Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*
Setiap 10 Dzulhijjah– masjid, lapangan, dan gang kampung di seluruh Indonesia berubah menjadi tempat penyembelihan. Bau asap sate, tawa anak-anak yang menerima daging, dan kesibukan panitia kurban menjadi pemandangan rutin. Namun di balik rutinitas itu, ibadah kurban menyimpan dua dimensi yang tiak terpisahkan– spiritual dan sosial.
Kurban bermula dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS– perintah menyembelih anak kandung adalah ujian kepatuhan yang paling berat. Ketika keduanya lulus ujian itu, Allah menggantinya dengan domba. Peristiwa ini bukan sekadar sejarah, tetapi pelajaran tentang keikhlasan.
Kurban mengajarkan bahwa ibadah sejati bukan tentang apa yang kita berikan, melainkan seberapa besar kita melepaskan sesuatu yang kita cintai demi Allah. Dalam konteks modern, “yang kita cintai” bisa berupa waktu, harta, ego, bahkan reputasi. Tanpa keikhlasan, kurban hanya menjadi transaksi daging tahunan. Dengan keikhlasan, ia menjadi latihan menundukkan nafsu dan menguatkan tauhid.
Kurban sebagai Perekat Sosial
Dimensi kedua kurban adalah sosial. Setelah disembelih, daging dibagi kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat. Pola pembagian sepertiga—untuk yang berkurban, untuk kerabat, dan untuk yang membutuhkan—menunjukkan bahwa kurban dirancang untuk memperluas lingkaran kepedulian. Di kampung-kampung, kurban menjadi momentum gotong royong. Warga patungan, bergotong royong menyembelih, menguliti, dan membagikan daging. Di perkotaan, meski praktiknya mulai bergeser ke RPH dan distribusi digital, semangat berbagi tetap menjadi inti. Di sinilah kurban berfungsi sebagai mekanisme redistribusi sosial yang sederhana namun efektif.
Tantangan Kurban di Era Kontemporer
Urbanisasi dan komersialisasi membuat wajah kurban berubah. Harga hewan naik, lahan untuk penyembelihan menyusut, dan banyak warga lebih memilih kurban melalui lembaga karena praktis. Efisiensi itu perlu, tetapi jangan sampai mengikis rasa kebersamaan– tantangan lainnya adalah pemahaman yang parsial. Banyak orang fokus pada hukum sah-tidaknya kurban, tetapi lupa pada hikmahnya. Kurban bukan ajang pamer status sosial. Ia juga bukan sekadar memenuhi kewajiban. Jika hanya berhenti pada ritual, maka kurban kehilangan daya ubahnya terhadap masyarakat.
Kurban yang ideal menjaga keseimbangan antara spiritual dan sosial. Secara spiritual, ia mengingatkan kita untuk menyerahkan sesuatu yang berharga kepada Allah. Secara sosial, ia mengingatkan kita untuk tidak lupa kepada sesama. Keduanya harus berjalan bersama.
Pemerintah, lembaga amil, dan tokoh masyarakat punya peran menjaga agar kurban tidak tereduksi menjadi acara simbolik. Edukasi publik perlu ditekankan: kurban adalah ibadah yang menuntut empati, transparansi, dan keberpihakan pada yang lemah.
Kurban adalah ibadah yang merangkum dua pilar Islam: hablum minallah dan hablum minannas. Ia mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah tidak lengkap tanpa kepedulian kepada manusia. Jika semangat ini hidup, maka setiap Idul Adha bukan hanya menjadi hari penyembelihan hewan, tetapi juga hari penyembelihan ego, keserakahan, dan apatisme sosial. Semoga kurban tahun ini tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghidupkan hati dan mempererat persaudaraan umat.
*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
