Sikap Non Blok Benarkah Karakter Kaum Munafik?

Oleh: Benz Jono Hartono*

Di tengah percaturan politik global yang semakin brutal, istilah Non Blok  sering kembali dipertanyakan. Banyak negara yang mengaku netral, tidak memihak Barat maupun Timur  tetapi dalam praktiknya justru terlihat ambigu, plin-plan– bahkan seperti bermain dua kaki. Di satu sisi berbicara tentang perdamaian, tetapi di sisi lain menikmati keuntungan ekonomi, militer, dan diplomatik dari semua kubu yang sedang bertikai. Pertanyaannya kemudian muncul, apakah sikap Non Blok identik dengan karakter munafik?

Secara historis, Konferensi Asia-Afrika dan lahirnya Gerakan Non-Blok sebenarnya dibangun di atas semangat kemerdekaan bangsa-bangsa dunia ketiga agar tidak menjadi budak kekuatan besar dunia. Tokoh-tokoh seperti Soekarno, Josip Broz Tito, dan Gamal Abdel Nasser ingin menciptakan jalan ketiga, tidak tunduk kepada kapitalisme Barat maupun komunisme Timur– namun zaman berubah.

Hari ini banyak negara memakai Slogan Non Blokbukan lagi sebagai simbol kedaulatan, melainkan tameng untuk menghindari tanggung jawab moral dan politik. Ketika terjadi penjajahan, perang, penghancuran kemanusiaan, atau ketidakadilan global, mereka memilih abstain. Mereka takut kehilangan investasi dari Barat, takut kehilangan energi dari Timur, takut kehilangan pasar, takut kehilangan utang luar negeri, dan takut kehilangan dukungan geopolitik.

Akhirnya, lahirlah diplomasi yang terlihat aman di permukaan, tetapi kehilangan keberanian moral. Mereka ingin dipuji semua pihak. Mereka ingin dekat dengan semua kekuatan. Mereka ingin menikmati semua keuntungan tanpa mau menanggung risiko perjuangan.

Di sinilah kritik terhadap sikap  Non Blok  mulai muncul– karena netralitas yang tidak dibangun di atas prinsip kebenaran bisa berubah menjadi oportunisme politik. Dalam bahasa sederhana, “di sini senang, di sana senang.” Fenomena ini melahirkan apa yang disebut banyak pengamat sebagai split personality geopolitik. Di forum internasional berbicara tentang keadilan, tetapi di belakang layar melakukan transaksi dengan pihak yang sama-sama dituduh merusak tatanan dunia. Di podium mengecam perang, tetapi industri senjatanya tetap berjalan. Di depan kamera membela rakyat tertindas, tetapi di meja diplomasi tetap berhitung untung-rugi ekonomi.

Sikap seperti ini membuat banyak negara kehilangan jati diri dan arah ideologi. Politik luar negeri berubah menjadi sekadar seni bertahan hidup tanpa keberanian menentukan sikap– tetapi perlu dibedakan secara jernih Non Blok  tidak selalu berarti munafik.

Netralitas bisa menjadi sikap terhormat bila dibangun di atas prinsip kemerdekaan, perdamaian, dan keberanian menjaga kedaulatan nasional. Masalah muncul ketika netralitas berubah menjadi alat untuk menyembunyikan kepentingan tersembunyi dan ketakutan politik. Dunia saat ini tidak hanya membutuhkan negara yang pandai berdiplomasi, tetapi juga negara yang memiliki ketegasan moral. Sebab sejarah sering mencatat bahwa kehancuran peradaban bukan hanya disebabkan oleh kekuatan para penjahat, tetapi juga oleh diamnya mereka yang mengaku netral.

*Praktisi Media Massa, Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat, dan Executive Director Hiawatha Institute

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *