Daging Ayam, Menyehatkan Atau….?

Prof. Dr. Ir. Nur Hidayat, M.Sc*

Hari ini– kebetulan diminta menguji disertasi tentang rumah Internet of Things (IoT) pada Rumah Potong Ayam. Mau bicara IoT kok kurang pas bagi saya sebagai orang pangan, maka saya memilih topik bahasan ‘Daging Ayam’ saja. Lauk yang paling banyak diminati mungkin. Di sini saya mencoba menyampaikan nutrisi daging ayam secara umum, bukan ayam goreng maupun sosis ayam.

Jika kita membandingkan daging ayam (khususnya bagian dada) dengan daging merah sapi), ayam unggul secara signifikan sebagai produk dietetik. Berdasarkan USDA National Nutrient Database– mari kita lihat perbandingannya per 100 gram: Protein Tinggi:  Dada ayam mengandung  31,02 g  protein, lebih tinggi dibandingkan daging sapi yang rata-rata  27,23 g. Powerhouse Niacin (Vitamin B3):  Ayam mengandung  13,712 mg  Niacin, hampir tiga kali lipat dari daging sapi ( 5,232 mg ). Niacin krusial untuk metabolisme energi, kesehatan kulit, dan sistem saraf.

Rendah Kalori dan Lemak Jenuh:  Ayam tanpa kulit mengandung lemak 2–3 kali lipat lebih rendah dibanding ayam dengan kulit, menjadikannya ideal untuk kesehatan kardiovaskular. Selain itu, ayam memiliki keunggulan biologis:  kadar kolagen yang rendah. Kolagen adalah protein struktural yang justru  mengurangi  daya cerna daging– karena rendah kolagen– protein ayam lebih mudah terurai dan diserap oleh tubuh.  Tahukah Anda?  Kebutuhan protein harian rata-rata orang dewasa adalah  0,66 g/kg  berat badan– namun, bagi atlet dan anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, kebutuhannya meningkat dua kali lipat menjadi 1,12 g/kg berat badan. Kualitas protein ayam yang mudah cerna menjadikannya sumber asupan ideal bagi semua kelompok usia ini.

Dalam dunia Food Science– kita mengenal istilah  Nutricines —komponen pangan dengan aktivitas biologis penting bagi sel. Dua “bintang” utama dalam daging ayam moderen adalah: selenium organik:  Dengan menggunakan selenium organik (seperti ragi  selenized) pada pakan, daging Ayam menjadi sumber mineral pencegah kanker yang luar biasa. Studi oleh Duffield-Lillico et al– menunjukkan bahwa suplementasi selenium yang tepat dapat mengurangi insiden  kanker prostat sebesar 67 persen dan  kanker kolorektal sebesar 58 persen.

Carnosine:  Dipeptida —ini terkonsentrasi lebih tinggi pada otot putih (dada) Ayam. Carnosine berfungsi sebagai  buffer  pH seluler dan antioksidan kuat yang menangkal radikal bebas serta mencegah oksidasi protein yang merusak sel. Semoga berita positif ini menambah positif otak kita– agar tidak selalu berpikir negatif.

*Dosen Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya, Malang

Editor: Ries Mariana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *