Limbah Menjadi Berkah: Kelompok Tani Muda Jombang Olah Limbah Cair Tahu jadi Pupuk Organik

Dosen Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya, serta Anggota PERMI (Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia)

Oleh: Prof.Dr. Ir. Nur Hidayat, MP*

Jenuh dengan bau menyengat yang muncul akibat limbah cair tahu, sekelompok generasi muda di Jombang, Jawa Timur — memilih tidak tinggal diam– mereka justru melihat persoalan tersebut sebagai peluang untuk mengubah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan dan pertanian.

Gagasan itu diwujudkan melalui pengolahan limbah cair tahu menjadi Pupuk Organik Cair (POC). Program ini merupakan bagian dari upaya pemanfaatan limbah cair tahu yang dilakukan melalui hibah Bestari yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti) dengan pendanaan LPDP.

Limbah Tahu yang Mengusik Lingkungan

Keberadaan industri hampir selalu menghasilkan limbah, baik berupa limbah padat, cair, maupun gas. Pada industri berskala besar– limbah umumnya telah melalui unit pengolahan sebelum dilepas ke lingkungan– namun, kondisi berbeda dapat dijumpai pada industri kecil dan rumah tangga yang belum memiliki fasilitas pengolahan limbah.

Industri tahu merupakan salah satu contohnya. Limbah cair yang dihasilkan sering kali langsung dibuang ke saluran air tanpa pengolahan terlebih dahulu. Bayangkan– jika dalam satu desa terdapat lebih dari 90 perajin tahu– dengan asumsi setiap perajin menggunakan sedikitnya 10 liter air untuk mengolah setiap kilogram kedelai, dan masing-masing mengolah sekitar 2 ton kedelai per hari, maka potensi limbah cair yang dihasilkan dapat mencapai 1,8 juta liter per hari.

Limbah tersebut bahkan tidak jarang dibuang dalam kondisi masih panas. Kondisi ini dapat mengganggu kehidupan organisme di sungai. Setelah beberapa kilometer dari sumber pembuangan, limbah mulai mendingin dan senyawa organiknya mengalami proses penguraian. Pada tahap inilah bau menyengat mulai muncul dan mengganggu masyarakat sekitar.

Persoalan tersebut mendorong Kelompok Tani Muda di Jombang untuk mengambil langkah nyata. Tidak ingin terus berhadapan dengan persoalan bau dan pencemaran lingkungan, kelompok ini berkoordinasi dengan sejumlah akademisi– dari Universitas Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum (UNIPDU) Jombang terlibat Dr. Herin Mawarti, S.Kep.Ns., M.Biomed dan Dina Eka Shofiana, S.E., M.A. Sementara dari Universitas Brawijaya (UB), terlibat Dr. Rita Parmawati, S.P., M.E. dan Lia Nihlah Najwah, S.IP., M.Si. Kolaborasi tersebut kemudian melahirkan gagasan sederhana namun potensial: mengubah limbah menjadi berkah.

Melalui program hibah Bestari dan dukungan pendanaan LPDP– dilakukan kegiatan pengolahan dan pemanfaatan limbah cair tahu. Salah satu bentuk pemanfaatannya adalah mengolah limbah tersebut menjadi Pupuk Organik Cair atau POC. POC merupakan pupuk organik berbentuk cair yang dapat dibuat dari berbagai bahan organik. Dalam proses pembuatannya, bahan organik dapat dicampur dengan air dan ditambahkan aktivator berupa mikroorganisme. Gula atau molase juga dapat ditambahkan untuk mendukung pertumbuhan mikroorganisme selama proses fermentasi.

Selama ini, air digunakan sebagai media atau pelarut berbagai nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Namun, melihat melimpahnya limbah cair tahu di lingkungan sekitar, muncul pertanyaan sederhana: mengapa tidak memanfaatkan limbah cair tahu sebagai bahan dalam pembuatan POC? Pertanyaan tersebut kemudian diwujudkan dalam pelatihan dan pendampingan pembuatan POC dari limbah cair tahu yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Nur Hidayat, MP– selaku ketua program Bestari. Kegiatan ini juga didukung tiga mahasiswa pascasarjana Universitas Brawijaya, yaitu Indah Fitriana Subekti, Arlis Arliana, dan Sania.

Dalam prosesnya– limbah cair tahu terlebih dahulu didinginkan. Selanjutnya, limbah tersebut dicampur dengan kotoran hewan, daun-daunan, atau bahan organik lain yang tersedia di sekitar lokasi. Pemanfaatan bahan yang tersedia di lingkungan ini tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi sekaligus membantu mengurangi limbah padat. Bahan organik padat yang digunakan berkisar 10–40 persen, tergantung jenis bahan, kemudian dicampurkan dengan limbah cair tahu.

Menurut tim pendamping, penggunaan limbah cair tahu memiliki keunggulan dibandingkan air biasa karena limbah tersebut masih mengandung bahan organik sisa proses pengolahan tahu. Sebagai sumber mikroorganisme, dapat digunakan kotoran sapi, rumen, maupun sumber inokulum lainnya. Selain itu, aktivator komersial seperti EM4 juga dapat digunakan.

Bahan-bahan tersebut kemudian ditempatkan dalam wadah tertutup selama sekitar dua minggu. Selama proses fermentasi, wadah secara berkala diaduk dan dibuka untuk mengeluarkan gas yang terbentuk. Salah satu tanda bahwa proses pembuatan pupuk telah berlangsung dengan baik adalah perubahan aroma. POC yang telah matang tidak lagi memiliki aroma busuk yang menyengat.

Pelatihan tidak berhenti pada pemberian teori. Para anggota Kelompok Tani Muda juga diminta mempraktikkan berbagai kombinasi bahan dan metode pembuatan. Melalui praktik tersebut, mereka belajar mengenali kelebihan dan kekurangan setiap metode sekaligus memahami mengapa suatu perlakuan berhasil, sementara perlakuan lainnya belum memberikan hasil yang diharapkan. Pendekatan ini membuat anggota kelompok tidak hanya mampu membuat POC, tetapi juga memahami proses yang terjadi selama pengolahannya.

Mendapat Apresiasi Pemerintah Daerah

Setelah proses fermentasi berlangsung selama dua minggu, dilakukan pertemuan kembali pada Rabu, 12 Agustus 2026, untuk melihat dan mengevaluasi hasil POC yang telah dibuat. Pertemuan tersebut juga dihadiri Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Ir. Moch Rony, MM. Dalam kesempatan tersebut, Moch Rony menyampaikan apresiasi kepada Kelompok Tani Muda yang telah menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mengembangkan pertanian organik di Jombang.

Dia juga berharap teknologi pengolahan limbah cair tahu menjadi produk yang bermanfaat tersebut dapat dikembangkan di berbagai wilayah lain di Kabupaten Jombang. Dengan demikian, limbah cair tahu tidak lagi menjadi persoalan lingkungan, tetapi dapat memiliki nilai manfaat sebagaimana produk tahu yang dihasilkan oleh para perajin.

Langkah berikutnya, anggota Kelompok Tani Muda akan meningkatkan kapasitas produksi sekaligus semakin memahirkan proses pembuatan POC. Ditargetkan mulai September 2026, produksi dapat dilakukan secara kontinu dengan menggunakan tangki fermentor. Sementara itu, persiapan pembangunan rumah produksi juga terus dilakukan. Rumah produksi tersebut direncanakan dibangun oleh PGN (Perusahaan Gas Negara) sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekaligus sebagai awal kerja sama dengan tim Bestari.

Apa yang dilakukan Kelompok Tani Muda Jombang menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak selalu harus berakhir sebagai masalah–dengan kreativitas, pendampingan, dan kolaborasi antara masyarakat, akademisi, pemerintah, serta dunia usaha, limbah dapat diubah menjadi sumber daya yang memiliki nilai tambah– dari limbah cair tahu, lahir pupuk organik cair. Dari persoalan lingkungan, tumbuh peluang untuk membangun pertanian yang lebih berkelanjutan.

*Dosen Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya dan Anggota PERMI (Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia)

Editor: Ries Mariana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *