Haji dan Jaringan Ulama Betawi: Dari Haramain Hingga Kampung

Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*

Sejarah intelektual Islam di Betawi tidak dapat dilepaskan dari perjalanan haji para ulama Betawi ke Tanah Suci. Ibadah haji menjadi pintu masuk bagi pembentukan jaringan keilmuan transnasional yang menghubungkan Betawi dengan pusat-pusat peradaban Islam di Haramain.

Bagi masyarakat Betawi, gelar Haji atau Hajjah bukan sekadar penanda telah menunaikan rukun Islam kelima. Gelar tersebut  adalah simbol transformasi—dari individu biasa menjadi sosok yang dihormati yang dianggap memiliki “barakah” perjalanan spiritual– namun, di balik prestise sosial ini, tersembunyi narasi yang lebih besar– bagaimana perjalanan haji telah menjadi poros peradaban Islam Betawi selama berabad-abad.

Pada abad ke-19, Makkah dan Madinah bukan hanya pusat spiritual umat Islam, tetapi juga jantung kehidupan keagamaan dan intelektual di Hindia Belanda. Para pelajar dari berbagai penjuru dunia Islam—dari Maroko hingga Nusantara—berduyun-duyun ke kota suci ini tidak hanya untuk berhaji, tetapi juga untuk menuntut ilmu .

Menurut orientalis Christiaan Snouck Hurgronje, pada perempat ketiga abad ke-19 — sesepuh ulama Jawi di Mekkah adalah Junaed yang berasal dari Betawi. Lebih dari 50 tahun menetap di Makkah, mengajar para jamaah dari Nusantara dengan bahasa Melayu sebagai pengantar, baik di rumahnya maupun di Masjidil Haram. Fakta ini menunjukkan bahwa ulama Betawi telah memainkan peran sentral dalam transmisi keilmuan Islam di Nusantara sejak pertengahan abad ke-19.

Kekuasaan ulama Betawi di Makkah — bahkan mencapai puncaknya pada awal abad ke-20. Dalam perjanjian antara Raja Ali (putra Raja Husein), penguasa Makkah, dengan Raja Ibnu Saud yang berhasil merebut Makkah pada 1925, disebutkan beberapa persyaratan, di antaranya adalah agar beberapa orang besar yang menjalin hubungan erat dengan penguasa Makkah diberi kebebasan. Di antara mereka adalah “Syaikh Abdullah Betawi, Syaikh Ahmad Betawi, dan Syaikh Said Betawi”– fakta ini menunjukkan bahwa ulama Betawi bukan sekadar tamu di Tanah Suci, melainkan bagian dari struktur sosial-politik masyarakat Haramain.

Pengaruh ini bukanlah kebetulan– adalah produk dari sistem keilmuan yang terstruktur di Haramain. Pelajar Betawi belajar di lembaga seperti  Madrasah Shalwatiyah– lembaga pendidikan formal yang difitnah oleh Muslim India. Di sini, selain materi dasar agama Islam, mereka juga diajarkan bahasa Inggris dan matematika. Uniknya, para pengajarnya banyak yang berasal dari Indonesia, sehingga bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Melayu—bahasa yang sudah menjadi lingua franca dunia saat itu .

Para jamaah haji yang menetap dan belajar di Haramain biasanya berkumpul dalam satu wilayah yang dikenal dengan sebutan Ashab al-Jawiyyin. Secara harfiah, istilah ini berarti “perkumpulan orang Jawa”—tetapi bukan merujuk pada etnis Jawa semata, melainkan pada bangsa Nusantara secara keseluruhan .

Di sinilah para pelajar Betawi berinteraksi dengan sesama muslim dari berbagai wilayah Nusantara—Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan—serta dengan para ulama dari berbagai negara. Pertemuan ini tidak hanya melahirkan solidaritas kultural, tetapi juga menjadi ajang diskusi keilmuan, pertukaran gagasan, dan pembentukan jaringan yang akan terus berlanjut ketika mereka pulang ke tanah air.

Interaksi ini berlangsung dinamis, terutama di Madrasah Darul Ulum Makkah yang menjadi jujukan para pelajar Nusantara di era Sayyid Muhsin al-Musawa dan kemudian Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. Di lembaga inilah para pelajar Betawi dan Jawa serta dari semua kawasan Nusantara belajar bersama.

Syekh Junaid al-Batawi adalah figur paling awal yang tercatat dalam sejarah sebagai ulama Betawi yang menetap di Makkah–dia menetap di sana sejak 1834 M dan menjadi guru bagi banyak ulama Nusantara, termasuk yang paling terkenal: Syekh Nawawi al-Bantani_pengarang tafsir Marah Labid yang menjadi rujukan utama para santri di Nusantara .

Peran Syekh Junaid sangat penting karena dia menjadi jembatan antara tradisi keilmuan Haramain dengan para pelajar Nusantara. Menguasai bahasa Melayu — mampu menyampaikan ajaran-ajaran guru besar Makkah dengan cara yang dapat dipahami oleh murid-murid dari Nusantara. Fakta bahwa dia mengajar di Masjidil Haram—pusat keilmuan Islam paling bergengsi saat itu—menunjukkan otoritas keilmuan yang diakuinya. Kisah Syekh Junaid mengajarkan bahwa sejak awal abad ke-19, orang Betawi bukan sekadar penerima ilmu dari Timur Tengah, tetapi telah menjadi bagian dari pusaran produksi pengetahuan itu sendiri.

Salah satu ciri paling khas dari jaringan ulama Betawi adalah sifatnya yang lintas-etnis dan lintas-komunitas– mereka tidak eksklusif, melainkan terbuka dan membangun relasi dengan tiga kelompok utama: ulama Jawa, kaum habaib (Alawiyyin), dan para guru besar Haramain. Relasi ulama Betawi dengan ulama Jawa terjalin erat karena keduanya bertemu di Haramain. Sejak era Mufti Syafi’iyah di Makkah era 1860-an, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, hingga kurun waktu seratus tahun setelahnya, sanad keilmuan ulama Betawi dan Jawa nyambung  dengan keluarga Sayyid Abbas dan Sayyid Alawi al-Maliki– keluarga Syatha’ Addimyathi, hingga Syekh Amin Quthbi, Syekh Hasan Masysyath, dan Syekh Umar Hamdan .

Relasi ini semakin erat jika menilik sanad keilmuan para Guru dan Muallim Betawi yang bersambung dengan generasi emas ulama Jawa di Makkah– Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Nahrawi Banyumas dan Syekh Baqir Jugjawi, serta para ulama Jawa lainnya. Jaringan ini tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga personal dan politis. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ketika dinas intelijen militer Belanda memburu anggota kabinet Indonesia, KH. A. Wahid Hasyim (Menteri Negara) tidak keluar dari Jakarta– dia memilih rumah para sahabatnya sebagai safe house. Di antaranya adalah rumah Muallim Muhammad Naim di Cipete, KH. Baqir Marzuki di Rawabunga, KH. Hasbiyallah di Klender dan KH. Abdurrazaq Ma’mun di Mampang, semuanya ulama Betawi .

Hubungan ini begitu erat sehingga Gus Dur  (putra KH. A. Wahid Hasyim) menulis profil KH. Abdurrazaq Ma’mun melalui kolomnya di salah satu majalah berita  tahun 1980  dengan judul Kiai Razaq yang Terbakar– dia juga sering sowan  (bersilaturahmi) ke KH. Zayyadi Muhajir, menantu KH. Hasbiyallah .

Hubungan ulama dan masyarakat Betawi dengan kalangan habaib (keturunan Nabi dari jalur Alawiyyin) juga terjalin sangat kuat. Beberapa keluarga habaib dihormati hingga anak cucunya dan menjadi rujukan dalam bidang agama .

