Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)
Oleh: Toto Izul Fatah*
Kata “Iqro” yang ditulis dua kali dalam al-Quran surat al-‘Alaq itu bukan hanya bermakna sebagai perintah Allah SWT yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW untuk membaca, tetapi juga relevan untuk dipahami dalam konteks saat ini. “Iqro” yang secara harfiah berarti “bacalah” itu mengandung makna sangat dalam sebagai perintah Allah SWT untuk selalu membaca dalam arti yang luas. Termasuk, membaca tanda zaman dan alam saat ini.
Apalagi, dalam konteks kita yang sedang hidup di zaman yang tidak mudah dibaca. Hari ini, dunia seperti bergerak di atas tanah yang retak. Di atas tampak masih berdiri, tetapi di bawahnya menyimpan getaran besar yang rapuh. Saat ini, kita memang sedang berada di negeri yang tidak sepenuhnya tenang. Begitupun, kondisi di luar negeri, baik ekonomi global maupun geopolitik, yang juga tidak sedang baik-baik saja– karena itu, pesan paling penting kita hari ini, “jangan salah membaca tanda zaman. Kenapa? Karena zaman ini tidak cukup dibaca dengan angka pertumbuhan ekonomi semata.
Zaman ini tidak cukup dibaca dengan pidato optimisme– tidak cukup juga dibaca dari panggung kekuasaan, ruang rapat kabinet, diskusi para elit atau laporan yang serba indah, dan tidak jarang menina-bobokan. Zaman ini harus dibaca dari dapur rakyat, dari harga beras, dari ongkos sekolah, dari anak muda yang sulit kerja, dari petani yang terhimpit, dari buruh yang cemas, dan dari alam yang makin tidak bersahabat. Jika tanda-tanda itu tidak dibaca dengan jernih, maka negara bisa salah memberi obat. Padahal, salah obat dalam keadaan normal saja berbahaya. Apalagi salah obat ketika bangsa sedang tidak normal.
Jika kita salah membaca tanda-tanda zaman dan alam, salah memberi resep, maka potensi bahaya di depan mata adalah bukan hanya sakitnya semakin parah, tapi terjadinya amuk alam dan amuk pengisi alam (manusianya). Amuk alam terjadi ketika manusia terlalu lama memperlakukan bumi sebagai barang jarahan. Hutan ditebang, sungai disempitkan, gunung dikeruk, tanah dipaksa menanggung keserakahan, udara dikotori, dan laut dijadikan tempat pembuangan.
Sementara, pembangunan sering kali hanya mengejar beton, angka, dan keuntungan jangka pendek. Lalu ketika banjir dan longsor datang, kita menyebutnya bencana alam. Padahal, itu buah dari salah urus manusia terhadap alam. Kemudian, amuk manusia. Ini lebih berbahaya karena sering datang tiba-tiba. Rakyat bisa sabar, tetapi kesabaran rakyat bukan sumur tanpa dasar. Ketika perut lapar, pekerjaan sulit, harga-harga naik, dan hukum terasa tajam ke bawah tumpul ke atas, maka gempa sosial bisa meledak kapan saja.
Ledakan sosial tidak selalu dimulai dari isu besar– kadang dimulai dari perkara kecil yang menjadi simbol ketidakadilan besar. Satu kasus hukum yang dianggap tidak adil, dan satu kebijakan yang tidak peka, bisa menjadi korek api yang menyulut kemarahan rakyat. Dalam konteks inilah, negara harus pintar-pintar membaca alam dan tanda zaman. Alam punya bahasa. Rakyat juga punya bahasa. Alam berbicara lewat bencana. Rakyat berbicara lewat keluhan, satire, protes, demonstrasi, kemarahan di media sosial, bahkan diam yang menyimpan bara.
Pemimpin yang bijak tidak menunggu ledakan. Pemimpin yang bijak membaca getaran sebelum gempa sosial terjadi– dan solusi menghadapi zaman yang tidak menentu ini harus dilakukan dari dua jalan sekaligus: jalan batin dan jalan lahir. Jalan batin adalah taubat nasional. Bukan taubat seremonial. Bukan taubat panggung. Bukan sekadar doa bersama yang selesai setelah kamera mati. Taubat nasional harus dimulai dari kesadaran bersama mengaku salah dan memohon ampun kepada Tuhan– namun begitu, taubat batin juga belum cukup tanpa upaya lahir.
Ada beberapa langkah lahir yang mendesak dilakukan. Pertama, dalam situasi ekonomi sulit, rakyat kecil tidak boleh dibiarkan bertarung sendirian melawan harga pangan, biaya hidup, pengangguran, dan tekanan hidup. Kedua, pemerintah harus serius menjaga pangan, karena krisis pangan adalah ibu dari banyak kekacauan. Jika pangan mahal, langka, atau distribusinya kacau, maka keresahan sosial akan cepat membesar. Ketiga, hukum harus dikembalikan menjadi rumah keadilan. Tidak boleh ada lagi kesan hukum hanya galak kepada orang kecil, tetapi lembek kepada orang kuat.
Keempat, pemimpin dan elite harus melakukan puasa kemewahan di tengah rakyat yang sedang sulit. Kelima, negara harus membangun sistem peringatan dini sosial, dan bukan hanya peringatan dini bencana alam. Keenam, gerakan ekologis harus menjadi gerakan nasional. Menanam pohon, memulihkan sungai, menjaga hutan, dan memperbanyak ruang hijau. Ketujuh, membuka kanal dialog rakyat dengan pemerintah– mereka tidak boleh diperlakukan sebagai musuh. Mereka adalah sensor sosial. Itulah salah satu cara membaca tanda zaman. Jangan sampai gara-gara salah membaca zaman yang lahir bukan sekadar krisis, tetapi malapetaka peradaban.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Editor: Jufri Alkatiri
