Pijarberita.com, Timor Tengah Selatan, NTT – Universitas Brawijaya (UB) tetap berkomitmen mendukung pembangunan masyarakat melalui program Doktor Mengabdi yang dilaksanakan di Desa Tublopo, Kecamatan Amanuban Barat, Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Program pengabdian kepada masyarakat tersebut berfokus pada percepatan penurunan stunting melalui edukasi gizi serta pengembangan beras granul berbahan baku komoditas lokal.
Pelaksanaan program bersinergi dengan kegiatan Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya. Tanggal 14 Juli 2026 lalu, dilakukan prosesi penyerahan mahasiswa MMD kepada Pemerintah Desa Tublopo. Acara dihadiri oleh Kepala Desa beserta perangkat desa, Camat Amanuban Barat, serta Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Selatan, yang menyambut baik kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Program MMD akan berlangsung satu bulan dengan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat, sementara program Doktor Mengabdi akan berlanjut hingga Desember 2026. Kedua program ini diharapkan memberikan dampak yang berkelanjutan, khususnya dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dan ketahanan pangan berbasis potensi lokal.
Ketua Program Doktor Mengabdi, Prof. Dr. Ir. Nur Hidayat, mengatakan, stunting masih menjadi tantangan besar yang memerlukan penanganan secara terpadu. Selain memberikan sosialisasi mengenai pentingnya pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, tim juga memperkenalkan inovasi beras granul sebagai alternatif pangan bergizi yang memanfaatkan bahan baku lokal yang tersedia di wilayah TTS.
“Beras granul merupakan salah satu inovasi pangan yang dapat dikembangkan dari komoditas lokal sehingga memiliki nilai gizi yang baik sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil pertanian masyarakat. Kami berharap teknologi ini dapat menjadi salah satu solusi dalam mendukung ketahanan pangan keluarga dan upaya pencegahan stunting,” kata Prof. Nur Hidayat.
Nur Hidayat menegaskan, keberhasilan program pengabdian masyarakat tidak dapat dicapai hanya oleh perguruan tinggi, karena itu, dibutuhkan kolaborasi yang erat antara akademisi, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat.
“Kami berharap terjalin sinergi yang semakin kuat antara perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah desa, pemerintah daerah, serta instansi terkait sehingga program penurunan stunting dapat terus berjalan secara berkesinambungan. Harapan kami, melalui kerja sama yang baik, angka stunting akan terus menurun hingga pada akhirnya tidak ada lagi anak yang mengalami stunting,” ungkapnya.
Selama pelaksanaan program, tim Doktor Mengabdi bersama mahasiswa MMD akan melaksanakan berbagai kegiatan, di antaranya edukasi mengenai gizi seimbang, sosialisasi pencegahan stunting, pelatihan pembuatan beras granul berbasis komoditas lokal, serta pendampingan kepada masyarakat dalam penerapan teknologi pangan yang sesuai dengan kondisi setempat.
Secara terpisah, Pemerintah Desa Tublopo mengapresiasi kepercayaan Universitas Brawijaya menjadikan desa tersebut sebagai lokasi pelaksanaan program pengabdian. Kehadiran dosen dan mahasiswa diharapkan mampu memberikan pengetahuan baru sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Melalui kolaborasi Program Doktor Mengabdi dan Mahasiswa Membangun Desa, Universitas Brawijaya itu, tidak hanya menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkuat pemberdayaan masyarakat melalui inovasi yang relevan dengan potensi daerah. Sinergi ini menjadi wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan kesehatan masyarakat, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta terwujudnya generasi Indonesia yang lebih sehat dan bebas stunting. (ries/nh)
Editor: Ries Mariana
Caption Foto: Doktor Universitas Brawijaya (UB) mengabdi di Tublopo, Timor Tengah Selatan: Perkuat Upaya Penurunan Stunting melalui inovasi beras granul (Foto: Nur Hidayat)