Figur paling legendaris dalam relasi ini adalah Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi atau Habib Ali Kwitang. Ketika Jepang masuk Indonesia (1942)– dia menjadi salah satu dari dua ulama yang diawasi dengan ketat oleh pemerintah pendudukan—bersama KH. M. Hasyim Asy’ari di Jawa Timur. Jepang mengawasi Habib Ali melalui Abdul Mun’im Inada dan Haji Saleh Suzuki karena keduanya memiliki kharisma dan pengaruh yang sangat kuat di Pulau Jawa . Namun, sebelum Habib Ali, sudah ada habaib lain yang membangun fondasi keilmuan di Betawi. Habib Utsman bin Yahya(1822-1913 M) menjabat sebagai Mufti Betawi pada masa kolonial. Dialah yang mengajar Syekh Mukhtar Bogor sebelum berangkat ke Makkah .

Bahkan lebih awal lagi– pada abad ke-18, Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus atau Habib Luar Batang telah berdakwah di Batavia. Kisahnya sangat menarik– dia sempat ditangkap dan dipenjarakan oleh VOC karena dianggap berbahaya tetapi dalam penjara dia justru menjadi imam salat bagi para tahanan lain—termasuk para sipir yang terheran-heran melihatnya bisa berada di dua tempat sekaligus. Dia juga meramal bahwa seorang anak Belanda yang ditepuk dadanya kelak akan menjadi Gubernur Batavia—dan ramalan itu terbukti .

Relasi ulama Betawi dengan habaib ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga organisatoris. KH. Abdurrazaq Ma’mun, KH. Hasbiyallah, hingga KH. Saifuddin Amsir—semua aktif di NU dan menjalin hubungan erat dengan para habaib .

Tantangan bagi generasi Betawi masa kini adalah bagaimana mengadaptasi warisan jaringan ini ke dalam konteks kekinian. Jika dulu jaringan dibangun melalui perjalanan fisik ke Makkah, sekarang jaringan bisa dibangun melalui platform digital. Jika dulu transmisi keilmuan melalui kitab-kitab berbahasa Arab dan Melayu, sekarang bisa melalui YouTube, podcast, atau e-book– yang terpenting bukanlah mediumnya, tetapi substansi dan semangatnya– komitmen pada ilmu, keterbukaan pada jaringan global, dan keberpihakan pada kemaslahatan umat.

Haji dan jaringan ulama Betawi adalah dua sisi dari koin yang sama– haji sebagai perjalanan spiritual sekaligus perjalanan intelektual– dari Syekh Junaid al-Batawi (1834) hingga Guru Marzuki (1934), para ulama Betawi menjadikan Haramain sebagai ruang pembentukan diri, tempat mereka tidak hanya menyempurnakan ibadah tetapi juga memperdalam ilmu, membangun relasi, dan mematangkan visi dakwah.

Karakter Islam Betawi yang moderat, berorientasi keilmuan, terbuka terhadap jaringan global, dan berpihak pada kemerdekaan adalah produk langsung dari pengalaman haji yang transformatif ini. Para ulama Betawi tidak pernah menjadi eksklusif atau tertutup—mereka justru menjadi jembatan antara tradisi lokal dan kosmopolitanisme Islam.

Kini, tantangannya adalah bagaimana warisan ini tidak berhenti sebagai nostalgia sejarah, tetapi dihidupkan kembali dalam bentuk yang relevan dengan zaman. Bukan dengan nostalgia buta, tetapi dengan adaptasi kreatif– karena pada akhirnya yang diwariskan oleh para ulama Betawi bukanlah ritual haji itu sendiri, melainkan semangat untuk terus belajar, terus berjejaring, dan terus berkontribusi bagi kemaslahatan umat. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Caption Foto: Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Foto: Pribadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *