Oleh: Cak AT – Ahmadie Thaha*
Di tengah industri film yang kadang seperti pabrik mi instan, cepat saji, gurih di awal, tapi lupa setelah dua jam, Project Hail Mary hadir seperti masakan rumahan yang digodok lama. Hasilnya matang, bernutrisi, dan anehnya tetap laris manis.
Film ini tidak datang dari ruang kosong– berakar dari novel karya Andy Weir dengan judul sama (2021). Andy pernah membuat dunia percaya bahwa bertahan hidup di Mars cukup dengan logika, kentang, dan sedikit kegilaan ilmiah (The Martian, 2011).
Kali ini, skalanya dia naikkan tanpa basa-basi. Bukan hanya satu orang yang berniat diselamatkannya dari ancaman mikroorganisme kosmik yang dengan santai “memakan” energi matahari. Bukan satu, tetapi seluruh umat manusia.
Adaptasi cerita dari buku novel ke layar lebar ditangani oleh Phil Lord dan Christopher Miller, dengan naskah oleh Drew Goddard. Kombinasi ini terasa seperti eksperimen yang berhasil: sains tetap utuh, tetapi cerita tetap hidup.
Di gedung bioskop, Anda lihat, layar pun mulai gelap. Seorang pria, Ryland Grace, terbangun di dalam pesawat antarbintang. Sendiri. Bingung. Tanpa ingatan– dia bahkan tidak tahu apakah dia sedang bermimpi atau sedang mati pelan-pelan.
Ryan Gosling memainkan Grace bukan sebagai pahlawan, tetapi sebagai manusia yang terlalu manusiawi. Dia panik, dia ragu, dia sering tampak seperti guru yang tersesat di ruang yang terlalu besar untuknya– dan memang, pelan-pelan kita tahu: dia hanyalah guru sains SMP, mantan ahli biologi molekuler, yang tiba-tiba didorong ke garis depan penyelamatan peradaban. Film ini mengajak kita menyusun ingatan bersamanya.
Krisis bermula dari suatu fenomena aneh: munculnya garis inframerah antara Matahari dan Venus, yang kemudian dikenal sebagai Petrova Line. Dari situ, para ilmuwan menemukan biang masalahnya: organisme bersel tunggal bernama astrophage. Bukan sekadar makhluk– dia adalah “pemakan bintang”. Astrophage menyerap energi matahari, berkembang biak di atmosfer Venus yang kaya karbon dioksida, lalu bergerak bolak-balik antara Venus dan Matahari.
Meninggalkan jejak energi yang membentuk Petrova Line. Lebih mengkhawatirkan lagi, organisme ini kebal terhadap radiasi elektromagnetik, menjadikannya hampir mustahil dihentikan dengan teknologi konvensional. Konsekuensinya sederhana, sekaligus bisa mengerikan: Matahari meredup. Bumi akan membeku dalam hitungan dekade. Di sinilah sains berubah menjadi alat bertahan hidup, bukan sekadar pengetahuan.
Menariknya, di tengah ancaman itu, astrophage juga menjadi solusi. Emisi energinya memungkinkan terciptanya mesin pendorong luar angkasa yang luar biasa efisien. Dari sinilah lahir misi putus asa bernama “Hail Mary”: perjalanan satu arah menuju bintang Tau Ceti, satu-satunya yang belum terinfeksi. Satu arah. Tanpa tiket pulang.
Secara teknis, film ini menyajikan semua itu dengan presisi yang jarang. Kamera Arri Alexa 65 dan format IMAX memberi kedalaman visual– tetapi yang lebih penting adalah pendekatan produksinya. Banyak adegan dibuat secara nyata. Set dibangun. Lingkungan dihidupkan. Ruang angkasa terasa seperti tempat kerja yang dingin dan penuh risiko, bukan sekadar latar estetis. Di tengah kesunyian itu, muncul sesuatu yang tidak terduga. Sebuah kapal asing– dari dalamnya keluar makhluk yang kemudian kita kenal sebagai Rocky.
Di film ini– dia berasal dari sistem bintang 40 Eridani A. Tidak punya mata– “melihat” dengan ekolokasi– berbicara dalam nada seperti musik. Grace dan Rocky tidak bisa bernapas di atmosfer yang sama. Mereka tidak punya bahasa yang sama. Tetapi mereka punya satu kesamaan: mereka sama-sama sedang berusaha menyelamatkan dunia mereka.
Di titik ini, film berubah menjadi dialog lintas semesta. Mereka menemukan bahwa di planet Tau Cetie — yang mereka beri nama Adrian — terdapat organisme lain yang menjadi predator alami astrophage. Inilah titik balik ilmiah sekaligus dramatis: solusi bukan diciptakan, tetapi ditemukan– namun solusi tidak pernah datang tanpa harga.
Organisme ini, yang kemudian dinamai Taumoeba, harus dibudidayakan, dikendalikan, dan dikirim kembali ke Bumi. Dalam prosesnya, muncul masalah baru: Taumoeba berevolusi, menembus bahan xenonite, dan justru mengancam sumber energi kapal. Sains, sekali lagi, bukan garis lurus– dia selalu membawa konsekuensi. Pilihan pun datang.
Grace bisa kembali ke Bumi, membawa harapan, menjadi pahlawan. Atau bisa kembali menolong Rocky, yang kapalnya terancam hancur karena Taumoeba memakan seluruh bahan bakarnya– memilih yang kedua. Di titik itu, sains bertemu etika. Pengetahuan memberi kemampuan, tetapi kemanusiaan menentukan arah.
Secara teknis, keputusan-keputusan ini diperkuat oleh performa aktor dan desain produksi. Rocky, yang diwujudkan melalui perpaduan boneka fisik dan animasi, terasa hidup. Musik Daniel Pemberton mengalir tenang, menjaga emosi tanpa memaksanya. Meski demikian, film ini bukan tanpa kekurangan– terasa seperti merakit ulang elemen dari berbagai film besar sebelumnya. Ada gema Interstellar, ada bayangan The Martian, ada sentuhan E.T– bukan revolusi, tetapi evolusi yang cerdas– namun justru di situlah kekuatannya– tidak berusaha menjadi asing, tetapi menjadi akrab dengan cara yang lebih dalam– dan publik merespons.
Dengan pendapatan global lebih dari 500 juta dolar, film ini membuktikan bahwa penonton tidak alergi pada sains. Mereka hanya alergi pada cara penyampaian yang membosankan. Masalahnya bukan pada penonton. Masalahnya pada cara kita bercerita. Hingga pada akhirnya, film ini tidak berhenti sebagai tontonan– berubah menjadi cermin.
Bahwa di dunia nyata, kita juga menghadapi krisis yang kompleks. Energi, iklim, pangan. Bedanya, kita tidak punya misi luar angkasa untuk melarikan diri– yang kita punya adalah ruang kelas– dan di adegan terakhir, ketika Grace mengajar anak-anak alien tentang sains, film ini seperti menutup lingkarannya sendiri: dari guru, menjadi penyelamat dunia, lalu kembali menjadi guru.
Seolah-olah semesta sedang berbisik: peradaban tidak diselamatkan oleh pahlawan, tetapi oleh mereka yang mau belajar– dan ketika lampu bioskop menyala kembali di akhir film, pertanyaan itu tetap tinggal. Apakah kita sedang mendidik generasi untuk menghafal jawaban, atau untuk menghadapi pertanyaan yang belum ada jawabannya?
*Jurnalis Senior dan Kolumnis
Editor: Jufri Alkatiri
.
