Perang Antara Dua Bangsa yang Terluka

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dan Zezen Zaenal Mutaqin*

Perang yang terjadi antar Israel (yang dibantu Amerika) dengan Iran — bisa kita baca sebagai perang dua bangsa yang terluka (wounded nations). Kedua bangsa itu merasa hidup dalam bayang-bayang ancaman dari luar karena trauma sejarah.   Bagi Israel, tragedi holocaust  (1941-1945) telah menggoreskan pesan yang amat dalam:  kalau kamu lemah, kamu akan dihabisi. Ideologi etnisitas, kekuatan senjata dan politik lalu dicarikan pembenaran teologis dengan dalih Yahudi adalah umat yang terpilih dan Palestina adalah tanah yang dijanjikan, sekalipun banyak dari mereka tidak peduli agama.

Di pihak lain, bangsa Persia-Syiah sudah bertahun-tahun merasa terkucil dan tertindas dari kelompok mayoritas Arab-Sunni. Akar pengucilan terhadap Iran bisa dilacak jauh hingga tragedi terbunuhnya Kalifah Ali bin Abi Thalib (Imam Ali) dan peristiwa Karbala yang amat sadis yang terjadi pada 680 M. Revolusi Islam  1979 membuat negara Iran terkucilkan. Raja-raja Arab ketakutan terhadap semangat dan gerakan Revolusi Iran yang dikhawatirkan akan menjalar ke negara-negara mereka dan meruntuhkan sistim Monarki. Belum lagi embargo ekonomi yang dilakukan Amerika dan sekutunya terhadap pemerintah Iran.  

Jadi, baik Israel maupun Iran memandang dunia di sekitarnya sebagai ancaman yang menindas. Dalam bayang-bayang dunia yang mengancam, kedua negara di Timur Tengah itu saling mengisolasi diri satu sama lain dan melakukan konsolidasi sebagai mesin perang yang setiap saat bisa terjadi. Isolasi adalah bibit konflik yang bisa kapan saja meledak.

Luka Eksistensial Israel

Dalam ingatan manusia yang pendek, Perang Dunia I dan II terasa sudah lama berlalu– tetapi dalam bentangan sejarah dan evolusi peradaban, kedua peristiwa itu terasa baru kemarin. Mengapa periode itu penting untuk kita ingat kembali? Karena masa itu adalah masa yang membawa luka dan trauma yang begitu mendalam dan bercokol kuat dalam akar kesadaran budaya manusia. Masyarakat dunia berharap tragedi perang yang  menghancurkan bangunan  peradaban itu tidak akan terulang lagi. 

Perang Dunia II telah membunuh sekitar 85 juta manusia di lima benua. Korban terbanyak salah satunya di Eropa. Bangsa Yahudi sendiri kehilangan sekitar enam  juta jiwa  dalam Holocaust di Jerman. Jika ditarik ke belakang, datanya lebih mengerikan lagi. Raja Belgia, Leopod II, membunuh sekitar 10 juta orang di Kongo selama dia berkuasa (Adam Hoshchild, 1998). Belum lagi genosida yang dialami penduduk asli Amerika (Indian) dan Australia (Aborigin) oleh para penjajah Inggris.

Gambaran kengerian ini belum sepenuhnya hilang dari psike budaya masyarakat yang menjadi korban, terutama di negara-negara Selatan. Bangsa Yahudi, yang kemudian dibantu Inggris mendirikan Israel di tanah Palestina, adalah bangsa yang mengidap trauma dan luka sejarah yang  penuh ambigu. Mereka berabad-abad hidup di Eropa tapi tidak pernah dianggap bagian dari bangsa Eropa.

Meski dikucilkan di Eropa, ketika pindah dan menetap di rumah barunya di Timur Tengah mereka lebih memilih identitas Eropa dan peradaban Barat. Diaspora yang lama telah menjadikan mereka merasa sepenuhnya Eropa, meskipun telah menancapkan luka yang dalam.

Keputusan untuk memilih menjadi Eropa dan Barat bagi Israel adalah pilihan eksistensial yang penuh dilema. Pilihan itu membuat mereka sulit melebur dengan tetangganya bangsa-bangsa Arab. Selain karena isu pendudukan tanah, aliansi dan identifikasi kebudayaan ke Eropa juga  menjadi sumber masalah.

Karena identitas ini, Israel selalu merasa terkucil dari awal. Mereka senantiasa dihantui ketakutan Bangsa Arab yang sewaktu-waktu akan  menghancurkan dan menghapus mereka dari peta  bumi Timur Tengah. Luka Holocaust di Eropa, dia bawa  ke Timur Tengah. Muka bengis Hitler di Jerman, disematkan ke peradaban Arab-Islam yang tidak punya dosa pada mereka. Tanah barunya di  Israel tidak pernah memberikan ketenangan. Kenangan kolektif trauma masa lalu mengharuskan pada bangsa Israel untuk  bertahan hidup dan membangun kekuatan militer untuk melindungi  eksistensi mereka. Untuk bertahan mereka harus kuat secara militer. Musuh-musuh mereka harus takut dan tunduk. Semua pihak yang dianggap ancaman harus dimusnahkan: dari Irak, Syiria, Libanon, sampai Iran.

Dalam logika eksistensial, moralitas menjadi sekunder alias tidak terlalu penting. Jadi jangan kaget kalau Israel sering tidak peduli pada moralitas. Fokus mereka adalah membangun dirinya bagaikan raksasa  bengis yang ditakuti agar bisa bertahan dan tidak menjadi korban lagi. Kesadaran kolektif inilah yang tanpa disadari mendikte kebijakan-kebijakan Israel hampir di semua lini. Sikap ini tidak jarang menjadikan mereka bangsa yang ambigu: belum lama menjadi korban kekejaman Holocaust, sekarang menjadi pelaku kejahatan kemanusiaan. Klaimnya selalu menjadi korban, perbuatannya selalu menjadi pelaku.

Iran dan Luka Karbala.

Iran yang sekarang menganut Syiah Imamiyah juga tumbuh dalam tradisi minoritas yang terpinggirkan dan bahkan tertindas. Perlu dicatat bahwa wilayah yang kini menjadi negara Iran moderen baru menjadi pusat penganut Syiah pada abad ke 15, tepatnya pada Dinasti Safawiyah. Sebelum itu tidak ada kekuatan Syiah yang terkonsentrasi karena penganut Syiah senantiasa hidup di bawah kekuasaan Arab Sunni, dari Umayyah hingga Abasiyah.

Sama seperti Bangsa Yahudi yang mendirikan Israel karena trauma penindasan dan Holocaust, Safawiyah juga berdiri di atas trauma peminggiran penindasan penganut Syi’ah yang terjadi sejak masa awal  Islam. Trauma tragedi Karbala pada 680 Masehi adalah fondasi penting yang membentuk kesadaran kolektif penganut Islam Syiah. Peristiwa yang diwarnai oleh kegagalan penduduk Kuffah untuk menolong Imam Husain (putra Imam Ali bin Abi Thalib) dari penguasa Umayyah ini adalah momen paling sentral yang mendefinisikan sejarah Islam Syiah. Tragedi Karbala  mewariskan perasaan duka, pengkhianatan, rasa malu, dan rasa bersalah yang sangat pekat dari generasi ke generasi.

Ada tiga pengaruh utama tragedi Karbala ini dalam membentuk kesadaran kaum Syiah di Iran. Pertama, masyarakat Syiah secara historis memandang diri mereka sebagai kelompok yang dikhianati, dirampas haknya, dan dipersekusi. Memori tentang ketidakadilan, pengkhianatan dan kekerasan di Karbala yang terus dihidupkan lewat peringatan Asyura melahirkan simpati yang mendalam serta kecenderungan untuk selalu membela kaum yang tertindas.

Kedua, Tragedi Karbala menciptakan model budaya politik yang secara tegas mempertentangkan penguasa duniawi yang korup dan arogan dengan nilai-nilai kesalehan.  Hal ini menumbuhkan keyakinan yang mengakar bahwa otoritas sekuler pada dasarnya tidak sah, yang pada akhirnya menjadi “resep” bagi meletusnya revolusi Islam pada 1979.

Ketiga, tragedi Karbala menanamkan keyakinan bahwa berkorban nyawa (syahid) demi melawan penindasan adalah kewajiban dan kemenangan moral. Pola pikir ini paling nyata terlihat pada Perang Iran-Irak, yang secara resmi dibingkai oleh negara sebagai “Pertahanan Suci” dan pengulangan sejarah Karbala di mana Saddam Hussein diibaratkan sebagai tiran Yazid bin Muawiyah, raja Dinasti Umayyah saat itu. Narasi ini berhasil memicu gelombang ratusan ribu relawan yang bertekad untuk bertempur mempertaruhkan nyawa, dengan keyakinan bahwa bertahan membela kebenaran layaknya pasukan Imam Husein adalah tujuan yang paling mulia.

Jebakan Sejarah?

Pemaparan ini tentu tidak ditujukan agar kita memaklumi jebakan dan determinasi sejarah. Meskipun begitu, sebagaimana telah dipaparkan, sejarah bisa memberikan penjelasan yang lebih utuh tentang konflik yang berkecamuk sekarang. Misalnya, keteguhan Iran dalam memimpin sumbu perlawanan (axis of resistence) terhadap hegemoni Amerika dan Israel sulit dijelaskan semata oleh kalkulasi ekonomi, politik dan keamanan. Secara ekonomi dan keamanan, akan lebih menguntungkan bagi Iran untuk bersekutu dan tunduk pada Amerika. Sikap itu juga yang diambil negara-negara Arab Teluk (GCC)– tetapi orang yang mengharapkan Iran akan melakukan itu hanyalah orang yang tidak membaca sejarah bagaimana Iran tumbuh dan bertahan selama ribuan tahun sebagai bangsa sejak masa Persia.

Kekuatan Iran bertahan dan bahkan menang melawan Irak meski dikeroyok banyak pihak; kemampuannya untuk segera bangkit meski pemimpin tertinggi beserta para jenderalnya terbunuh oleh Amerika-Israel hanya bisa dijelaskan dengan pendekatan spiritual-historis. Mati dalam perlawanan adalah kemuliaan, bukan sesuatu yang ditakuti. Moralitas dan spiritualitas menjadi sumbu utama kebijakan

Dari Iran– Indonesia harus belajar bahwa bangsa harus dibangun di atas fondasi moral dan karakter yang menyejarah dan mengakar pada tradisi. Kebijakan negara, karena itu, tidak mudah terombang-ambing kepentingan pragmatis yang sering dibungkus dengan dalih bebas-aktif. Agresi Amerika-Israel terhadap Iran telah meruntuhkan tembok dikotomis Sunni-Shiah. Palestina yang dibela oleh Iran adalah masyarakat  Sunni. Bagi Iran maslahannya bukan isu teologis, melainkan penindasan dan ketidakadilan yang dipertontonkan oleh Amerika dan Israel yang juga telah melakukan genosida terhadap rakyat Palestina yang tidak bersalah.  Terbayang, ketika nantinya perang sudah berakhir, mungkin sekali Iran akan menjadi kiblat baru bagi dunia Islam untuk belajar filsafat, sains, dan teknologi, menyambung benang sejarah pendidikan Islam yang pernah berjaya di abad tengah, mengibarkan bendera peradaban.

*Dosen Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)  Depok, Jawa Barat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *