Renungan Dhino Jemuwah: Relevansi Tradisi Intelektual bagi Masyarakat Ddigital ( bag-4)

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)

Oleh: Anwar R. Soediro*

IV.Kritik terhadap Masyarakat Digital*

Menurut Frithjof Schuon– tantangan utama masyarakat digital bukanlah teknologinya itu sendiri, melainkan  sekularisme dan materialisme yang menungganginya. Muslim digital yang tangguh adalah mereka yang mampu menggunakan teknologi sebagai alat bantu duniawi, tetapi hatinya tetap bermukim dalam kesadaran transenden yang abadi.

Schuon— dalam pemikiran filsafat perenial: Pertama, tradisi intelektual perennial, percaya  bahwa  pada  tingkat  tertinggi, yakni tingkat transendental, dapat terlihat suatu hakikat kebenaran dalam berbagai bentuk agama  dan  tradisi,  yang  diturunkan  pada  zaman  yang  berbeda,  pada masyarakat yang berbeda, dan dalam bentuk bahasa yang berbeda. Walaupun terdapat bentuk-bentuk bahasa yang berbeda, dan dilahirkan pada zaman yang berbeda pula, tetapi terdapat satu prinsip atau satu hakikat di balik agama-agama atau tradisi yang otentik ini, yang dapat menyatukan pemahaman di tingkat transendental.

Kedua, dalam setiap bentuk seni (art form), dalam tradisi, ada prinsip-prinsip kebenaran dan keindahan. Setiap keindahan  dalam  masyarakat  tradisional  atau  agama-agama  tradisional merujuk pada hakikat yang sama. Ketiga, kaum tradisionalis yakin bahwa kebudayaan, pemikiran, dan peradaban modern adalah buruk karena tidak berasaskan  prinsip  keagamaan  dan  kerohanian, dan menunjukkan  atau memperlihatkan ciri-ciri kejatuhan manusia.

Dalam kacamata filsafat perenial (Perennialism Philosophy) yang diusung oleh Frithjof Schuon, masyarakat digital saat ini dipandang sebagai puncak atau perpanjangan ekstrem dari krisis modernitas. Sebelum era algoritma media sosial mendominasi– Schuon sudah mengajukan prinsip-prinsip metafisika esoteris yang menyediakan kritik tajam sekaligus panduan mendasar bagi masyarakat digital Muslim agar tidak kehilangan orientasi spiritual.

Menurut Schuon, teknologi informasi dan dunia maya berisiko memotong akar manusia dari yang Transenden: a. Membedakan yang Absolut dan yang Relatif  (Discernment). Konsep paling mendasar dari pemikiran Schuon adalah kemampuan memisahkan antara yang Absolut (Atma/The Real) dan yang Relatif (Maya/The Illusory)

Kritik terhadap Dunia Digital: Media sosial adalah perwujudan paling nyata dari dunia Maya (ilusi). Di ruang digital, hal-hal yang bersifat superfisial seperti jumlah pengikut (followers), pencitraan visual (aesthetic piety), dan validasi duniawi sering kali dianggap sebagai sebuah kebenaran mutlak.

Solusi bagi Masyarakat Digital Muslim: Muslim digital harus menggunakan intelek spiritualnya (intellect’s atau mata hati-nya) untuk selalu sadar bahwa apa yang ada di layar gawai hanyalah realitas sekunder dan semu. Kebenaran Mutlak dan ketenangan sejati hanya ada pada Allah, bukan pada algoritma.

b. Krisis Otoritas dan “Intelektualisme Semu Schuon membedakan secara tegas antara Rasio (Ratio/Akal Pikiran Eksternal) dan Intelek (Intellect/Pengetahuan Sakral). Kritik terhadap Dunia Digital: Internet menyediakan banjir informasi (sains empiris, potongan video dakwah, ensiklopedia digital) yang sering kali disalah-pahami sebagai ilmu pengetahuan atau kearifan sejati. Dampaknya adalah munculnya ustadz/gus/guru/kyai instan dan pengabaian terhadap kedalaman ilmu spiritual demi konten yang viral.

Solusi bagi Masyarakat Digital Muslim: Muslim masa kini tidak boleh hanya mengandalkan ingatan eksternal/digital untuk belajar agama. Dibutuhkan bimbingan dari otoritas keagamaan tradisional yang sahih guna menjaga kesucian rantai keilmuan (sanad) agar pemahaman tidak mengalami reduksi makna.

c. Keindahan sebagai Refleksi yang Sakral  (Virtue and Beauty) Schuon sangat menekankan pentingnya keindahan karakter (beauty of soul/virtue) serta keindahan visual sebagai pancaran dari Yang Ilahi. Kritik terhadap Dunia Digital: Ruang siber saat ini dipenuhi oleh kekacauan estetika spiritual: ujaran kebencian, debat kusir keagamaan, perundungan siber (cyberbullying), serta pamer ibadah yang memicu penyakit hati seperti riya dan hasad.

Solusi bagi Masyarakat Digital Muslim: Muslim digital wajib mempraktikkan etika esoteris, seperti rendah hati (humility), keluhuran budi (nobility), dan kemurahan hati (generosity) saat jari mengetik atau membuat konten di media sosial. Konten digital seharusnya memancarkan keindahan seni islami yang menyejukkan, bukan memicu polarisasi.

d. Konsentrasi dan Doa (Concentration and Prayer)  Sebagai penawar dari disrupsi dan distraksi dunia digital, Schuon menekankan pentingnya Konsentrasi (Concentration) yang diwujudkan melalui doa dan zikir. Kritik terhadap Dunia Digital: Gawai dirancang untuk membuat perhatian manusia terpecah (distracted). Notifikasi dan guliran tanpa akhir (infinite scrolling) menjauhkan manusia dari keheningan yang diperlukan untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Solusi bagi Masyarakat Digital Muslim: Menghadapi masyarakat digital berarti harus memiliki disiplin untuk menarik diri secara berkala dari dunia maya (digital detox). Ibadah formal (salat lima waktu) dan zikir kalbu (prayer of the heart) harus menjadi jangkar utama agar batin tetap terhubung dengan Yang Satu (The One) di tengah riuhnya arus informasi.

Ada dua cara yang diambil oleh kaum tradisional untuk menyadarkan manusia moderen: Pertama, dari segi intelektual, memberikan suatu penjelasan pada manusia moderen (masyarakat digital) bahwa ada yang absolut di balik realitas ini. Tidak semua yang ada relative–dengan doktrin ini manusia moderen dapat mengingat kembali hakikat kejadiannya, hakikat dirinya. Sebab, benih kesatuan, benih tauhid masih ada dalam diri manusia. Dengan cara ini diharapkan lahir golongan pemikir dan penulis yang mengetengahkan doktrin-doktrin tradisional.

Kedua, dengan mempertahankan dan memelihara bentuk-bentuk tradisional yang ada, karena dalam bentuk-bentuk tradisional, misalnya dalam pengetahuan dan kesenian tradisional, terdapat kebenaran abadi, atau pernyataan yang absolut. Jadi, pesan kaum tradisionalis persis sama dengan pesan agama-agama, yaitu mengingatkan dan tidak membawa sesuatu yang baru. Setiap agama membawa yang asli, yang telah dilupakan, tetapi kini perlu diingat kembali. (bersambung)

*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *