Jurnalis Senior dan Kolumnis (Foto: Ahmadie Thaha)
Oleh: Ahmadie Thaha*
Usai shalat malam atau Subuh, seperti biasa– saya membaca satu juz al-Qur’an. Nomer juz yang saya baca itu saya sesuaikan dengan tanggal hari itu. Bagi saya, itu cara sederhana untuk membuat perjalanan membaca al-Qur’an terasa seperti safari melewati lembaran kalender kehidupan. Kemarin saya sampai di penghujung Juz 20. Mata saya tiba-tiba tertahan, lagi-lagi, pada sebuah angka yang mungkin sebenarnya sudah berkali-kali saya baca. Kali ini, angka itu seperti mengetuk pintu perhatian saya. Allah berfirman: “Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Maka dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir, sedang mereka dalam keadaan zalim.” (QS al-‘Ankabut [29]: 14)
Sembilan ratus lima puluh tahun! Bukan sembilan puluh lima. Bukan seratus lima puluh. Sembilan ratus lima puluh– angka usia yang luar biasa panjang. Pertanyaan yang segera muncul hampir seperti refleks manusia moderen, berapa sebenarnya usia Nabi Nuh alaissalam? Jawabannya ternyata tidak sesederhana angka 950. Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa Nabi Nuh berusia 950 tahun– yang persisnya dikatakan, beliau “tinggal di antara kaumnya” selama 1.000 tahun dikurangi 50 tahun. Kata yang dipakai adalah falabitsa fīhim —dia tinggal di tengah-tengah mereka. Poin ini penting. Sebab 950 tahun itu, menurut bunyi ayat, adalah masa Nabi Nuh berada di tengah kaumnya, bukan secara eksplisit seluruh umur beliau sejak lahir sampai wafat.
Para mufasir klasik pada akhirnya berbeda pendapat. Ibnu Abbas– sebagaimana dikutip Ibnu Katsir, menyebut bahwa Nuh diutus sebagai rasul ketika berusia empat puluh tahun–dia tinggal bersama kaumnya selama 950 tahun, lalu hidup 60 tahun setelah banjir– dengan hitungan ini, umur beliau menjadi sekitar 1.050 tahun– tetapi itu bukan satu-satunya pendapat. Qatadah punya riwayat lain. Nuh disebutnya hidup 300 tahun sebelum masa dakwah, berdakwah 300 tahun, lalu hidup 350 tahun setelah banjir. Totalnya juga 950 tahun–tetapi Ibnu Katsir menilai riwayat ini gharib dan dia lebih memilih riwayat Ibnu Abbas.
Ada pula pendapat bahwa Nuh diutus pada usia 350 tahun, berdakwah 950 tahun, kemudian hidup 350 tahun lagi. Kalau dijumlah, umurnya menjadi 1.650 tahun. Al-Qurthubi, yang tafsirnya penuh kutipan pendapat, bahkan mengumpulkan lebih banyak riwayat. Ada yang menyebut usia Nuh 1.000 tahun, 1.020 tahun, 1.400 tahun, bahkan 1.650 tahun. Dia juga mencatat riwayat bahwa Nuh yang termasuk Ulul ‘Azmi itu diutus pada usia 250 tahun dan hidup 250 tahun setelah banjir.
Jadi, kalau kita bertanya, “Berapa umur Nabi Nuh menurut para ulama?”, jawabannya bukan satu angka yang disepakati– yang paling aman mengatakan bahwa al-Qur’an hanya memastikan masa tinggal Nabi Nuh bersama kaumnya selama 950 tahun. Tentang total usia beliau, terdapat berbagai riwayat dan pendapat tafsir. Ini justru membuat pertanyaan kita semakin menarik. Apakah manusia zaman dahulu memang berumur sangat panjang? Kalau yang dimaksud manusia secara umum, ilmu sejarah dan antropologi tidak punya dukungan atas anggapan itu. Kita harus membedakan dua hal yang sering bercampur: harapan hidup rata-rata dan usia maksimal seseorang.
Orang sering bilang, “Zaman dahulu manusia cuma hidup 25 tahun.” Itu bisa menyesatkan. Angka 20–30 tahun yang sering muncul dalam demografi kuno adalah life expectancy at birth– harapan hidup sejak lahir. Angka ini sangat ditekan oleh kematian bayi, infeksi, kecelakaan, kelaparan, dan persalinan.
Dalam dunia Romawi, penelitian demografi menempatkan harapan hidup saat lahir pada kisaran 22–25 tahun– artinya, bukan semua orang Romawi tercatat mati rata-rata di usia 25 tahun. Seseorang yang berhasil melewati masa kanak-kanak punya peluang hidup jauh lebih panjang.
Data sensus Romawi dari Mesir memperlihatkan ada orang yang mencapai usia 70-an dan 80-an, walaupun jumlahnya kecil. Data Mesir Romawi ini penting karena menjadi salah satu tempat di dunia kuno yang punya catatan demografis paling baik dari abad pertama sampai ketiga Masehi–namun, kita tidak boleh meloncat ke kesimpulan bahwa orang dahulu lazim berumur 100, 200, apalagi 900 tahun. Kajian paleodemografi moderen menunjukkan bahwa mencapai usia sangat lanjut pada masyarakat pramoderen merupakan peristiwa yang sangat langka.
Tinjauan dalam American Journal of Biological Anthropology menyebut, berdasarkan masyarakat pramoderen yang terlacak, mencapai usia seratus tahun saja sudah sangat sulit. Apalagi mencapai usia ratusan tahun. Maka 950 tahun Nabi Nuh tidak bisa begitu saja dijawab dengan kalimat: “Begitulah umur manusia dahulu.”
Sains tidak punya dasar ilmiah untuk klaim itu. Lantas, apakah kisah Nabi Nuh bertentangan dengan ilmu pengetahuan? Pertanyaan ini pun harus kita tangani dengan hati-hati. Ilmu pengetahuan bekerja berdasarkan pola alam yang dapat diamati dan diuji. Sains bisa menyimpulkan tidak ada bukti demografis bahwa manusia biasa pada masa lalu secara umum mampu hidup selama ratusan tahun–tetapi sains tidak otomatis bisa menyimpulkan: maka Nabi Nuh tidak mungkin hidup selama itu.
Sebab klaim kedua bicara tentang seorang individu dalam peristiwa keagamaan, bukan tentang pola biologis populasi yang diuji lewat sensus atau fosil tulang. Ilmu menjelaskan apa yang lazim terjadi pada manusia, sedangkan mukjizat berbicara tentang sesuatu yang tidak harus tunduk pada kelaziman itu. Dan al-Qur’an tidak mengajak kita mencari formula biologis untuk umur Nuh. Perhatikan konteks ayatnya. Surah al-‘Ankabut sedang berbicara kepada Nabi Muhammad tentang penolakan kaumnya. Kisah Nuh dimunculkan bukan untuk memberi kuliah gerontologi.
Melalui ayat tersebut, Allah sedang menunjukkan satu ironi Sejarah– seseorang bahkan nabi pun dapat berdakwah sangat lama, tetapi lamanya waktu tidak otomatis membuat manusia mau menerima kebenaran. At-Thabari membaca ayat itu dalam konteks penghiburan kepada Nabi Muhammad. Kaum Quraisy yang menyakiti beliau bukanlah umat pertama yang keras kepala.
Nabi Nuh sudah menghadapi kaumnya dalam waktu yang luar biasa panjang, tetapi mereka tetap menolak sehingga Allah menimpakan azab dunia melalui banjir bandang– dengan kata lain, angka 950 tahun di sini bukan sekadar hitungan matematis– adalah ukuran kesabaran. Bayangkan seseorang berdakwah selama sembilan setengah abad. Bukan sembilan setengah tahun. Bukan satu generasi. Sembilan setengah abad Nuh berdakwah kepada orang-orang yang bebalnya tak ketulungan.
Kita baru berdakwah lima tahun, sudah ingin membuat konferensi pers tentang “dakwah yang tidak diapresiasi”. Nuh tidak punya media sosial untuk mengukur engagement. Tidak ada like, share, subscribe, atau survei kepuasan jamaah–yang ada hanya penolakan yang berlangsung lintas generasi.
Al-Qur’an seolah-olah berkata kepada Nabi Muhammad, dan juga kepada kita para pendakwah, “Jangan terlalu cepat kecewa, Nuh sudah mengalaminya jauh yg lebih lama.”– tetapi bagaimana dengan nabi-nabi lain? Apakah mereka juga berumur panjang? Al-Qur’an tidak memberikan daftar usia para nabi seperti buku registrasi kependudukan. Usia nabi-nabi Adam, Idris, Ibrahim, Musa, Dawud, Sulaiman, dan nabi-nabi lain tidak dinyatakan secara pasti dalam al-Qur’an.
Berbagai angka memang muncul dalam literatur Islam–tetapi status riwayatnya beragam. Sebagian berasal dari tradisi tafsir, kisah-kisah israiliyyat, atau riwayat yang masih diperdebatkan. Kita sebaiknya tidak mengubah setiap angka dalam kitab kisah menjadi fakta sejarah dengan tingkat kepastian yang sama seperti ayat al-Qur’an.
Menariknya, tradisi Yahudi-Kristen juga mengenal kisah umur manusia purba yang panjang. Dalam Kitab Kejadian misalnya, Methuselah disebut mencapai 969 tahun, Jared 962 tahun, dan Adam 930 tahun.
Penelitian paleodemografi moderen melihat tradisi angka tersebut sebagai bagian dari gaya narasi kuno, bukan bukti bahwa manusia biologis memang pernah hidup selama itu. Lantas, apakah kita sudah menemukan “rahasia umur panjang” manusia zaman dahulu? Belum. Bahkan kalau kita menerima secara literal bahwa Nuh hidup lebih dari seribu tahun, al-Qur’an tidak memberi kita resep biologisnya.
Tidak ada ayat yang mengatakan Nuh panjang umur karena makan kurma. Tidak ada hadis sahih yang menyebut rahasianya adalah minyak zaitun, madu, puasa, atau jalan kaki 10.000 langkah. Jangan sampai kisah Nuh kita kerdilkan menjadi brosur promosi suplemen kesehatan. Kita punya kecenderungan lucu. Begitu membaca kisah orang yang panjang umur, kita langsung mencari menu makanannya. Nabi Nuh berumur panjang, kita cari “diet Nuh”. Orang tertentu sehat sampai tua, kita cari resep sarapannya.
Padahal umur manusia jauh lebih rumit daripada sekadar isi piring. Genetika, lingkungan, infeksi, pola hidup, aktivitas fisik, status sosial, nutrisi, tidur, stres, hingga keberuntungan biologis ikut berpengaruh. Manusia yang menjalani pola hidup paling sehat pun tetap tidak punya garansi umur panjang. Kajian tentang masyarakat pemburu-peramu dari Michael Gurven dan Hillard Kaplan menunjukkan bahwa manusia memang punya potensi biologis untuk hidup cukup lama —pada kisaran 68–78 tahun— tanpa rumah sakit modern–tetapi 950 tahun adalah perkara yang sama sekali berbeda.
Pertanyaan mengapa Nabi Nuh bisa hidup selama itu tidak harus dijawab dengan mencari zat_anti-aging yang hilang. Penjelasan teologisnya jauh lebih bersahaja: Allah memang memberi beliau umur panjang untuk menjalankan tugas dakwahnya. Satu hal lagi yang menarik, al-Qur’an memilih ungkapan “seribu tahun kurang lima puluh tahun”, bukan langsung sebut “950 tahun”. Al-Qurthubi mencatat sisi retorisnya. Baginya, penyebutan angka seribu terasa lebih mantap untuk menggambarkan betapa lamanya waktu itu berlalu.
Redaksi ini tidak mengajak kita menghitung pakai kalkulator, melainkan mengajak pikiran kita membayangkan betapa panjangnya proses yang dijalani Nabi Nuh– dari sini kita bisa berhenti memusingkan rahasia biologis umur Nuh. Pertanyaan yang lebih berguna untuk kita renungkan sebetulnya sederhana. Kalau kita diberi umur sepanjang itu, mau kita pakai untuk apa?
Nuh mendapat waktu 950 tahun untuk membimbing kaumnya. Kita punya waktu yang jauh lebih singkat, tetapi sering bertingkah seolah punya garansi umur panjang. Padahal saat menyentuh usia 60 atau 70 tahun, fisik mulai terbatas dan ingatan berisi tumpukan kenangan masa lalu. Pada akhirnya, ukuran umur bukan terletak pada berapa banyak angka tahun yang terkumpul di kalender, melainkan apa yang kita hasilkan selama waktu itu masih ada. Nuh mengisi 950 tahunnya dengan konsistensi dakwah.
Kita mungkin hanya punya waktu puluhan tahun, tetapi yang dinilai adalah apa yang kita perbuat sebelum usia kita habis. Ada orang yang hidup 90 tahun tetapi tidak meninggalkan jejak apa-apa saat meninggal, ada juga yang usianya pendek tetapi pemikirannya terus memberi manfaat bagi orang banyak. Nuh mengajarkan bahwa rahasia terbesar dari umur bukanlah mencari cara agar angkanya terus bertambah. Al-Qur’an memberi peringatan bagaimana membuat waktu yang pendek ini benar-benar berguna.
*Jurnalis Senior dan Kolumnis
Editor: Jufri Alkatiri
