Belajar Merawat Alam dari Leluhur Nusantara: Catatan untuk Hari Lingkungan Hidup se-Dunia, 5 Juni 2026

Oleh: Toto Izul Fatah*

Ada wejangan karuhun leluhur Sunda — yang sederhana, tetapi sangat bermakna dalam memandang dan memahami alam– yaitu: leuweung kudu awian, leuwi kudu caian.  Orang tua kita dulu sering kali mengingatkan, bahwa alam adalah ibu yang mengandung dan guru yang membimbing, sekaligus cermin yang memantulkan watak manusia itu sendiri.

Bagi para leluhur — alam bukan hanya sekadar hamparan benda mati. Gunung bukan sebatas tanah -tinggi. Hutan bukan hanya kumpulan pohon besar– dan sungai bukan hanya sebagai saluran air. Hutan harus tetap berhutan, lubuk harus tetap berair. Segala sesuatu mesti dijaga menurut hakikat dan fungsinya.  Sebab, ketika hutan kehilangan pohon, sungai kehilangan air, gunung kehilangan akar, dan sawah kehilangan kesuburan, sesungguhnya yang hilang bukan hanya keseimbangan alam, tetapi juga keseimbangan batin manusia.

Alam yang rusak adalah jiwa manusia yang retak, yang tidak lagi mampu membedakan antara kebutuhan dan kerakusan.  Dalam pandangan Sunda kuno, manusia hidup bukan untuk menaklukkan semesta, tetapi untuk ngajaga, ngaraksa, ngamumule (menjaga, memelihara, mengasuh kehidupan)– karena itu, tanah bukan sekadar lahan, melainkan titipan. Air bukan sekadar sumber daya, melainkan urat nadi kehidupan. Gunung bukan sekadar bentang alam, melainkan penyangga langit batin manusia.

Maka, ketika longsor merobohkan lereng dan banjir meluap ke permukiman, itu bukan hanya bencana fisik– itu adalah pertanda bahwa hubungan manusia dengan alam telah lama koyak. Begitu pun dalam tradisi leluhur Jawa juga dikenal ajaran “laku memayu hayuning bawana”– yaitu,  memperindah, merawat, dan menyelamatkan dunia. Dunia bukan untuk dirusak demi ambisi sesaat, tetapi untuk diharmonikan agar tetap layak dihuni oleh generasi yang belum lahir.

Dalam falsafah Jawa, hidup yang utama bukan hidup yang paling berkuasa, melainkan hidup yang tahu ukuran, tahu wates, tahu unggah-ungguh terhadap jagat raya.  Orang yang melampaui batas akan berhadapan bukan hanya dengan kutukan sosial, tetapi juga dengan kemurkaan semesta.

Lalu, apa yang terjadi hari ini? Khususnya, di bumi nusantara, ketika Pancasila sudah ada, ketika agama dan kita suci sudah tersedia?  Yang sedang kita saksikan bersama adalah bukit dibelah tanpa malu. Lereng dipaksa memikul bangunan yang tidak seharusnya berdiri. Hutan digunduli atas nama investasi. Sungai dicekik sampah, beton, dan serakah yang tak pernah kenyang.

Mata air dimatikan, lalu manusia heran mengapa banjir datang dan longsor menelan rumah-rumah.  Sementara, kita sibuk menyalahkan hujan, padahal hujan hanya menjalankan tugasnya– yang salah adalah manusia yang lupa diri, lupa akar, lupa daratan, lupa bahwa alam punya hukum sunyi yang tidak bisa ditipu oleh pidato pembangunan.

Karuhun Sunda dan leluhur Jawa sama-sama mengajarkan bahwa semesta ini hidup dalam tatanan. Orang Sunda mengenal kehalusan rasa dalam membaca alam. Misalnya, kapan tanah harus diolah, kapan hutan harus dibiarkan, kapan air harus dijaga kesuciannya.  Orang Jawa mengenal harmoni antara jagad cilik dan jagad gede,—antara batin manusia dan alam raya. Bila batin manusia dipenuhi nafsu menguasai, maka kerusakan akan merambat keluar– tetapi bila batin manusia dipenuhi rasa hormat, maka alam akan menjadi sahabat.

Sejatinya, bencana bukan hanya soal curah hujan, patahan tanah, atau buruknya drainase. Bencana adalah bahasa alam ketika manusia terlalu lama tuli– adalah teguran ketika manusia terlalu lama pongah– adalah jawaban semesta atas kesombongan peradaban yang merasa bisa membeli segalanya, kecuali keseimbangan. Di sinilah letak kebesaran ajaran leluhur kita. Mereka mungkin tidak bicara dengan istilah ekologi moderen, perubahan iklim, atau mitigasi bencana seperti para akademisi hari ini– tetapi, mereka mewariskan inti kebijaksanaan yang jauh lebih purba dan lebih jernih. Contohnya, jangan sakiti alam, kalau tidak ingin disakiti kehidupan.

Jangan rampas hak gunung, kalau tidak ingin gunung mengambil kembali haknya. Jangan bunuh hutan, kalau tidak ingin air mencari jalannya sendiri ke ruang-ruang hidup manusia. Belajar dari para leluhur nusantara,  mereka tidak hidup dengan semangat menundukkan bumi, melainkan dengan kesadaran menumpang di atasnya.

Ada rasa hormat kepada pohon, kepada mata air, kepada tanah, kepada musim, kepada suara angin, kepada arah hidup yang ditentukan oleh keselarasan. Mereka paham, manusia bukan pusat semesta. Manusia hanyalah bagian kecil dari jejaring kehidupan yang lebih besar, yang tidak boleh diputus seenaknya– yang terjadi dengan manusia moderen saat ini, justru membanggakan pemutusan itu– membangun tanpa mendengar bisikan tanah– menggali tanpa membaca penderitaan gunung.

Menebang tanpa merasa berdosa kepada hujan– dan menyumbat sungai, lalu menamai banjir sebagai musibah, seolah-olah alam yang bersalah– karena itu, ajakan untuk kembali mencontoh para leluhur dalam merawat alam menjadi relevan. Mari kita kembali pada kesadaran bahwa bumi bukan warisan yang boleh dihabiskan, tetapi titipan yang wajib dijaga. Merawat alam bukan semata urusan teknis, melainkan urusan jiwa– bukan hanya soal kebijakan, tetapi soal kesadaran.  Alam sesungguhnya tidak pernah jahat– hanya jujur– akan memeluk manusia yang menjaganya, dan akan menunjukkan murkanya kepada manusia yang mengkhianatinya.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *