Oleh: Anwar Rosyid Soediro*
F. Arafah; Simbol Ilmu Pengetahuan Dan Kearifan
Puncak haji adalah Arafah– Arafah adalah nama padang luas yang menjadi lokasi pusat dari seluruh rangaian ibadah haji yakni; ibadah “Wukuf”– dan upaya pencarian makna dan hakikat haji dapat dilacak dari rangkaian manasik haji ketika wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dhulhijjah.
Menurut kesepakatan pendapat para ulama, wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang paling agung– dan menurut As-Sayyid Sabiq– bahwa haji yang shahih adalah yang sempat mendapatkan wukuf di Arafah.
Ijma’ ulama– haji adalah ‘arafah berlandaskan dari sabda Rasulullah– dari Abdurrahman Ibnu Ya’mur bahwa Rasulullah saw– memerintahkan untuk memberitahukan, Haji adalah wukuf di Arafah. (HR. Ahmad dan yang lainnya).
Merujuk pada pemikiran Ali Syari’ati– haji merupakan suatu gerakan yang mutlak– bukan perjalanan karena setiap perjalanan akan sampai pada ujungnya. Haji adalah suatu sasaran mutlak dan gerakan eksternal ke arah sasaran itu– oleh karena itu, haji bukanlah suatu tujuan yang bisa kita raih, tetapi suatu sasaran yang berusaha kita dekati. Inilah faktor penting penekanan pada “berdiam” atau wukuf.
Wukuf adalah singgah dan singgah itu bukan untuk tinggal tetapi hanya berhenti sejenak pada saat dalam perjalanan. Dalam perjalanan ini Allah bukanlah “tujuan” yang ingin dicapai, melainkan satu “arah” yang dituju– karena haji adalah gerakan ke arah Yang Mutlak, maka menurut Syari’ati, ketika kembali kepada Allah ada tiga fase yang harus dilalui: Arafah, Masy’ar (Muzdalifah), dan Mina.
Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang sebab penamaan tempat ini dengan Arafah. Menurut Muhammad Mutawalli Sya’rawi– sebagian ulama ada yang mengatakan karena di tempat inilah Adam as. dan Hawa dipertemukan kembali setelah sekian lama terpisah dan saling mencari manakala keduanya diturunkan dari Surga.
Sebagain yang lain mengatakan, bahwa di tempat inilah Malaikat berkata kepada Adam as.: “kenalihah dosa kamu dan bertobatlah kepada Tuhanmu”, maka Adam as. menjawab, sebagaimana yang telah diinformasikan Al-Qur’an kepada kita: Keduanya berkata: “Ya Tuhan Kami, Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi”.(QS. Al-A’raf: 23).
Karena Adam as. Mengenali dosa-dosanya dan tahu bagaimana bertobat di tempat ini, maka tempat ini disebut Arafah (mengenal). Sebagain yang lain berpendapat, penamaan tempat ini dengan Arafah karena terkait dengan peristiwa yang terjadi pada Ibrahim as. Pertama, mengenal dan mengetahuinya Ibrahim bahwa mimpinya menyembelih anaknya Ismail merupakan mimpi yang benar (ru’yatu al-shadiqah) dari Allah.
Kedua, bahwa di tempat inilah Jibril mengajari Ibrahim manasik haji. Ketika Jibril berkata: “’Arafta?”, (sudah tahukah kamu?), maka Ibrahim menjawab: “’Araftu”, (aku sudah tahu). Maka tempat ini kemudian dikenal dengan nama Arafah. Dari beberapa sebab penamaan tempat ini dengan nama Arafah, dalam makalah ini cenderung kepada peristiwa penciptaan manusia dan keterkaitannya dengan kisah Adam dan Hawa.
