Taubat Nasional: Jalan Sunyi Selamatkan Bangsa dan Negara

Oleh: Toto Izul Fatah*

Problem hidup itu tidak selalu harus dijawab dengan angka, data,  dan logika. Ada kalanya kesulitan hidup itu menemukan jalan keluarnya sendiri dengan cara yang sunyi.  Sama seperti ada kalanya berbagai upaya, usaha, termasuk doa, sudah dilakukan tetap saja tidak kunjung membuahkan solusi. Bahkan, tambahan kesulitan hidup yang justru terjadi.

Begitu pun dalam konteks yang lebih luas dan besar, yaitu bernegara. Ada saat ketika bangsa tidak cukup hanya diselamatkan oleh kebijakan– ada saat ketika negara tidak cukup hanya ditolong oleh anggaran, regulasi, pidato, rapat kabinet, atau program-program besar pemerintah.  Sebab problem bangsa tidak selalu lahir dari kekurangan desain teknokratis. Sering kali, problem bangsa lahir dari kerusakan batin kolektif. Disitu, ada kerakusan yang dinormalisasi, korupsi yang dianggap biasa, kebohongan yang dilembagakan, dan hilangnya rasa malu di hadapan Tuhan.

Indonesia hari ini harus diakui tidak sedang baik-baik saja– bahkan, sejumlah pakar meramal adanya potensi kesulitan besar yang akan dihadapi bangsa Indonesia kedepan. Ada korupsi yang masih menggurita, dimana Indonesia tercatat  dalam Corruption Perceptions Index 2025– mendapat skor 34 dari skala 0–100, di mana 0 berarti sangat korup dan 100 berarti sangat bersih. Ini tentu bukan sekadar angka statistik, melainkan cermin moral bahwa penyakit integritas masih menjadi luka besar bangsa.

Di sisi lain, ada keresahan sosial yang sudah mulai terasa. Secara makro, BPS mencatat inflasi tahunan April 2026 sebesar 2,42 persen. Angka ini tampak terkendali di atas kertas, tetapi kehidupan rakyat tidak selalu dibaca dari statistik nasional.  Di pasar, di dapur rumah tangga kecil, di warung, di kontrakan, kenaikan harga sekecil apa pun bisa berubah menjadi kecemasan harian.

Pemerintah tentu tidak diam– kita harus menghargai berbagai upaya Presiden Prabowo Subianto dan jajarannya dalam merespon kecemasan ini. Berbagai program mulai digelontorkan, mulai dari Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, sekolah unggulan, penguatan pangan, dan berbagai agenda pembangunan lain.  Namun, di situlah justru masalahnya. Tidak semua kebijakan yang baik otomatis melahirkan kebaikan. Program bisa mulia di atas kertas, tetapi berubah menjadi kontroversi di lapangan jika dijalankan tanpa kejujuran, tanpa amanah, tanpa kompetensi, dan tanpa rasa takut kepada akibat moral dari penyalahgunaan kuasa.

Makan Bergizi Gratis  (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) harus diakui sebagai program mulia Presiden yang lahir dari spirit menyelamatkan rakyatnya– tetapi, sekali lagi, program yang datang dari niat tulus Presiden itu praktiknya di lapangan tidak selalu berbuah indah. Sederet persoalan terus mewarnai dua program besar itu. Maka, pertanyaannya bukan hanya program apa lagi yang harus dibuat? Anggaran apa lagi yang harus ditambah? Regulasi apa lagi yang harus diterbitkan? Pertanyaan yang lebih dalam adalah: apa yang salah dari jiwa bangsa ini?

Dalam konteks inilah, gagasan Taubat Nasional menjadi penting, relevan dan kontekstual—tentu  dalam arti, bahwa Taubat Nasional bukan sekadar istighosah– bukan pula sekadar doa bersama– meskipun, tidak ada yang salah dengan doa. Adapaun yang dimaksud dengan Taubat Nasional adalah keberanian moral untuk berkata secara berjamaah, bahwa kami mengaku salah, Ya Tuhan– kami telah merusak amanah. Kami telah menukar kebenaran dengan kepentingan. Kami telah mengkhianati rakyat kecil. Kami telah terlalu sombong sebagai bangsa– karena itu, Taubat Nasional bukan seremoni keagamaan biasa– harus menjadi gerakan batin bangsa.

Presiden, menteri, pejabat, pengusaha, aparat, elite partai, akademisi, tokoh agama, para pendidik, media, hingga rakyat biasa perlu masuk ke ruang kejujuran yang sama,  bahwa sebagian dari kerusakan negeri ini tidak lahir dari kurangnya program, tetapi dari hilangnya kebeningan hati. Yaitu, hati yang selalu terbuka untuk hadirnya Tuhan dalam diri. Kebijakan yang menyakiti rakyat bukan semata soal salah hitung teknokratis. Ia juga soal tumpulnya empati. Maka pendekatan spiritual bukan berarti menggantikan pendekatan kebijakan.

Negara tetap wajib bekerja secara lahiriah dengan membenahi tata kelola, memperkuat pengawasan, menegakkan hukum, memperbaiki distribusi pangan, menjaga daya beli, mengevaluasi MBG, mengawasi Koperasi Merah Putih, dan program-program lainnya– tetapi, semua kerja lahir itu akan mudah rusak jika tidak disertai pembersihan batin. Disitulah pentingnya Taubat Nasional– yaitu, taubat yang membuat para elite berhenti merasa paling benar. Pejabat berhenti menjadikan jabatan sebagai alat menumpuk kuasa. Dan pengusaha berhenti membeli kebijakan.

Begitu pun, tokoh agama berhenti “menjual Tuhan” untuk kepentingan dunia. Rakyat pun berhenti membenarkan kecurangan kecil hanya karena belum mendapat kesempatan melakukan kecurangan besar. Inilah makna terdalam Taubat Nasional.

Dalam bahasa agama, taubat membuka pintu Rahmat– dalam bahasa sosial, taubat memulihkan kepercayaan. Dalam bahasa politik, taubat memperbaiki legitimasi. Dalam bahasa kebangsaan, taubat mengembalikan arah moral republic– karena itu, Taubat Nasional tidak boleh dipahami sebagai pelarian dari kerja nyata– justru fondasi terdalam dari kerja nyata. Tanpa taubat, kebijakan mudah menjadi proyek.  Tanpa taubat, program rakyat mudah berubah menjadi panggung pencitraan. Tanpa taubat, anggaran bisa menjadi lahan korupsi.

Maka, dalam situasi bangsa yang sedang gelisah ini, Taubat Nasional layak menjadi panggilan moral. Bukan untuk menggantikan kabinet. Bukan untuk mengganti APBN. Bukan untuk mengganti hukum. Tetapi untuk menghidupkan kembali ruh dari semua itu. Taubat Nasional adalah jalan sunyi itu– yaitu, jalan ketika bangsa menundukkan kepala, mengakui salah, memohon ampun, lalu bangkit kembali dengan hati yang lebih bersih.

Saya yakin, bukan hanya indah dan sejuk, tetapi semesta ikut bergetar jika seluruh bangsa ini, mulai dari yang paling tinggi jabatannya sampai yang paling bawah rakyat kita, bersujud di hadapan sang Maha Segalanya, Allah SWT, untuk bertaubat bersama, dengan memohon Ridho, Rahmat dan AmpunanNya. Tentu, setelah kita semua mengakui secara bersama-sama atas segala salah dan khilaf kita. Insha Allah, setelah itu dilakukan, aneka  keajaiban Tuhan akan datang membuka pintu berbagai kemudahan buat  kita menuju bangsa yang sehat (lahir -batin), kuat, maju , damai, dan sejahtera.

*Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *