Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)
Oleh: Toto Izul Fatah*
Ada pertanyaan Sederhana– tetapi mungkin sangat penting untuk kita renungkan sebagai umat manusia hari ini. Seberapa keras lagi alam harus mengguncang bumi agar kita sadar? Apakah sepuluh kali episode gempa berkekuatan magnitudo 7 — atau lebih yang terjadi hanya dalam kurun sekitar enam bulan sepanjang 2026 masih belum cukup?
Apakah banjir besar, longsor, kebakaran hutan, kekeringan, dan berbagai bencana lain yang datang silih berganti masih akan kita anggap sekadar peristiwa biasa? Atau– jangan-jangan memang hati kita sudah terlalu keras untuk membaca pesan apa pun dari semua yang sedang terjadi? Khususnya pesan dari alam.
Padahal, sejumlah data cukup menggetarkan. Katalog gempa GEOFON GFZ mencatat rangkaian gempa besar M7 ke atas sepanjang 2026. Dimulai gempa M7,0 di Borneo pada 22 Februari, M7,5 di Tonga pada 24 Maret, M7,3 di Vanuatu pada 30 Maret, M7,4 di Laut Maluku Utara pada 1 April UTC atau 2 April waktu Indonesia, dan M7,4 di lepas pantai timur Honshu, Jepang, pada 20 April.
Setelah itu bumi belum juga tenang. Pada 8 Juni waktu Filipina, Mindanao diguncang gempa M7,8. Pada 24 Juni, kawasan pantai Venezuela diguncang gempa besar sekitar M7,3–7,4. Kemudian Meksiko M7,3 pada 17 Juli, Kolombia M7,5 pada 10 Agustus, dan akhirnya Flores, Nusa Tenggara Timur, diguncang M7,7 pada 15 Agustus 2026 waktu Indonesia.
Di Bitung dan kawasan Maluku Utara pada April 2026, ceritanya hampir sama. Gempa M7,6 versi BMKG memicu tsunami yang terdeteksi antara lain sekitar 0,75 meter di Minahasa Utara. Bahkan hanya sampai dua hari setelah gempa utama, BMKG sudah mencatat 699 gempa susulan. Kemudian, pada 26 Agustus 2026, gempa dahsyat mengguncang kawasan perbatasan Nepal-Tibet. Itu terjadi setelah runtuhan gletser dan material longsoran memicu banjir bandang raksasa.
Di banyak bagian dunia lainnya, kita menyaksikan banjir, longsor, gelombang panas, kekeringan dan kebakaran hutan. Dan Indonesia pun belum terbebas dari kebakaran hutan dan lahan– maka pertanyaannya semakin relevan. Apa lagi yang sebenarnya kita tunggu? Apakah kita masih membutuhkan bencana yang jauh lebih besar sebelum akhirnya menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan kekuasaan Tuhan?
BMKG sejak lama mengingatkan keberadaan sejumlah zona megathrust yang menyimpan potensi gempa sangat besar. Dua di antaranya adalah Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Memang tidak ada ilmuwan yang mampu memprediksi gempa besar secara presisi, mulai dari kapan dan Dimana– yang dapat dilakukan adalah menghitung probabilitas dan memetakan potensi bahayanya– karena itu, ketika berbicara mengenai kemungkinan gempa M8 bahkan M9, kita jangan mengubah kewaspadaan menjadi ramalan– namun jangan pula menjadikan ketidakmampuan memprediksi sebagai alasan untuk merasa aman.
Sejarah sudah menunjukkan bahwa bumi mampu menghasilkan gempa berkekuatan sekitar M9. Bayangkan kalau energi sebesar itu dilepaskan dekat kawasan padat penduduk dan disertai tsunami. Maka pertanyaan kita bukan hanya: “Siapkah bangunan kita? Bukan hanya: Siapkah sistem peringatan dini kita? Tetapi juga: Siapkah hati kita?”
Manusia moderen terkadang merasa telah menguasai bumi. Gunung kita keruk. Hutan kita tebang. Laut kita eksploitasi dan sungai kita kotori.Semua dilakukan atas nama pembangunan, investasi dan pertumbuhan ekonomi. Dari situ, perlahan-lahan muncul perasaan seolah manusia adalah penguasa bumi. Padahal satu guncangan beberapa puluh detik saja dapat membuat gedung yang dibangun puluhan tahun runtuh. Satu gelombang tsunami dapat menghapus sebuah kawasan.
Di sinilah manusia seharusnya sadar. Bahwa kita bukan pemilik bumi. Kita hanyalah penghuni sementara. Dalam Islam, pemilik sesungguhnya adalah Allah SWT– karena itulah saya melihat deretan bencana ini tidak cukup hanya dijawab dengan pendekatan teknokratis.
Kita memang butuh teknologi mitigasi, bangunan tahan gempa, radar cuaca, sistem peringatan dini, pemetaan daerah rawan bencana dan seterusnya–tetapi, manusia juga membutuhkan sesuatu yang sering hilang dalam diskusi keyakinan masyarakat modern. Yaitu, muhasabah. Introspeksi. Dan dalam bahasa agama disebut TOBAT. Tobat bukan berarti kita menuduh setiap korban bencana sebagai manusia berdosa. Pandangan semacam itu justru terlalu sederhana dan tidak adil.
Bencana secara ilmiah mempunyai mekanismenya sendiri. Tetapi seorang beriman boleh membaca peristiwa alam itu sebagai momentum untuk bertanya kepada dirinya sendiri. Apa yang salah dengan cara kita hidup? Apakah kerakusan sudah menguasai kita? Apakah kesombongan sudah membuat kita merasa tidak membutuhkan Tuhan? Apakah demi investasi kita rela menghancurkan hutan? Dan apakah nafsu manusia sekarang sudah jauh lebih kuat daripada suara hati nuraninya?
Mungkin sebagian orang akan mengatakan: “Gempa ya gempa. Itu hanya pergerakan lempeng.” Itu benar. Banjir punya penjelasan hidrologi. Kebakaran hutan punya penjelasan klimatologi. Longsor punya penjelasan geologi– tetapi, penjelasan ilmiah dan kesadaran teologis bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.
Sains menjelaskan bagaimana sebuah peristiwa terjadi. Agama mengajak manusia merenungkan bagaimana seharusnya kita bersikap setelah melihatnya. Justru karena mengetahui dahsyatnya hukum alam itulah manusia seharusnya semakin rendah hati.
Bukankah ilmu akhirnya menunjukkan betapa kecilnya kita?– karena itu, jangan menunggu bumi berguncang M8, apalagi M9. Jangan menunggu tsunami jauh lebih tinggi. Jangan menunggu hutan terakhir terbakar dan jangan menunggu sungai terakhir mengering. Mumpung Allah masih memberikan waktu. Mumpung bumi masih memberi kita tempat berpijak– dan mumpung pintu tobat itu masih terbuka.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Editor: Jufri Alkatiri
