Oleh: M. Noeh.Hatumena*
Mata dunia dibuat tertegun mengikuti kunjungan Presiden AS Trumph dan rombongannya ke Beijing, China pekan lalu– ditengah tensi kemungkinan perang meletus kembali di Timteng khususnya antara AS – Iran. China adalah sekutu utama Iran. TV NBC dari AS melukiskan kunjungan mengikuti Trumph ke China kali ini sebagai “lain dari yang lain”, berbeda dengan waktu kunjungan sebelumnya. “kunjungan kali ini menegangkan” lapor NBC. Semua aparat China yang terlibat nampak kaku dan arogan, terutama para pihak pengendali acara-acara dan sekuritinya.
Suasana ketegangan antara “tuan rumah” dan tamunya tidak terhindarkan. Press Gadung Putih yang sering meliput kunjungan Presiden AS ikut merasakan hal itu. “Drama diplomasi” itu nampak mencuat saat penyambutan serta kegiatan acara demi acara yang disuguhkan kepada Trumph dan rombongannya. Contoh menyolok adalah penggeledahan senjata api pengawal Trumph oleh Sekuriti China. Aturan keamanan AS mewajibkan setiap pengawal Presiden AS pada “ring-1” harus bersenjata, tetapi pada kunjungan kali ini mereka dilucuti pihak China.
Para Wartawan AS “ dikurung”
Perlakuan yang aneh juga dirasakan wartawan AS yang ikut meliput kunjungan tersebut. Mereka merasa lebih ketat diawasi dan tidak seleluasa seperti masa lalu. Ketika acara Xi Jinping dan Trumph mengunjungi Kuil Surga– mereka diperbolehkan meliput dari kejauhan dan “dikurung” di ruangan khusus. Di beberapa acara lain ruang gerak para wartawan AS itu juga dibatasi. Bahkan ada yang di” plototi” kemanapun bergerak. Sebaliknya wartawan berpaspor non AS tidak dibatasi.
Cindramata China dibuang
Perlakuan pihak China terhadap rombongan Trumph itu diluar dugaan mendapatkan balasan setimpal yang penuh emosional dari AS. Saat-saat akhir acara dan rombongan Trumph bergegas kembali ke Bandara untuk pulang ke AS, semua cindramata (souvenir) pemberian “tuan rumah” kepada Trumph dan rombongan secara demonstratif dimasukan kedalam karung dan dicampakkan ke keranjang sampah di Bandara, kejadian ini diliput semua media. Beberapa TV dari Indonesia ikut menyiarkan moment itu.
Seorang Pejabat AS mengatakan kepada Pers– semua souvenir itu dibuang karena kuatir ada perangkat spionase yang ditanam didalamnya. Bukan itu saja, lapor NBC, emosi anti cindramata China juga ikut merembet ke barang bawaan wartawan yang dibeli di Beijing. Barang-barang itu ikut disita petugas AS sebelum boarding ke pesawat tanpa klarifikasi. Alasan penyitaan mungkin mirip–tetapi sebagian Wartawan Gedung Putih menafsirkan hal ini sebagai pembalasan dendam AS tanpa ampun terhadap apapun barang China yang diperoleh rombongan Presiden Trumph.
Bagi tradisi China dan Asia pada umumnya membuang sebuah “pemberian” yang disampaikan secara tulus dan penghormatan kepada tamunya dan dibuang dihadapannya merupakan penghinaan– apalagi kalau itu dilakukan di hadapan wartawan yang tentu saja menyiarkannya.
*Jurnalis Senior dan Mantan Pimpinan KB ANTARA
Editor: Jufri Alkatiri