Perjalanan dari Makkah (Ka’bah) sebagai pusat eksistensi (Allah) menuju Arafah menyiratkan pesan eksistensial ketika Nabi Adam yang terlempar dari surga menuju ke bumi. Di padang Arafah ini Nabi Adam pertama kali hadir. Di sana Adam dipertemukan lagi dengan sosok Hawa.
Terjadilah pengenalan satu sama lain, dan tumbuhnya pengetahuan dalam diri Adam, terhadap diri dan sekitarnya, termasuk pengenalan kepada pasangannya. “Pengetahuan adami” itu tumbuh dan termanivestasi sedemikian rupa. Maka, sebaimana pandangan banyak ulama, tempat itu disebut Arafah karena tempat itu identik dengan peristiwa pengetahuan.
Proses penciptaan manusia, ber-iringan dengan penciptaan dan tumbuhnya pengetahuan dalam dirinya. Selama proses manusiawi (Adam) bersama nafsu (Hawa) dan yang lain, pengetahuan pun juga berevolusi. Evolusi pengetahuan manusia mengarah kepada level yang lebih tinggi yang disebut kesadaran.
Pergeseran dan evolusi kesadaran manusia dari pengetahuan normal kepada pengetahuan ber-kesadaran itu menjadi mungkin terjadi karena selama wukuf di Arafah, manusia akan mengalami berbagai pengalaman yang menunjukkan batas-batas yang selama ini tidak pernah disadarinya.
Hal yang Senada, Ali Syari’ati juga menyatakan, Arafah melambangkan awal penciptaan manusia. Adam bertemu dengan Hawa di Arafah, di sanalah mereka saling berkenalan. Turunnya Adam itu karena diperintahkan untuk meninggalkan Surga (taman yang indah) setelah ia melakukan pembangkangan.
Menurut Syari’ati, Adam adalah satu-satunya “Malaikat” yang bisa berbuat “dosa” dan kemudian “tobat”. Menurutnya, selama manusia hidup tanpa salah di dalam Surga– dia justru tidak manusiawi. Hanya dengan memberontak dia menjadi manusia—dia bisa “membangkang” atau “taat”. Dalam hal ini, “membangkang” berarti memiliki kemerdekaan, termasuk kemampuan untuk membuat berbagai keputusan yang bertentangan dengan kehendak Allah.
Mengiringi kebebasan untuk membuat keputusan ini adalah “tanggung jawab” dan “kesadaran”. Akibatnya, kepuasan kenikmatan dan kesenangan Adam digantikan dengan negeri yang penuh dengan tuntutan, ketamakan dan rasa sakit atau “turun dari surga”.
Peralihan dari “Adam di surga” menuju “Adam di bumi” menunjukkan karakter dan perilaku manusia masa kini. Ia merupakan gambaran dari manusia yang suka membangkang, agresif dan suka berbuat dosa yang dipengaruhi oleh setan dan hawa nafsu. Meskipun dia di keluarkan dari Surga, diasingkan ke bumi dan ditaklukkan oleh alam, namun Adam telah memakan buah dari “pohon terlarang”.
Apa akibatnya? Kata Syari’ati, Adam memperoleh kearifan, kesadaran dan pengetahuan tentang pendurhaka dan pemberontak! Metafora keadaaan telanjang, bermakna Adam memasuki keadaan “mengenal” dirinya sendiri.
Adam berjumpa Hawa (yang jenis kelaminnya berbeda)– mereka saling berbagi pendapat, mengkomunikasikan pemikiran-pemikirannya dan mencapai saling pengertian. Kehidupan individual mereka diakhiri dengan terbangunnya keluarga (yang merupakan kehidupan sosial yang pertama sekali) dan tercipnya “cinta yang sadar”.
Selanjutnya, persatuan dua manusia dimulai dengan pengetahuan. Evolusi pengetahuan menimbulkan kesadaran di dalam diri manusia– kemudian lahirlah sains yang meningkatkan pengertian dan untuk selanjutnya meningkatkan kesadaran manusia. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia
Editor: Jufri Alkatiri
