Penasihat Militer RI untuk PBB Tahun 2017 – 2019 (Foto: Jenderal TNI Purn Fulad)
Oleh: Mayor Jenderal TNI (Purn.) Fulad*
Seumur hidup saya dididik menjadi prajurit. Saya diajarkan bahwa musuh adalah siapa pun yang mengancam kedaulatan negara. Musuh itu harus dihadapi, dicegah, dan bila perlu dihancurkan– namun setelah pension– saya menemukan kenyataan yang jauh lebih mengusik. Ada musuh yang tidak datang dari seberang lautan, tidak mengibarkan bendera asing, tidak membawa tank ataupun rudal.
Musuh itu duduk nyaman di balik meja, memegang pena, mengendalikan anggaran, lalu perlahan menggerogoti pertahanan bangsa dari dalam. Korupsi bukan sekadar kejahatan ekonomi. Dalam perspektif pertahanan negara, korupsi adalah pengkhianatan terhadap prajurit yang setiap hari mempertaruhkan nyawa untuk menjaga Merah Putih.
Dalam penugasan saya sebagai Penasihat Militer RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (2017–2019)– saya belajar bahwa banyak negara tidak runtuh karena kalah bertempur. Mereka lebih dahulu kalah karena institusinya kehilangan integritas. Di dunia militer terdapat satu hukum yang tidak pernah berubah: logistik adalah nyawa. Tanpa amunisi, keberanian tidak mempunyai daya tembak. Tanpa bahan bakar, alutsista secanggih apa pun berubah menjadi besi yang tak bergerak. Tanpa pemeliharaan, kapal, pesawat, dan kendaraan tempur perlahan kehilangan kemampuan operasionalnya. Tanpa latihan yang memadai, prajurit memasuki medan tugas dengan kesiapan yang tidak optimal– karena itu, setiap rupiah anggaran pertahanan sesungguhnya adalah bagian dari sistem penyelamat nyawa.
Ketika anggaran diselewengkan yang berkurang bukan hanya angka dalam laporan keuangan– yang ikut terkikis adalah kesiapan tempur, daya tangkal negara, dan keselamatan prajurit. Korupsi tidak berhenti pada kerugian negara. Dampaknya berakhir di garis depan. Perang moderen tidak hanya ditentukan oleh jumlah rudal atau kecanggihan teknologi. Kekuatan negara ditentukan oleh kualitas tata kelolanya. Negara dengan birokrasi yang bersih akan mampu membangun pertahanan yang kuat. Sebaliknya, negara yang membiarkan korupsi berkembang sedang memperlemah dirinya sendiri sebelum musuh datang menyerang.
Setiap rupiah yang hilang akibat korupsi berarti lebih sedikit perlengkapan yang tersedia, lebih sedikit latihan yang dapat dilaksanakan, lebih sedikit fasilitas yang dapat dibangun, dan lebih kecil kemampuan negara melindungi para prajuritnya. Korupsi di sektor energi memperbesar kerentanan strategis. Korupsi di sektor pangan melemahkan ketahanan nasional. Korupsi dalam pengadaan pertahanan mengurangi daya tangkal negara.
Sebab kekuatan militer tidak pernah berdiri sendiri– dia ditopang oleh pemerintahan yang bersih, ekonomi yang sehat, dan kepemimpinan yang berintegritas. Itulah mengapa korupsi sesungguhnya merupakan ancaman terhadap keamanan nasional. Dia tidak meledak seperti bom.– dia menggerogoti seperti rayap — dan ketika ancaman nyata datang, kerusakan itu baru terlihat sering kali sudah terlambat.
Melindungi Prajurit Berarti Memerangi Korupsi
Menghormati prajurit tidak cukup dilakukan melalui upacara dan pidato. Penghormatan sejati diwujudkan melalui anggaran yang dikelola dengan jujur, pengadaan yang profesional, pemeliharaan alutsista yang bertanggung jawab, serta sistem hukum yang tidak memberi ruang bagi penyimpangan– karena itu, pemberantasan korupsi harus menjadi bagian dari strategi pertahanan nasional.
Penegakan hukum harus dilakukan secara tegas tanpa pandang bulu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Pengelolaan anggaran negara harus semakin transparan, profesional, dan akuntabel– dan yang paling penting, budaya integritas harus menjadi bagian dari karakter setiap penyelenggara negara. Negara tidak akan pernah menjadi kuat apabila para pengkhianat justru hidup lebih nyaman daripada mereka yang mengabdi.
Hari ini ribuan prajurit Indonesia berjaga di gunung, hutan, laut, dan pulau-pulau terluar– mereka tidak pernah menawar pengabdian. Mereka tidak pernah meminta kemewahan. Mereka hanya berharap negara tidak mengkhianati sumpah yang telah mereka pegang. Jangan biarkan mereka berangkat menjalankan tugas dengan perlengkapan yang tidak layak karena anggaran diselewengkan.
Jangan biarkan keluarga prajurit membayar harga dari keserakahan segelintir orang. Bagi saya, ancaman terbesar terhadap Republik bukan hanya datang dari luar batas negara. Ancaman terbesar adalah ketika korupsi membuat bangsa ini kehilangan kemampuan menjaga dirinya. Rudal musuh mungkin dapat dicegat oleh sistem pertahanan udara– tetapi korupsi yang dibiarkan akan melumpuhkan pertahanan bangsa secara perlahan, merampas kesiapan tempur, mengikis kepercayaan, dan pada akhirnya membunuh prajurit, bukan oleh peluru musuh, melainkan oleh pengkhianatan bangsanya sendiri.
Sejarah berkali-kali mengajarkan bahwa negara jarang runtuh karena serangan dari luar. Lebih sering, roboh karena pembusukan dari dalam– dan apabila korupsi terus dibiarkan, maka yang pertama kali menjadi korban bukan hanya keuangan negara. Korban pertamanya adalah kehormatan bangsa.
*Penasihat Militer RI untuk PBB Tahun 2017
Editor: Jufri Alkatiri
