Spirit Hijrah 1448 H: Momentum Perubahan Diri dan Peradaban

Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*

Setiap tahun– umat Islam menyambut datangnya bulan Muharram sebagai penanda tahun baru Hijriyah. Pada tahun ini, 01 Muharram 1448 H jatuh pada Selasa, 16/Rabu 17 Juni 2026, sebagaimana ditetapkan oleh Pemerintah dan Muhammadiyah, sementara Nahdlatul Ulama menetapkannya pada Rabu, 17 Juni 2026 — karena perbedaan metode penentuan hilal– namun, peringatan tahun baru Hijriyah bukanlah sekadar pergantian angka dalam kalender. Momen sakral untuk merefleksikan makna hijrah yang sesungguhnya—sebuah perjalanan transformatif yang mengubah sejarah peradaban manusia.

Kata hijrah sering kali dipahami secara sempit sebagai perpindahan fisik Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Padahal, esensi hijrah jauh lebih dalam dari itu. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, menegaskan bahwa hijrah adalah perubahan dari keadaan umat Islam yang tertinggal menuju kehidupan yang lebih baik dan berdampak luas. Kemandirian menjadi inti dari spirit hijrah ini

Hijrah mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan terus-menerus menuju perbaikan. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan kemarin, maka dia merugi. Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, maka dia celaka.” Inilah tolok ukur hijrah yang sesungguhnya: setiap hari harus ada peningkatan kualitas diri, bukan sekadar perubahan tempat tinggal atau penampilan luar.

Makna Muharram: Bulan yang Dimuliakan

Muharram adalah salah satu dari  empat bulan haram  yang dimuliakan Allah, bersama Dzulqadah, Dzulhijjah, dan Rajab . Bulan ini disebut Syahrullah  (bulan Allah) dan memiliki keutamaan yang istimewa. Rasulullah SAW bersabda: Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah—yaitu Muharram. (HR. Muslim). Keutamaan ini seharusnya mendorong umat Islam untuk mengisi bulan Muharram dengan amal saleh, bukan sekadar seremonial tahunan yang lewat begitu saja.

Hijrah bukanlah pelarian, melainkan strategi cerdas untuk membangun peradaban baru. Ketika Nabi SAW hijrah ke Madinah, beliau membangun masyarakat yang berkeadilan, inklusif, dan beradab. Piagam Madinah menjadi konstitusi pertama di dunia yang mengakui keberagaman suku, agama, dan kepentingan di bawah naungan persatuan– karena itu, hijrah adalah jembatan emas untuk membentuk pribadi yang transformatif—individu yang tidak hanya memperbaiki diri sendiri, tetapi juga mampu membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

Dalam konteks kekinian, spirit hijrah harus diwujudkan dalam berbagai dimensi kehidupan, seperti: Pertama, hijrah intelektual.  Umat Islam harus bergerak dari keterbelakangan pendidikan menuju penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejarah membuktikan bahwa kejayaan Islam di masa lalu ditopang oleh peradaban ilmu yang maju. Kedua, hijrah moral. Umat Islam harus membersihkan diri dari perilaku tercela menuju integritas dan akhlak mulia. Hijrah mengajarkan bahwa perubahan dimulai dari dalam diri. Ketiga, hijrah sosial. Umat Islam harus meninggalkan sikap intoleransi, kekerasan, dan ekstremisme menuju kedamaian dan rahmat bagi seluruh alam.

Tahun ini, perbedaan penetapan awal Muharram antara Pemerintah dan Muhammadiyah di satu sisi dengan NU di sisi lain menjadi pengingat bahwa perbedaan pendapat dalam hal furu’iyyah (cabang) adalah bagian dari dinamika keilmuan Islam yang wajar. Hal terpenting adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan ini dengan dewasa dan saling menghormati. Perbedaan metode hisab dan rukyat bukanlah alasan untuk berpecah belah, melainkan kekayaan khazanah Islam yang perlu disyukuri .

Doa dan Amalan Awal Tahun

Salah satu tradisi yang berkembang di kalangan umat Islam adalah membaca doa awal tahun– riwayat dari Abdullah bin Hisyam menyebutkan: “Para Sahabat Rasulullah SAW mempelajari doa berikut jika memasuki tahun atau bulan: ‘Ya Allah, masukan kami ke dalamnya dengan aman, iman, selamat dan Islam, mendapatkan ridha Allah, dan dijauhkan dari gangguan setan”. (HR. Thabrani). Doa ini mengajarkan kita untuk memohon keamanan, keimanan, keselamatan, dan perlindungan dari setan di tahun yang baru. Ini adalah bentuk harapan sekaligus komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Tahun Baru Hijriyah 1448 H adalah panggilan untuk  benar-benar berhijrah—bergerak dari kondisi buruk menuju kondisi yang lebih baik– bukan hanya hijrah fisik, tetapi hijrah pemikiran, hijrah keyakinan, hijrah selera, dan hijrah akhlak.

Di saat kita bersiap menyambut 01 Muharram, pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri sendiri adalah, sudahkah kita benar-benar berhijrah? Sudahkah kita meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini membelenggu? Sudahkah kita memulai langkah kecil menuju perbaikan? Hijrah tidak pernah mengenal kata terlambat. Selagi hayat masih dikandung badan, selama itu pula pintu hijrah terbuka lebar. Wallahu a’lam bish-shawab.

*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *