Doaku untuk Presidenku: Solusi Lewat Jalan Sunyi

Oleh: Toto Izul Fatah*

Saya ingin memulai dengan ungkapan yang berpesan sangat kuat dalam ingatan kolektif kita sebagai umat beragama. Usaha tanpa doa tidak sempurna. Berdoa tanpa usaha sia-sia. Dalam konteks ini, doa pertama yang mungkin layak kita panjatkan dengan segala kerendahan hati adalah:  Ya… Allah, kami tak sanggup memikul beban ini tanpa ridho dan pertolonganMu.

Presidenku yang terhormat. Ada saatnya kritik tidak harus selalu datang dengan suara keras. Ada saatnya kecintaan kepada bangsa tidak selalu harus dinyatakan dalam bentuk kemarahan—dan ada saatnya pula, doa menjadi bahasa paling jujur dari rakyat kepada pemimpinnya.

Presidenku, ada kalanya jalan keluar dari krisis bangsa ini tidak hanya datang dari rapat kabinet dengan sederet angka-angka statistik–tetapi, ada kalanya jalan keluar itu datang dari doa yang tulus, taubat yang sungguh-sungguh, dan keberanian moral untuk memperbaiki kesalahan.

Presidenku, di tengah suasana kebangsaan yang tidak mudah, saya percaya Presidenku telah bekerja keras. Negeri ini tidak sedang berada di ruang kosong. Ada tantangan ekonomi global, tekanan geopolitik, harga-harga yang bergerak naik, pengangguran, daya beli rakyat, korupsi, hingga keresahan sosial, yang semuanya menjadi beban besar Presidenku– karena itu, saya tidak ingin melihat Presidenku semata dari sudut kritik. Saya juga ingin melihatnya dari sisi niat baik, ketulusan, dan ikhtiar besar yang sedang dibangun.

Saya bisa memahami mengapa Presidenku membuat program-program besar seperti Koperasi Desa Merah Putih, Makan Bergizi Gratis, Kampung Nelayan, dan Sekolah Rakyat. Di balik semua itu, saya menangkap ada niat tulus untuk membuat rakyat lebih sehat, anak-anak lebih cerdas, ekonomi desa lebih kuat, nelayan lebih berdaya dan pengangguran berkurang.

Harus jujur diakui bahwa itu niat yang mulia– dan itu juga niat yang patut dihargai– namun, Presidenku juga harus sadar, bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, niat baik saja ternyata tidak cukup. Ketulusan saja tidak otomatis membuat program berjalan baik.  Banyak gagasan besar gagal bukan karena niatnya buruk, tetapi karena tata kelolanya lemah, kontrolnya longgar, aparat pelaksananya tidak bersih, komunikasinya buruk, dan keberanian untuk melakukan koreksi sering datang terlambat.

Program besar membutuhkan niat besar– tetapi niat besar juga membutuhkan sistem besar. Membutuhkan perencanaan yang matang, data yang akurat, kontrol yang ketat, ketegasan terhadap penyimpangan, keberanian mencopot orang yang salah.  Termasuk,  kerendahan hati untuk mengakui bahwa tidak semua kebijakan harus dipertahankan jika dalam pelaksanaannya ternyata melahirkan banyak masalah.

Di sinilah seorang pemimpin diuji untuk bersedia mendengar dan mengoreksi– tetapi, selain ikhtiar lahir, ada hal lain yang tidak boleh dilupakan. Ada dimensi batin. Ada dimensi spiritual. Ada hubungan sunyi antara manusia dengan Sang Maha Pencipta.  Sebab, program besar tanpa ridho Sang Maha bisa kehilangan berkah. Kebijakan yang tampak hebat di atas kertas bisa berubah menjadi beban.

Ingat, bangsa ini sejak dahulu tidak hanya dibangun dengan rasio, tetapi juga dengan rasa. Para leluhur Nusantara mengajarkan harmoni, keselarasan, laku batin, tirakat, pengendalian diri, dan kesadaran bahwa manusia tidak boleh merasa paling berkuasa.

Ada langit di atas langit. Ada kekuatan yang melampaui kalkulasi manusia. Ada kehendak Tuhan yang tidak bisa ditaklukkan oleh jabatan, senjata, uang, atau kekuasaan.  Dalam konteks itulah, mungkin sudah saatnya Presidenku menempuh jalan sunyi.

Bukan jalan sunyi untuk lari dari tanggung jawab. Bukan pula jalan sunyi untuk meninggalkan kerja-kerja besar kenegaraan– tetapi jalan sunyi untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kekuasaan, lalu bertanya dengan jujur di hadapan Allah:

Apa yang salah dari kami?

Apa yang salah dari cara kami mengelola negara?

Apa yang salah dari cara kami menggunakan kekuasaan?

Apa yang salah dari cara kami memperlakukan rakyat?

Apa yang salah dari cara kami menjaga amanah?

Apa yang salah dari cara kami memperlakukan alam, hukum, uang negara, dan masa depan anak cucu kami?

Pertanyaan seperti itu tidak akan merendahkan Presidenku. Justru sebaliknya, dia akan meninggikan derajat Presidenku. Sebab, hanya pemimpin yang kuat secara batin yang berani mengaku lemah di hadapan Tuhan. Bangsa ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang bisa berpidato dengan tegas di hadapan rakyat, tetapi juga bisa menundukkan kepala kepada Allah di ruang sunyi.

Saya yakin, jika jalan lahir dan jalan batin ditempuh bersamaan, pintu-pintu kemudahan akan terbuka. Mungkin bukan dengan cara yang kita duga. Mungkin bukan lewat jalan yang kita rancang–tetapi Allah selalu punya cara untuk menolong hamba-Nya yang tulus, rendah hati, dan mau memperbaiki diri.

Karena itu, inilah doaku untuk Presidenku:

Ya Allah…Ya Rahman Ya Rahim…

Semoga Presiden diberi kesehatan. Semoga Presiden diberi kejernihan hati.

Semoga Presiden diberi keberanian untuk mendengar  suara rakyat.

Semoga Presiden diberi ketegasan terhadap para pembantu yang menyimpang.

Semoga Presiden diberi kekuatan untuk mengoreksi kebijakan yang perlu diperbaiki.

Semoga Presiden dijauhkan dari para penjilat yang hanya membuat laporan indah.

Semoga Presiden didekatkan dengan orang-orang jujur yang berani berkata benar.

Semoga Presiden tidak hanya sukses membangun program besar, tetapi juga sukses menjaga amanah besar.

Amin Ya Robbal Alamin.

Presidenku, teruslah bekerja–tetapi jangan lupa berdoa. Teruslah membangun–tetapi jangan lupa menunduk. Teruslah memimpin– tetapi jangan lupa bahwa di atas semua rencana manusia, ada rencana Allah yang jauh lebih besar.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *