melanggar fisika, melainkan dengan lembut memengaruhi hasil dalam ruang lingkup yang diberikan fisika. Dengan demikian, mukjizat dalam pengertian alkitabiah (seperti Kebangkitan) masih dipandang sebagai kasus khusus dari tindakan Tuhan (mungkin tindakan unik penciptaan baru), tetapi interaksi Tuhan yang biasa yakni membimbing sejarah, menanggapi doa, menopang ciptaan hal ini dapat berlangsung terus-menerus dan tak terlihat, sebagian melalui proses kuantum.
Filsuf Kristen lainnya, Alvin Plantinga membahas dikotomi palsu bahwa Tuhan tidak pernah melakukan mukjizat atau mukjizat mengharuskan pelanggaran hukum fisika yang tidak dapat diganggu gugat. Plantinga menunjukkan bahwa jika teori kuantum benar, “hukum” fisika bersifat statistik dan memungkinkan berbagai hasil.
Jadi, jika Tuhan menyebabkan suatu peristiwa yang sangat tidak mungkin terjadi, itu bukanlah pelanggaran hukum, hal itu hanya memilih salah satu hasil yang diizinkan yang mungkin memiliki probabilitas rendah.
Dari sudut pandang fisika — peristiwa semacam itu bukanlah mustahil; hanya saja jarang terjadi. Namun dari sudut pandang tujuan, Tuhan mungkin memiliki alasan untuk membuat peristiwa langka itu terjadi pada waktu tertentu (misalnya, remisi spontan kanker, yang melibatkan banyak peristiwa molekuler yang secara statistik tidak mungkin, seorang beriman mungkin bisa berkata dengan dibimbing oleh tangan Tuhan yang memastikan peristiwa-peristiwa yang tidak mungkin itu terjadi bersamaan).
Dalam kata-kata Plantinga, peristiwa seperti seseorang yang bangkit dari kematian tidak melanggar hukum kuantum, karena hukum tersebut tidak menentukan hasil yang pasti; hukum tersebut hanya memberikan distribusi, dan sesuatu yang sangat tidak mungkin masih dapat terjadi. Alur penalaran ini memberikan kerangka konseptual di mana mukjizat klasik dan pemeliharaan Tuhan sehari-hari dapat dipahami dalam terang fisika modern.
Alih-alih menumbangkan hukum alam, Tuhan dapat bekerja melalui fleksibilitas yang melekat pada alam. Teologi Kristen juga memasukkan konsep Inkarnasi, yakni, Tuhan memasuki dunia fisik dalam pribadi Yesus, yang dalam ini menambahkan dimensi unik pada diskusi tentang materi dan roh.
Beberapa teolog telah merenungkan apakah sifat kuantum yang seperti informasi dapat memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana roh berhubungan dengan materi. Misalnya, jika kesadaran (seperti yang ditunjukkan oleh beberapa interpretasi mekanika kuantum) memiliki peran dalam perilaku materi, maka kita dapat melihat karya-karya ajaib Kristus sebagai perwujudan kesadaran ilahi dengan otoritas unik atas materi (“Siapakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” tanya para rasul).
Renungan semacam itu bersifat spekulatif, tetapi menggambarkan cara-cara kreatif umat Kristen dalam mengeksplorasi analogi kuantum. Salah satu proyek inter-disipliner penting di akhir abad ke-20 adalah Center for Theology and the Natural Sciences/CTNS tentang “Perspektif Ilmiah tentang Tindakan Ilahi,” yang telah menerbitkan sebuah buku khusus tentang Mekanika Kuantum. Para cendekiawan dari berbagai denominasi berkontribusi dalam diskusi-diskusi ini, menunjukkan minat Kristen yang luas terhadap subjek tersebut.
Tema umumnya adalah bahwa mekanika kuantum tampaknya memungkinkan adanya celah kausal atau zona tak tentu di mana tindakan Tuhan dapat “dimasukkan” tanpa kontradiksi — namun, para pemikir Kristen juga memperingatkan terhadap pendekatan “Tuhan dari celah” yang terlalu sederhana (di mana Tuhan hanya digunakan untuk menjelaskan apa yang saat ini tidak dapat dijelaskan oleh sains).
Sebaliknya, mereka mengusulkan bahwa ini tentang pertemuan kebenaran: jika dunia fisik benar-benar memiliki indeterminisme, dan jika Tuhan benar-benar bertindak dengan kedaulatan, maka secara logis Tuhan dapat aktif dalam proses-proses tak tentu tersebut – dan ini akan terus-menerus benar, bukan hanya sebagai tambalan untuk fenomena yang saat ini tidak dapat dijelaskan.
Lebih lanjut, pandangan Kristen tentang Tuhan bukan hanya sebagai pemberi hukum yang transenden tetapi juga sebagai penopang yang imanen (dalam Perjanjian Baru, “di dalam Dia segala sesuatu bersatu”). Beberapa orang secara puitis menyamakan tindakan berkelanjutan ini dengan stabilitas yang muncul dari peristiwa kuantum yang tak terhitung jumlahnya. Sebagaimana atom hanya stabil sebagai rata-rata dari interaksi kuantum bermiliar-miliar, dapat dikatakan bahwa tatanan dunia adalah hasil dari keterlibatan berkelanjutan Tuhan yang konstan pada tingkat yang sangat kecil.
Ini adalah cara untuk melihat tatanan yang familiar (seperti matahari terbit setiap hari) bukan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan tindakan Tuhan, melainkan sebagai hasil dari tindakan setia Tuhan melalui alam. Mekanika kuantum menambahkan detail pada gambaran tersebut, dengan menunjukkan bahwa di balik matahari terbit yang lembut terdapat tarian kuantum hingar bingar yang dikuasai Tuhan.
Singkatnya, Kekristenan melibatkan mekanika kuantum dengan tujuan memahami tindakan ilahi dengan cara yang melek sains. mKekristenan menghadirkan kosakata konseptual yang kaya: mukjizat, pemeliharaan, Inkarnasi, sakramentalitas (gagasan bahwa benda-benda material dapat menyampaikan rahmat spiritual), dan sebagainya.
Teori kuantum tidak mengesampingkan konsep-konsep ini, tetapi menyediakan lensa baru untuk mengkajinya. Banyak pemikir Kristen menemukan bahwa sains ini memperdalam rasa misteri dan kekaguman akan ciptaan Tuhan, selaras dengan gagasan bahwa ciptaan “diciptakan secara menakjubkan dan dahsyat.” Dengan merangkul ketidakpastian kuantum, umat Kristen membingkai pandangan tentang tindakan Tuhan yang transenden (Tuhan sebagai dasar keberadaan yang memberi realitas keberadaannya) dan imanen (Tuhan hadir secara halus dalam setiap peristiwa kuantum yang membentuk jalinan dunia).
Pandangan yang dinamis dan terkadang paradoks ini mencerminkan paradoks dalam fisika kuantum itu sendiri; gelombang dan partikel, kebebasan dan hukum, peluang dan sebab yang membuat dialog antara keduanya semakin menarik. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Komputer Universitas Indonesia
Editor: Jufri Alkatiri
