Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)
Oleh: Anwar R. Soediro*
V. Relevansi Tradisi Intelektual dalam Kehidupan Masyarakat Digital
Kebaruan dalam kajian ini terletak pada upaya mengaktualisasi pemikiran tradisi intelektual tasawuf, dalam melihat krisis spiritual yang ditandai dengan melemahnya nilai-nilai moral, menguatnya orientasi materialisme, serta meningkatnya kegelisahan dan kekosongan psikologis; Akibat dominasi rasionalisme yang berlebihan cenderung mendorong manusia menjauh dari dimensi transendental, sehingga aspek spiritual dalam kehidupan semakin terpinggirkan.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya pendekatan spiritual sebagai upaya menyeimbangkan kemajuan intelektual dengan kebutuhan batin manusia. Diskursus spiritualitas dalam Islam, khususnya tasawuf, memiliki potensi besar untuk menjawab tantangan tersebut. Tradisi Intelektual tidak hanya berbicara tentang pengalaman batin individual, tetapi juga menawarkan kerangka etika, kesadaran kosmik, dan transformasi diri yang berdampak pada kehidupan social.
Ajaran tradisi intelektual dari para Sufi, dapat digunakan sebagai protokol etika digital, mulai dari praktik menjaga autentisitas diri hingga mengurangi polarisasi sosial, sehingga dapat menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kesadaran spiritual dalam kehidupan masyarakat digital yang lebih esensial.
Al-Futūḥāt al-Makkiyyah karya Ibnu ‘Arabi menawarkan bangunan nilai spiritual yang komprehensif dan sistematis, yang tidak hanya berfungsi sebagai ajaran mistik individual, tetapi juga sebagai kerangka kesadaran etis dan eksistensial. Nilai-nilai spiritual tersebut tersusun dalam konsep-konsep utama yang saling berkaitan dan membentuk orientasi hidup seorang hamba dalam relasinya dengan Tuhan, manusia, dan alam.
Konsep Wahdat al-Wujud (kesatuan eksistensi) mengajarkan interkoneksi, yang relevan untuk membangun kesadaran bermedia sosial yang empatik. Kesatuan Wujūd dipahami sebagai puncak kesadaran spiritual, yaitu kondisi ketika seorang hamba menyadari keesaan wujud Tuhan dalam seluruh realitas kehidupan.
Kesadaran ini tidak berhenti pada pemahaman metafisis, tetapi tercermin dalam sikap hidup yang senantiasa menghadirkan Allah dalam setiap perilaku dan keputusan. Dalam kerangka ini, kehidupan spiritual tidak terpisah dari aktivitas duniawi, melainkan menjadi landasan utama dalam memaknai seluruh realitas.
Kesatuan wujud mengajarkan bahwa setiap individu adalah manifestasi dari Tuhan yang satu, yang mendorong penerimaan diri, rasa syukur, dan toleransi terhadap perbedaan. Di tengah era teknologi digital, ajaran Ibnu ‘Arabi mengingatkan bahwa realitas tidak berhenti pada citra semu, melainkan berakar pada satu wujud Ilahi yang melandasi segala sesuatu– sehingga fenomena pencarian pengakuan, budaya performatif, dan keterikatan pada representasi digital dapat dipahami sebagai distorsi dari tajallī yang sejati.
Maka, ajaran Ibnu ‘Arabi membuka kritik filosofis terhadap bagaimana manusia terjebak dalam permainan citra dan kehilangan akses pada kedalaman makna– namun, relevansi ini tidak boleh dipahami sebagai penerapan langsung tanpa batas. Ada jarak historis dan Ontologis yang membatasi: Ibn ‘Arabi hidup dalam horizon spiritual abad pertengahan yang berbeda secara radikal dari lanskap digital kontemporer. Konsep-konsep-nya harus ditafsir ulang agar tetap produktif, seperti fana’ dapat dibaca sebagai strategi dekonstruksi keterikatan digital, kesadaran akan keterbatasan ini justru menegaskan temuan filosofis utama bahwa Ibn ‘Arabi bukan solusi instan bagi krisis digital, melainkan mitra dialog lintas zaman yang memungkinkan kita mengkritik, mengoreksi, dan merumuskan kembali arah eksistensi manusia dalam ekosistem digital yang kian total.
Pemikiran tradisi intelektual taswuf dalam al-Futuhat al-Makkiyyah– membentuk suatu sistem spiritual yang utuh, integratif, dan berlapis. Spiritualitas dalam pemikiran Ibnu ‘Arabi tidak berdiri sebagai pengalaman individual yang terisolasi, melainkan sebagai kerangka kesadaran yang mencakup dimensi ontologis, antropologis, etis, dan sosial.
Hal ini memperlihatkan bahwa tasawuf Ibnu ‘Arabi tidak dapat direduksi menjadi praktik asketisme atau pengalaman mistik personal semata, tetapi merupakan paradigma kehidupan yang menyatukan dimensi intelektual, moral, dan spiritual secara harmonis.
Kesatuan wujud (Wahdat al-Wujūd)– menjadi fondasi nilai spiritual dalam Al-Futūḥāt al-Makkiyyah menunjukkan bahwa kesadaran ketuhanan dalam pemikiran Ibnu ‘Arabi bersifat imanen sekaligus transenden. Kesatuan wujud tidak dimaknai sebagai peleburan eksistensi manusia dengan Tuhan secara fisik, melainkan sebagai kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam seluruh realitas.
Kesadaran ini melahirkan etika spiritual yang mendorong manusia untuk bersikap hati-hati, bertanggung jawab, dan penuh kasih dalam setiap tindakan. Dalam konteks masyarakat kontemporer yang ditandai oleh fragmentasi nilai dan krisis makna, konsep kesatuan wujud menawarkan cara pandang holistik yang memulihkan keterhubungan antara iman, moralitas, dan tindakan sosial.
Waḥdat al-Wujūd, secara etimologis, berasal dari kata waḥdat yang berarti esa atau tunggal, dan wujūd yang berarti keberadaan atau eksistensi. Konsep ini dalam pemikiran Ibnu ‘Arabi berangkat dari keyakinan bahwa hanya Allah yang memiliki wujud sejati, sementara seluruh alam hanyalah tajallī atau manifestasi-Nya. Dalam Futūḥāt al-Makkiyyah, Ibnu ‘Arabi mengungkapkan: Mahasuci Dia! Dia memanifestasi dan menjadikan [segala sesuatu] memanifestasi. Dia tidak tersembunyi, namun Dia menyembunyikan [Diri-Nya] dan menjadikan [hakikat segala sesuatu] tersembunyi.”
Ungkapan ini menyingkap paradoks wujud– Tuhan hadir dalam segala sesuatu sekaligus bersembunyi di baliknya. Seluruh ciptaan merupakan tajallī yang sekaligus mengungkap dan menutupi-Nya. Dengan demikian, realitas dapat dipahami dari dua sisi: sebagai al-Ḥaqq (Yang Maha Benar) ketika dilihat dari Zat-Nya yang mutlak, dan sebagai al- Khalq (ciptaan) ketika dipandang dari sisi manifestasi-Nya.
Pertanyaannya kemudian, jika seluruh wujud merupakan tajallī dari Yang Tunggal– masihkah ada ruang bagi eksistensi individu terutama dalam horizon digital kontemporer? Menanggapi pertanyaan tersebut, salah satu filsuf Prancis, Henry Corbin menegaskan dalam bukunya Mundus imaginalis ou l’imaginaire et l’Imaginal” dalam bahasa Indonesia berjudul Imajinasi Kreatif Sufisme Ibn Arabi” bahwa individu tetap memiliki eksistensi, meski bukan sebagai wujud otonom yang terpisah dari Tuhan, melainkan sebagai locus tajalli atau medium manifestasi realitas ilahi.
Dunia digital dapat dipahami sebagai semacam mundus imaginalis modern, sebuah ruang imajinal di mana manusia mengekspresikan eksistensi dan identitasnya (imajinasi kreatif)– dengan demikian, wahdat al-wujūd tidak meniadakan agensi individu, tetapi merelokasinya dalam ruang imajinal yang berupaya menanggapi dengan konsep embodied imagination (imajinasi yang terwujud)– bahwa jiwa bukanlah satu kesadaran tunggal yang ditelan oleh realitas absolut, melainkan jaringan multipel subjektivitas yang disatukan oleh kesadaran reflektif ganda (double consciousness).
Jika diterapkan pada dunia digital, dunia maya dapat dipahami sebagai alam imajinal modern, bukan sepenuhnya fisik, bukan sepenuhnya transenden, tetapi ruang antara tempat individu menghadirkan dirinya. Dalam konteks ini, eksistensi individu tidak hilang, melainkan direposisi: individu tetap beragensi sejauh ia mampu menjaga kesadaran ganda, tidak larut sepenuhnya dalam performativitas algoritmik, melainkan mengaitkan pengalaman digital dengan sumber ontologis yang lebih luas. Oleh sebab itu, wahdat al-wujūd justru membuka cara pandang baru bahwa individu adalah lokus tajalli yang meneguhkan eksistensinya dalam digital.
Kemudian, Robert Bosnak– seorang Psikoanalisi CG Jung Institute of Chicago, berupaya menanggapi dengan konsep embodied imagination (imajinasi yang terwujud), bahwa jiwa bukanlah satu kesadaran tunggal yang ditelan oleh realias absolut, melainkan jaringan multipel subjektivitas yang disatukan oleh kesadaran reflektif ganda (double consciousness). (bersambung)
*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam
Editor: Jufri Alkatiri
