Kyai dan Cultural Broker dalam Agama, Tradisi, dan Modernitas

Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*

Duhulu– kalau ada acara bersih desa, yang ditunjuk jadi MC bukan lurah, tetapi Kyai. Kalau ada pernikahan beda tradisi yang diminta menengahi  bukan KUA, tetapi Kyai. Kalau ada tradisi sedekah bumi yang mau dibenturkan fatwa haram, yang duduk paling tengah mendamaikan tetap Kyai. Dalam ilmu Antropologi, peran itu disebut cultural broker: penengah budaya. Kyai menerjemahkan ajaran Islam ke bahasa budaya lokal. Sekaligus menerjemahkan aspirasi rakyat ke telinga penguasa. Tanpa Kyai, Islam di Nusantara tidak akan selembut dan sekuat sekarang.

Hari ini cultural broker itu mulai sepi lapak– tradisi dibenturkan dengan dalil murni. Modernitas masuk tanpa filter. Pertanyaannya: Masihkah Kyai sanggup jadi cultural broker di tengah tarikan dua kutub: Puritanisme dan liberalisme? Jawabannya: Masih bisa–tetapi Kyai harus punya 3 modal: kearifan tafsir, keberpihakan pada umat, dan keberanian berijtihad sosial.

Pertama, kearifan tafsir: membedakan mana Aqidah mana adat. Cultural broker  harus paham peta. Mana wilayah merah: aqidah, syariah qath’iy yang tidak bisa ditawar. Mana wilayah abu-abu: muamalah, adat, tradisi yang ruang ijtihadnya luas. Kyai dulu ahli di sini. Tahlilan tidak dibenturkan dengan bid’ah. Wayang tidak langsung divonis syirik. Slametan tidak dihukumi musyrik. Kyai bilang: “Selama tidak melanggar syariah, adat itu karpet indah untuk Islam.” Hari ini banyak broker dadakan yang gagap tafsir. Sedikit-sedikit bid’ah, sedikit-sedikit sesat. Akibatnya: umat tercerai-berai. Cultural broker yang baik tidak memotong karpet, tetapi menggulungnya pelan-pelan sambil memberi ganti yang lebih indah: tradisi yang disucikan niatnya.

Kedua, keberpihakan pada umat: bukan broker yang jual mahal. Broker sejati tidak berdiri di pagar. Dia masuk ke dua kubu dan bicara bahasa keduanya. Ke santri, Kyai bicara dalil. Ke Abangan, Kyai bicara simbol dan rasa. Ke pemerintah, Kyai bicara kemaslahatan. Kyai Hasyim Asy’ari itu  cultural broker ulung. Beliau fatwa hubbul wathan minal iman saat kolonial datang. Itu ijtihad sosial: menerjemahkan cinta tanah air ke bahasa iman agar santri mau jihad. Cultural broker hari ini harus berpihak ke umat yang bingung. Saat umat dihadapkan tradisi vs agama, Kyai hadir bilang: Dua-duanya bisa. Asal niatnya lillah. Saat umat terjepit modernitas vs syariah, Kyai hadir bikin pesantren vokasi: ngaji kitab jalan, ngoding juga jalan.

Ketiga, keberanian berijtihad sosial: tidak hanya menukil, tetapi juga menimbang. Cultural broker tidak bisa hanya jadi tukang foto kopi kitab. Dia harus berani  mengaduk  teks dengan konteks. Inilah ulama arif billah wa arif bi zamanihi: kenal Tuhan, kenal zaman. Dulu Kyai ijtihad soal bank. Awalnya haram mutlak. Lalu muncul BMT, koperasi syariah. Kyai jadi broker– tidak menghalalkan riba, tetapi membuka pintu alternatif. Begitu juga soal KB, pemilu, BPJS.

Tanpa ijtihad sosial, Kyai akan jadi museum. Dihormati, tetapi tidak dipakai. Cultural broker harus berani bilang: Tradisi ini kita rawat, tapi caranya kita upgrade. Tahlilan tetap jalan, tetapi isinya diganti pengajian + sedekah untuk stunting.

Tantangan hari ini: cultural broker digantikan algoritma

Algoritma TikTok lebih cepat jadi broker daripada Kyai– tetapi algoritma tidak punya sanad dan adab. Kyai kalah cepat, tapi menang.  Dunia butuh broker– bukan pemukul. Peradaban maju bukan karena kubu yang paling keras, tapi karena ada penengah yang paling jernih. Kyai, dengan sanad dan adabnya, adalah cultural broker paling jernih yang dimiliki bangsa ini.

Selama masih ada Kyai yang mau duduk di Tengah– tidak meninju tradisi, tidak menjilat modernitas — maka kyai masih  cultural broker  terbaik. Jika broker ini pensiun, yang tersisa hanya tukang tabrak– dan umat yang jadi korbannya. Wallahu a’lam bishshawab.

*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *