Renungan Malem Jemuwah: Hakikat Haji Mengenal Diri Sejati dan Mengenal Tuhan (bag-11 habis)

Oleh: Anwar R. Soediro*

J. Korban; Simbol Kepasrahan Mutlak

Korban adalah tahapan terakhir dari evolusi dan idealisme atau kemerdekaan mutlak dengan — penyerahan total atau kepasrahan mutlak– yakni saat ketika fase para ibadah haji akan berperan sebagai Ibrahim.  Ketika itu Ibrahim membawa anaknya Ismail untuk dikorbankan di Mina. Pengorbnan Ismail merupakan awal haji, bukan akhir haji, karena ketundukan kepada perintah Allah merupakan awal dari ibadah ini, terlebih pada moment pengorbanan.

Al-Qur’an menuturkan perihal kurban di antaranya dalam tiga surah. Pertama, dalam Surah al-Maidah: 27, yang mengisahkan peristiwa berkurbannya dua orang putra Nabi Adam, yaitu Habil dan Qabil. Kedua, dalam Surah ash-Shaffat: 100-111 — yang menceritakan kisah pengorbnan Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail. Ketiga, dalam Surah al-Kautsar: 1-3, yang memuat perintah Allah untuk melakukan shalat dan kurban.

Sejarah manusia telah mengenal kurban sudah sejak dini, bahkan sejak putra-putra pertama Adam. Pada masa Ibrahim dan sebelumnya, manusia sering kali menjadikan manusia sebagai kurban (sesajen) kepada tuhan-tuhan atau dewa-dewa yang mereka sembah. Di Mesir, misalnya, gadis tercantik dipersembahkan kepada Dewi Sungai Nil. Sementara di Kanaan, Irak– bayi-bayi dipersembahkan kepada Dewa Baal.  Suku Aztec di Meksiko lain lagi– mereka menyerahkan jantung dan darah manusia kepada Dewa Matahari.  Di Eropa Utara, orang-orang Viking yang tadinya mendiami   Skandinavia mengurbankan pemuka-pemuka agama mereka kepada Dewa Perang “Odin”.

Namun berbeda dengan pengorbanan-pengorbanan tersebut, dalam ibadah haji kurban adalah bentuk totalitas kepasrahan mutlak seorang hamba kepada Allah. Sebagaimana Ibrahim yang memiliki kepasrahan total untuk menyembelih buah hatinya Ismail. Bagi Ibrahim, Ismail bukan hanya sekedar seorang anak untuk bapaknya, tapi juga buah hati yang sudah didambakan sepanjang hidup, dan imbalan bagi kehidupan yang penuh perjuangan. Sebagai anak Tunggal– Ismail adalah anak yang sangat dicintai dari seorang bapak tua yang sudah bertahun-tahun menanggung penderitaan memohon mendapatkan/mendambakan seorang putra.

Di tengah kebahagian dikaruniai seorag putra Ismail turunlah wahyu agar Ibrahim menyembelih anaknya– Ismail, dengan tangannya. Dapatkah kita melukiskan betapa terguncangnya Ibrahim dengan turunnya perintah ini? Meskipun dia sangat terguncang dengan pesan perintah ini, namun ini adalah perintah Allah.

Ibrahim mempunyai dua alternatif: mengikuti jeritan hatinya dan menyelamatkan Ismail, atau mengikuti perintah Tuhan  dan mengorbankan” Ismail. Ia harus memilih salah satu! “Cinta” dan “Kebenaran” sedang berkecamuk dalam batinnya (cinta yang merupakan kehidupannya dan kebenaran yang merupakan keyakinannya).

Ibrahim, sang pecinta Allah yang sejati, terlebih dahulu menghancurkan perasaan suka mementingkan diri sendiri dan menyandarkan diri hanya kepada Allah semata. Kemudian dia membawa korban yang masih muda itu ke tempat pengorbanan, menyuruhnya berbaring di atas tanah, memegang kakinya, menggenggam rambutnya dan mendongakkan kepalanya ke belakang agar dapat melihat urat lehernya.

Dengan menyebut nama Allah — dia menempelkan pisau ke leher Ismail dan berusaha memotongnya secepat mungkinp– namun tiba-tiba Allah mengirim seekor domba sebagai tebusan bagi Ismail untuk kurbannya. Berkurban menyembelih “Ismail”  hakikatnya menyembelih Diri sendiri: setiap orang memiliki “Ismail”  pada diri mereka masing-masing. Ismail adalah simbol dari segala hal yang paling dicintai, diagungkan, atau dipertahankan di dunia ini seperti harta, jabatan, ego, atau ambisi yang sering kali membuat kita terlena dan lari dari tanggung jawab ketuhanan.

Berkurban hakikatnya juga Melawan Ego (Sifat Kebinatangan): Menyembelih hewan qurban adalah simbol untuk melenyapkan sifat-sifat kebinatangan (hayawaniyah) dalam diri, seperti keserakahan, mementingkan diri sendiri, dan nafsu hewani. Ini membuka jalan bagi sifat kemanusiaan dan ketakwaan untuk tumbuh.

Kurban adalah hakikat dari Cinta dan Pengorbanan– cinta tertinggi kepada Sang Pencipta menuntut pengorbanan tertinggi pula. Sama seperti Nabi Ibrahim yang ikhlas mengorbankan putranya demi ketaatan mutlak, manusia harus berani melepaskan keterikatannya pada dunia. Berkurban untuk Penegakan Keadilan Sosial: Qurban juga dimaknai sebagai instrumen kemanusiaan dan keadilan sosial. Ini adalah bentuk penolakan terhadap kesenjangan, penindasan, dan sikap egoistis dalam masyarakat demi terciptanya tatanan sosial yang lebih setara.

Filososfi qurban adalah penyerahan total kepada Tuhan dan pembebasan diri dari segala ego atau kepentingan duniawi (berhala moderen) yang menghalangi manusia mencapai kesempurnaan. Inti dari qurban bukanlah menyembelih hewan, melainkan menyembelih sifat kebinatangan dan ego dalam diri manusia. Maka, sebagaimana Ibrahim, para jamaah harus haji memilih dan membawa Ismailmu ke Mina. Di Mina, manasik haji akan berperan sebagai Ibrahim. Dia membawa anaknya Ismail untuk dikorbankan.

Lalu, siapa atau apa yang menjadi Ismailmu?– jabatan, kehormatan, atau profesimukah? Uang, rumah, ladang pertanian, mobil, cinta, keluarga, pengetahuan, kelas sosial, seni, pakaian, ataukah nama? Kehidupan, masa muda, dan kecantikanmukah?  Hanya diri sendiri yang tahu apa yang harus dibawanya untuk dikorbankan.

Dalam makalah ini hanya dapat memberikan tanda dan petunjuk– yang harus engkau korbankan adalah segala sesuatu yang melemahkan imanmu, yang menahanmu untuk melakukan “perjalanan”, yang membuatmu enggan memikul tanggung jawab, yang menyebabkanmu bersikap egoistis, yang membuatmu tidak dapat mendengarkan pesan dan mengakui kebenaran dari Tuhan, yang memaksamu untuk “melarikan diri” dari kebenaran, yang menyebabkanmu berkilah demi kesenangan, yang membuatmu buta dan tuli.

Ketika manasik haji berada di Maqam Ibrahim, telah memahami yang menjadi kelemahan Ibrahim adalah perasaan cintanya kepada Ismail. Dia digoda oleh Setan. Bayangkanlah dirimu berada di puncak kehormatan, penuh dengan kebanggaan dan hanya ada “satu hal” yang demi hal itu engkau siap menyerahkan apa pun dan mengorbankan kecintaan lain demi meraih cintanya. Itulah Ismailmu! Ismailmu bisa berwujud manusia, objek, pangkat, jabatan atau bahkan “kelemahan”.

Selaras dengan pandangan sufi Ibnu Arabi– ritual kurban (qurban) adalah pendakian spiritual menuju Allah (Makrifat) melalui penyerahan total.  Menyembelih hewan kurban secara batin dimaknai sebagai menyembelih ego, nafsu kebinatangan, dan keterikatan duniawi di dalam diri demi mencapai cinta kasih-Nya.

Hakikat Qurb (Kedekatan) Ibnu Arabi memandang kata “kurban” yang berasal dari akar kata qaraba (mendekat) sebagai perjalanan untuk menghapus jarak antara hamba (‘abd) dan Tuhan  (Rabb).  Ibadah ini adalah sarana bagi manusia untuk melepaskan segala bentuk  ilusi ke-Aku-an (egoisme) agar dapat kembali kepada fitrah ketuhanan yang murni.

Dimensi Batin: Menyembelih “Sang Anak” (Nafsu Ego) dalam karya magnum opusnya Fushush al-Hikam, saat membahas hikmah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, pengorbanan dimaknai secara sangat simbolik. Anak kesayangan yang diperintahkan untuk disembelih adalah representasi dari apa saja yang paling dicintai manusia di dunia ini selain Allah.

Bagi seorang Sufi, penyembelihan adalah proses membunuh rasa cinta yang berlebihan kepada selain Allah, termasuk kecintaan pada ego pribadi. Ketakwaan adalah Inti Persembahan– sesuai dengan esensi spiritual Islam, Ibnu Arabi menegaskan bahwa darah dan daging kurban tidak pernah sampai kepada Tuhan, melainkan kesadaran batin yang melatarbelakanginya.  Darah adalah simbol kehidupan materialistik yang harus dikorbankan, dan sebagai gantinya, hati harus dihidupkan sepenuhnya oleh nilai-nilai ilahiah– sifat Ketuhanan. (habis)

*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Komputer Universitas Indonesia

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *