Riset Dunia: Beragama tetapi Belum Bahagia

Oleh: Toto Izul Fatah*

Jika agama itu identik dengan Bahagia– maka Indonesia harusnya masuk dalam kategori negara paling bahagia di dunia. Kenapa? — karena Indonesia negara paling beragama. Ada Islam yang mayoritas, ada Kristen yang nomor dua, ada Hindu, Buddha dan Konghucu–namun, jika merujuk pada data riset dari World Happiness Report 2025, Indonesia ternyata tidak masuk dalam kelompok negara yang paling Bahagia– dan yang menarik sekaligus ironis, peringkat tertinggi justru didominasi negara-negara Nordik.

Finlandia, misalnya, berada di peringkat pertama, disusul Denmark, Islandia, dan Swedia– sementara, Indonesia berada di peringkat ke-83 dari 147 negara, dengan skor 5,617. Artinya, Indonesia bukan negara paling tidak bahagia, tetapi juga belum masuk liga negara yang hidup warganya paling tenteram, aman, dan puas. Dari situ, muncul pertanyaan yang menggoda sekaligus mengganggu– yaitu,  mengapa negara-negara Nordik yang, meskipun secara historis berakar pada Kristen Protestan, tetapi hari ini cenderung sekuler-liberal, justru tampil sebagai masyarakat paling bahagia?

Padahal, jika ukuran agama itu ritual, Indonesia termasuk negara yang warganya cukup ramai mendatangi masjid, azannya berkumandang lima kali sehari, gerejanya penuh setiap minggu, pura dan vihara juga hidup. Tetapi,  deretan fakta itu ternyata tidak otomatis menjadi negara paling bahagia?

Apakah agama telah gagal menjadikan warga Indonesia bahagia? Jawabannya pasti bukan karena agamanya yang gagal–tetapi, cara manusia memperlakukan agama itu yang gagal. Mungkin, karena agama baru dipahami sebatas urusan simbol dan ritual, belum masuk ke jantung subtansial-spiritual.

Sementara, World Happiness Report dalam risetnya tidak mengukur seberapa sering warga beribadah. Lembaga tersebu mengukur penilaian warga terhadap hidupnya, lalu dikaitkan dengan faktor-faktor seperti pendapatan, harapan hidup sehat, dukungan sosial, kebebasan menentukan pilihan hidup, kemurahan hati, dan persepsi terhadap korupsi.

Dalam laporan 2025, tema besarnya bahkan sangat dekat dengan ajaran agama: caring and sharing, kepedulian dan berbagi. Artinya, negara bahagia bukan terutama negara yang paling banyak simbol agamanya, melainkan negara yang kuat nilai-nilai sosialnya. Dalam Islam disebut Hablum Minannas (hubungan antar sesama manusia)

Sementara, “subtansi agama” yang salah satunya tercermin dalam Hablum Minannas itu justru dipraktikan di negara-negara Nordik, tanpa terlalu ramai membawa label agama.  Mereka membangun kepercayaan sosial, jaminan kesehatan, pendidikan bermutu, perlindungan sosial, kesetaraan, dan negara yang relatif bersih.

Mereka memang tidak selalu tampak religius secara formal, tetapi kehidupan sosialnya menghadirkan banyak nilai yang dalam agama disebut amanah, keadilan, rahmah, kasih, pelayanan, dan tanggung jawab kolektif.

Sebaliknya, Indonesia sering kali sangat religius dalam ekspresi, tetapi belum selalu religius dalam perilaku sosial. Kita rajin berdoa, tetapi masih mudah curiga. Kita banyak rumah ibadah, tetapi korupsi tetap tinggi. Kita sering bicara akhlak, tetapi ruang publik penuh caci maki. Kita fasih menyebut Surga, tetapi kadang abai pada penderitaan tetangga. Kita mengagungkan Tuhan, tetapi belum selalu memuliakan manusia.

Dalam konteks ini, saya tidak sedang mengeritik agama. Ini kritik terhadap religiusitas formatistik– yaitu, agama yang kuat di ritual, tetapi lemah di konsekuensi sosial. Pew Research Center pernah menemukan bahwa orang yang aktif dalam komunitas agama cenderung lebih bahagia dan lebih terlibat secara sosial di banyak negara–tetapi temuan itu penting dibaca dengan benar, bahwa  yang membuat agama berkontribusi pada kebahagiaan bukan sekadar identitas formal, melainkan keterlibatan dalam komunitas, dukungan sosial, makna hidup, dan perilaku prososial. Dengan kata lain, agama bisa menjadi sumber bahagia bila ia menjadi jembatan sosial tetapi agama bisa menjadi beban bila berubah menjadi tekanan sosial, alat menghakimi, simbol status moral, atau arena kompetisi kesalehan.

Dalam Islam, agama bahkan disebut sebagai rahmat. Dalam Kristen, kasih menjadi inti iman. Dalam Hindu dan Buddha, harmoni, dharma, welas asih, dan pengendalian diri menjadi jalan pembebasan batin. Yang menjadi beban adalah ketika agama dipraktikkan sebagai ketakutan tanpa cinta, larangan tanpa kebijaksanaan, ritual tanpa akhlak, simbol tanpa empati.

Di Indonesia, agama sering sangat kuat pada dimensi vertikal, yaitu: hubungan manusia dengan Tuhan tetapi kebahagiaan sosial membutuhkan dimensi horizontal: hubungan manusia dengan manusia. Shalat, misa, sembahyang, puja, dan meditasi akan kehilangan daya transformasinya bila tidak melahirkan kejujuran, disiplin, kasih sayang, kebersihan, ketertiban, penghormatan pada hak orang lain, dan keberanian melawan ketidakadilan.

Masalahnya, bukan karena adzan yang terlalu sering –tetapi, karena suara adzan yang belum berhasil  diterjemahkan menjadi suara keadilan. Masalahnya bukan masjid, gereja, pura, dan vihara yang ramai–tetapi, keramaian rumah ibadah belum otomatis membuat pasar lebih jujur, birokrasi lebih bersih, jalan raya lebih tertib, dan orang miskin lebih terlindungi.

Karena itu, yang perlu dibenahi bukan agamanya, melainkan kualitas keberagamaan dan kualitas negara. Agama harus turun dari mimbar ke pelayanan public– dari ceramah ke perilaku. Dari simbol ke sistem. Dari kesalehan individual ke kesalehan sosial.

Maka, buat Indonesia, jika ingin menjadi negara yang bahagia, kuncinya bukan harus menjadi Nordik, bukan pula meninggalkan agama. Kuncinya adalah membuat agama lebih membumi.  Yaitu, agama yang mampu  menjadi etika birokrasi, etika bisnis, etika politik, etika pendidikan, etika lingkungan, dan etika hidup sehari-hari.

Agama tidak boleh berhenti sebagai pakaian identitas– harus menjadi energi sosial yang memberi efek rahmatan lil alamin. Khoirunnas anfa uhum Linnas. Manusia yang memberi manfaat buat sebanyak-banyak orang.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *