Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi. MA*
Ada satu kebiasaan yang tidak pernah ditulis dalam buku panduan pesantren– ketika santri baru pertama kali masuk asrama, bukan wali kelas yang mengajarkan cara menyapa ustadz– melainkan kakak kelas yang kebetulan lewat—berhenti, menundukkan kepala, lalu mengucapkan salam dengan suara tenang. Santri baru itu diam sejenak, dan keesokan harinya, tanpa disuruh, dia melakukan hal yang sama. Tidak ada slide presentasi, tidak ada panduan tertulis– namun nilai itu berpindah .
Inilah esensi tradisi kehidupan pesantren. Nilai-nilai yang diajarkan tidak dihafalkan, tetapi diamati dan dihayati melalui interaksi nyata sehari-hari– dalam ruang pesantren, adab menjadi bahasa yang menyatukan—antara guru dan santri, antara ilmu dan amal, antara dunia dan akhirat.
Pesantren dikenal luas sebagai benteng moral dan etika yang membentuk karakter santri dengan fondasi adab yang kokoh. Tradisi kehidupan di pesantren mengajarkan bahwa seseorang belum dianggap berilmu sebelum beradab, sebab ilmu yang lahir tanpa adab akan kehilangan cahaya dan keberkahannya. Prinsip ini bukan sekadar pepatah– dijalani setiap hari: cara santri berjalan di depan ustadz, cara berbicara kepada yang lebih tua, cara duduk di majelis ilmu dengan tenang dan penuh perhatian .
Ritual adab yang paling tampak adalah mencium tangan kyai. Di banyak pesantren, tradisi ini bukan sekadar formalitas, melainkan ekspresi epistemologis: pengakuan bahwa ilmu adalah anugerah Ilahi yang turun melalui perantara manusia yang telah menempuh jalan tazkiyah. Kyai diperlakukan tidak sekadar sebagai pengajar, tetapi sebagai pewaris sanad keilmuan yang menghubungkan santri dengan para ulama pendahulu. KH. Abdulloh Kafabihi dari Lirboyo menegaskan bahwa adab harus ditempatkan lebih tinggi daripada ilmu. Beliau mengingatkan bahwa para santri di pondok bukan sekadar mencari ilmu, tetapi beribadah—dan ibadah agar diterima Allah harus dengan adab dan akhlak
Tradisi ini mewujud dalam beragam bentuk dan corak yang kaya. Di pesantren moderen seperti Gontor Ponorogo, Jawa Timur — penghormatan kepada guru tetap dijunjung tinggi, tetapi hubungan antara guru dan murid berlangsung lebih cair dan egaliter. Tidak ada tradisi mencium tangan kyai, dan santri bisa duduk di samping kyai saat shalat Jumat. Di pesantren salaf, sebaliknya, budaya penghormatan kepada kyai dan keluarganya sangat kental– namun satu hal yang mutlak: menghormati guru karena mereka telah berjasa memberikan ilmu, membimbing santri menjadi pribadi yang jujur, amanah, dan bertanggung jawab.
Nilai-nilai adab di pesantren tidak hanya terbatas pada hubungan vertikal antara santri dan kyai. Tradisi ro’an—kerja bakti bersama—mengajarkan santri nilai keikhlasan, disiplin, dan kebersamaan. KH.Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa pesantren bukan lembaga bisnis, melainkan tempat pengabdian dan pelayanan. Aktivitas gotong royong di lingkungan pesantren bukan eksploitasi, melainkan tradisi dan bagian dari pendidikan karakter. Ketika santri bergotong royong membangun ruang belajar atau membersihkan lingkungan, mereka sedang belajar bahwa ilmu tanpa amal adalah pohon tanpa buah.
Pesantren mengajarkan santri untuk hidup mandiri, jauh dari orang tua. Di sinilah karakter kemandirian dibentuk—bukan hanya dalam urusan akademik, tetapi juga dalam urusan hidup sehari-hari: mencuci pakaian sendiri, memasak, mengelola waktu dengan disiplin. Tradisi ini berpijak pada prinsip “Man lam yakhdim lam yafham“—siapa yang tidak pernah berkhidmah, dia tidak akan memahami ilmu dengan sempurna.
Apa yang membuat tradisi pesantren begitu kuat bertahan? Jawabannya terletak pada cara nilai-nilai itu ditransmisikan. Adab di pesantren diajarkan melalui keteladanan dan pembiasaan, bukan melalui ceramah atau hafalan. Ketika kakak kelas berbicara pelan kepada adik kelas yang melakukan kesalahan—bukan membentak, bukan mempermalukan—maka adik kelas itu belajar bahwa kekuasaan tidak harus keras– dan ketika adik kelas itu naik tingkat, dia akan memperlakukan yang lebih muda dengan cara yang sama. Ini adalah rantai yang tidak terlihat, tetapi kuat.
Di era moderen yang serba digital dan instan– tradisi kehidupan pesantren justru menjadi semakin relevan. Anak-anak yang tumbuh dengan layar gadget terbiasa menerima informasi, tetapi kurang terbiasa mengamati perilaku manusia secara langsung. Pesantren hadir sebagai oase di mana ilmu kembali menemukan maknanya yang hakiki—menuntun manusia menuju Allah melalui jalan akhlak dan amal .
Sekali santri, tetap santri— bukan karena mereka tidak bisa menjadi yang lain, tetapi karena mereka membawa nilai-nilai luhur yang telah menjadi kebiasaan: adab, keikhlasan, kesederhanaan, dan penghormatan kepada ilmu dan gurunya. Dalam pusaran zaman yang terus berubah, tradisi kehidupan pesantren tetap menjadi mercusuar yang menerangi jalan menuju peradaban yang berakhlak—dari pesantren, untuk Indonesia, untuk dunia. Wallahua’lambishawab.
*Profesor Sejarah Peradaban UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
Caption Foto: Profesor Sejarah Peradaban UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Foto: Murodi al-Batawi)
