Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
Islam: Kausalitas, Qadar, dan Kemungkinan Kuantum
Teologi Islam menawarkan perspektif lain tentang tindakan ilahi, yang secara historis menekankan kedaulatan mutlak Tuhan (kemahakuasaan) dan kontingensi dunia ciptaan. Salah satu mazhab terkemuka dalam Islam Sunni yang diwakili oleh para Teolog seperti Al-Ghazali dan tradisi Asy’ari, menganjurkan fahan filosofis-teologis okasionalisme yang menyatakan bahwa sebab-akibat fisik bukanlah hasil interaksi benda-benda, melainkan intervensi langsung Allah pada saat-saat tertentu.
Sehingga, keyakinan kepada segala sesuatu yang diciptakan tidak memiliki kekuatan inheren untuk menyebabkan peristiwa; melainkan, Tuhan secara langsung menyebabkan setiap kejadian di setiap momen. Dalam pandangan ini, apa yang kita sebut “hukum alam” hanyalah pola kebiasaan tentang bagaimana Tuhan biasanya mengatur fenomena, dan Dia bebas untuk menyimpang dari pola-pola ini kapan saja (yang akan dialami sebagai mukjizat).
Pandangan okasionalis Islam klasik berpendapat bahwa dunia diciptakan kembali setiap saat, dengan atom dan sifat-sifatnya (warna, gerakan, dll.) terus-menerus diciptakan oleh Tuhan. Jika api membakar kapas, itu bukan karena kekuatan api yang independen, melainkan karena Tuhan menciptakan pembakaran ketika api dan kapas bertemu.
Perspektif ini memiliki resonansi yang luar biasa dengan gambaran kuantum tentang realitas. Dalam arti tertentu, peristiwa kuantum yang terjadi setiap saat tidak terduga, tanpa penyebab yang pasti dari momen sebelumnya terdengar seperti gema fisik dari gagasan bahwa Tuhan sedang memilih keadaan dunia dari waktu ke waktu.
Ketidakpastian kuantum, yang menyatakan bahwa suatu hasil tidak dapat dikaitkan dengan penyebab fisik sebelumnya dengan pasti, sangat sesuai dengan gagasan bahwa satu-satunya penyebab sejati adalah kehendak Tuhan. Seperti yang bisa dikatakan: dari sudut pandang okasionalis Islam– setiap keruntuhan fungsi gelombang hanyalah Tuhan yang memutuskan hasilnya, karena tidak ada satu pun ciptaan yang menentukan dirinya sendiri.
Secara historis, tidak semua pemikir Islam adalah okasionalis yang ketat. Para Teolog Mu’tazilah– misalnya, percaya bahwa manusia memiliki hak pilihan yang sejati (untuk menjaga tanggung jawab moral) dan bahwa Tuhan mengizinkan ciptaan untuk memiliki tingkat kemanjuran kausal tertentu. Meskipun demikian, semua sepakat bahwa kuasa dan pengetahuan Tuhan mencakup semua peristiwa, baik yang disebabkan secara langsung maupun yang diizinkan.
Konsep Islam yang relevan di sini adalah qadar (ketetapan atau takdir Tuhan). Umat Islam percaya bahwa tidak ada yang terjadi kecuali atas kehendak Tuhan — namun manusia bertanggung jawab atas pilihan mereka; sebuah sikap yang menyiratkan keseimbangan antara kendali Tuhan dan kehendak bebas manusia. Beberapa orang menyelaraskan hal ini dengan menyatakan bahwa Tuhan menciptakan tindakan manusia sesuai dengan pilihan kita (sebuah teori yang disebut “akuisisi” atau kasb dalam Teologi Asy’ari).
Jika kita menerjemahkannya ke dalam istilah kuantum: dapat dikatakan bahwa Tuhan menciptakan hasil dari keputusan seseorang pada tingkat kuantum di otak, sesuai dengan pilihan yang dibuat orang tersebut (atas karunia Tuhan). Keacakan fisika kuantum dapat dipandang dalam Islam sebagai mekanisme yang dengannya ketetapan-ketetapan spesifik Tuhan berlaku tanpa sebab mekanis yang dapat dideteksi.
Para pemikir Muslim modern telah mulai mempertimbangkan gagasan-gagasan ini berdasarkan sains kontemporer. Beberapa, seperti fisikawan Basil Altaie dan lainnya, melihat fisika kuantum sebagai peluang untuk menghidupkan kembali pemahaman tajdid al-khalq (penciptaan berkelanjutan) menggunakan bahasa ilmiah. Jika alam semesta bukanlah kotak kausal tertutup, maka argumen materialisme yang menentang tata kelola Tuhan pun melemah.
Lebih lanjut, Al-Qur’an berbicara tentang fenomena yang dapat dibandingkan dengan realitas multi-dunia atau setidaknya multi-dimensi (misalnya, referensi tentang tujuh langit, atau berbagai alam eksistensi, yang secara konseptual disamakan oleh para penulis imajinatif dengan dunia paralel). Meskipun agak berlebihan untuk menghubungkannya secara langsung dengan Interpretasi Banyak Dunia mekanika kuantum, hal itu menunjukkan keterbukaan Islam terhadap dunia di luar dunia yang dapat kita amati.
Paralel menarik lainnya adalah fenomena keterikatan kuantum dengan konsep tauhid Islam (keesaan Tuhan dan, dengan perluasan, kesatuan ciptaan-Nya di bawah perintah-Nya). Partikel-partikel yang terjerat berperilaku sebagai satu sistem. Demikian pula, Teologi Islam menegaskan bahwa seluruh kosmos berada di bawah satu kedaulatan yang terpadu, tidak ada yang independen dari Tuhan.
Beberapa metafisika Sufi bahkan berpendapat bahwa semua pikiran dan segala sesuatu saling terhubung sebagai refleksi dari Yang Esa. Komunikasi instan dalam keterikatan dapat dilihat sebagai tanda bahwa alam semesta pada dasarnya merupakan satu kesatuan utuh –yang melengkapi pandangan Islam tentang alam semesta yang disatukan oleh kehendak Tuhan (sering diungkapkan dengan frasa Kun fa-yakun — Jadilah, maka jadilah — menyiratkan pelaksanaan langsung perintah Tuhan di seluruh ciptaan).
Lebih lanjut, dalam pemikiran Islam, mukjizat (mu’jizat) tidak dipandang sebagai pelanggaran hukum alam, melainkan sebagai kejadian yang selalu dapat dilakukan oleh Tuhan dan hanya dilakukan pada waktu yang telah ditentukan untuk mendukung seorang nabi atau melayani tujuan ilahi. Bagi Tuhan yang Mahakuasa, mewujudkan peristiwa ajaib tidaklah lebih sulit daripada mewujudkan peristiwa biasa, keduanya merupakan tindakan kehendak.
Dalam alam semesta kuantum, dapat dikatakan bahwa perbedaan antara peristiwa “ajaib” dan peristiwa “biasa” hanyalah seberapa mengejutkannya peristiwa tersebut secara statistik bagi kita. Tuhan, yang menciptakan segala peristiwa, membelah lautan sama mudahnya dengan menciptakan matahari. Menariknya, jika kita membayangkan Tuhan biasanya membiarkan dunia berjalan pada jalur yang paling mungkin (sehingga mukjizat jarang terjadi), hal itu sejalan dengan gagasan bahwa Dia biasanya bertindak selaras dengan pola yang Dia tetapkan (Sunnah Allah, atau cara Tuhan yang lazim), tetapi terkadang Dia menetapkan hasil yang kita anggap menakjubkan (hasil kuantum dengan probabilitas rendah dalam skala besar, bisa kita katakan).
Para cendekiawan Islam saat ini terkadang menunjukkan bahwa pergeseran sains dari determinisme absolut membenarkan ajaran Islam tentang ketergantungan kepada Tuhan. Frasa terkenal Insya Allah (jika Tuhan menghendaki) menyertai setiap pernyataan tentang masa depan dalam kesalehan Muslim mengakui bahwa pada akhirnya, apa yang terjadi bergantung pada kehendak Tuhan, bukan hanya usaha atau prediksi kita.
Mekanika kuantum dengan ketidakpastian intrinsiknya, menggemakan sentimen ini: betapapun majunya ilmu pengetahuan kita, ada tingkat di mana kita harus berkata “jika Tuhan berkehendak, ini akan terjadi,” karena kita tidak dapat memprediksi dengan pasti. Dengan cara ini, fisika kuantum sebenarnya dapat menumbuhkan pola pikir yang bersandar pada Tuhan– alih-alih pada kepastian manusia, sehingga memberikan validasi ilmiah (atau setidaknya analogi yang menyentuh) terhadap kebenaran spiritual. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia
