Model Pendidikan di Pesantren Tradisional dan Moderen

Oleh: Prof. Murodi al-Batawi, MA*

Pondok pesantren telah menjadi fondasi pendidikan Islam di Indonesia selama berabad-abad. Sebagai lembaga pendidikan tertua di Nusantara– pesantren terus bertransformasi menghadapi arus globalisasi dan modernisasi tanpa kehilangan akar tradisinya. Dalam perjalanannya, muncul dua model utama pendidikan pesantren yang hingga kini hidup berdampingan: model tradisional (salafiyah) dan model modern (khalafiyah). Memahami dinamika kedua model ini penting agar kita tidak terjebak dalam dikotomi yang mempertentangkan, melainkan melihat kekayaan dan fleksibilitas pesantren dalam menjawab tantangan zaman.

Pesantren tradisional atau salafiyah — model yang mempertahankan kemurnian tradisi keilmuan Islam klasik. Ciri utamanya adalah pengajaran kitab-kitab kuning sebagai inti pendidikan, dengan metode yang telah berlangsung turun-temurun. Model ini menekankan hubungan spiritual yang erat antara kiai dan santri, serta pendalaman ilmu agama secara intensif .

Metode pembelajaran yang khas di pesantren salafiyah adalah  sorogan dan  bandongan. Sorogan adalah metode personal di mana santri berhadapan langsung dengan kyai, membaca dan menerjemahkan kitab satu per satu. Metode ini menciptakan ikatan keilmuan yang kuat dan memungkinkan kyai mengawasi serta membimbing kemampuan santri secara maksimal. Bandongan atau wetonan adalah pembelajaran kolektif di mana kyai membacakan dan menjelaskan kitab sementara santri menyimak, mencatat, dan memberi makna pada kitab masing-masing. Metode ini lebih praktis untuk mengajar santri dalam jumlah banyak .

Selain kedua metode utama tersebut– pesantren salafiyah juga menerapkan metode tahfizh (hafalan), musyawarah (diskusi ilmiah), muhawarah (percakapan bahasa Arab), dan mudzakarah (pertemuan ilmiah membahas masalah keagamaan). Pengelolaan pesantren salafiyah bersifat sentralistik—segala kegiatan ditangani oleh kiai atau pengasuh sebagai tokoh sentral dan otoritas tertinggi.

Keunggulan model ini terletak pada kedalaman pemahaman keagamaan, pembentukan karakter yang kokoh, dan penguatan spiritualitas santri melalui hubungan personal dengan kiai– namun, kelemahannya adalah minimnya penguasaan ilmu umum dan keterampilan hidup, serta kurangnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi.

Pesantren Moderen: Merangkul Inovasi

Pesantren moderen atau khalafiyah hadir sebagai respons terhadap tuntutan zaman dan kebutuhan masyarakat moderen. Model ini mengintegrasikan kurikulum agama dengan kurikulum umum, menerapkan metode pembelajaran berbasis teknologi, dan menggunakan sistem evaluasi yang terstruktur .

Berbeda dengan pesantren tradisional, pesantren moderen berupaya menyusun kurikulumnya berdasarkan pemikiran atas kebutuhan anak didik dan masyarakat. Mereka melengkapi diri dengan berbagai cabang ilmu umum, seperti berhitung, sejarah, ilmu bumi, aljabar, ilmu alam, bahasa Inggris, dan lain-lain. Pondok Moderen Darussalam Gontor menjadi ikon model ini, yang mentransformasi santri dari nilai-nilai tradisional menuju pribadi yang rasional, disiplin, inklusif, mandiri, dan bertanggung jawab .

Pesantren moderen menerapkan sistem madrasah dengan perjenjangan kelas yang jelas, kurikulum nasional, dan ijazah yang diakui secara formal oleh Kementerian Agama atau Kemendikbud. Literatur ilmu agama dan ilmu umum diajarkan secara sepadan, dengan bahan dan fasilitas yang memanfaatkan teknologi moderen. Metode pembelajarannya bervariasi, mulai dari diskusi, praktikum, hingga pemanfaatan platform e-learning dan pendekatan TPACK (Technological-Pedagogical Content Knowledge) yang memadukan teknologi, pedagogi, dan konten keislaman secara integratif .

Keunggulan model ini adalah lulusan yang memiliki keseimbangan antara pengetahuan agama dan umum, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta kesiapan menghadapi dunia kerja dan pendidikan tinggi– namun, kritik yang sering dialamatkan adalah potensi berkurangnya kedalaman penguasaan kitab kuning dan lemahnya ikatan spiritual antara santri dan kyai karena sistem yang lebih formal dan terstruktur.

Di antara dua kutub tersebut, muncul model komprehensif yang menjadi jalan tengah dan semakin populer. Model ini menggabungkan pendekatan salafiyah dan khalafiyah secara harmonis—pengetahuan agama dan pengetahuan umum diintegrasikan secara seimbang, ditambah dengan pelatihan keterampilan dan kewirausahaan. Model komprehensif berusaha mempertahankan pengajaran kitab kuning dengan metode sorogan dan bandongan, namun secara reguler menerapkan sistem pendidikan formal dan keterampilan hidup yang relevan dengan zaman.

Tujuannya adalah menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama dan pengetahuan umum, tetapi juga keterampilan hidup praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Contoh implementasi model ini dapat dilihat di Pondok Pesantren Tebuireng, yang tidak hanya mengadopsi sistem pembelajaran salafiyah, tetapi juga menerapkan sistem khalafiyah serta pembelajaran komprehensif. Pendekatan pendidikan yang beragam ini mencerminkan upaya mereka dalam menghadapi tantangan modern serta mempersiapkan santri untuk menavigasi kompleksitas dunia yang semakin berkembang.

Perdebatan tentang model pesantren mana yang lebih unggul sebenarnya tidak perlu terjadi. Masing-masing model memiliki keunggulan dan kelemahan, serta relevansinya sendiri dalam konteks dan kebutuhan masyarakat yang berbeda. Pesantren tradisional unggul dalam pendalaman ilmu agama dan pembentukan karakter, sementara pesantren moderen unggul dalam integrasi keilmuan dan kesiapan menghadapi tantangan global– yang terpenting adalah bagaimana pesantren dapat mempertahankan esensinya sebagai lembaga pendidikan karakter dan moral, sambil terus beradaptasi dengan tuntutan zaman.

Almarhum Prof, Dr. Azyumardi Azra, mengingatkan bahwa gagasan untuk mengorientasikan pesantren pada kurikulum “kekinian” perlu ditinjau kembali, sebab mungkin gagasan tersebut akan berdampak negatif terhadap eksistensi tugas pokok pesantren. Pesantren tetap harus mengorientasikan peningkatan kualitas santrinya ke arah penguasaan ilmu-ilmu agama Islam.

Di sisi lain, pesantren juga tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu yang membuatnya tertinggal dari perkembangan zaman. Pendekatan integratif yang mampu mempertahankan nilai-nilai spiritual dan moral pesantren tradisional sambil mengadopsi inovasi pembelajaran moderen menjadi kunci agar pesantren tetap eksis, relevan, dan mampu menghasilkan lulusan yang religius sekaligus kompeten di era global .

Keberagaman model pendidikan pesantren—dari salaf yang memelihara tradisi, khalaf yang merangkul inovasi, hingga komprehensif yang memadukan keduanya—adalah kekayaan yang patut disyukuri. Masing-masing model memiliki peran dan kontribusinya sendiri dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual dan siap mengabdi bagi masyarakat.

Pesantren, dalam bentuk apa pun, tetaplah pesantren—lembaga yang mengajarkan ilmu sebagai amanah, bukan komoditas; yang membentuk manusia yang berakhlak– bukan sekadar berpengetahuan. Di tengah arus perubahan, pesantren tetap menjadi mercusuar pendidikan yang terus menerangi, dengan model-model yang selalu diperbaharui namun tidak pernah kehilangan akar tradisinya– dari pesantren, untuk Indonesia– untuk dunia. Wallahua’alambishawab.

*Profesor Sejarah Peradaban UIN Jakarta

Editor:  Jufri Alkatiri

Caption Foto: Profesor Sejarah Peradaban UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Foto: Murodi al-Batawi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *