Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah
Oleh: Toto Izul Fatah*
Seandainya Nabi Muhammad SAW masih hidup dan menyaksikan keadaan umatnya hari ini– mungkin beliau akan menangis tersedu. Lalu dalam kesedihan yang dalam, seolah beliau mengadu kepada Allah SWT: “Ya Allah, mengapa umatku menjadi seperti ini?”
Persatuannya retak. Gotong royong dan semangat saling menolongnya mulai hilang. Toleransinya rusak. Korupsinya merajalela. Orang miskin masih berjuang sendiri. Alam dirusak. Hutan digunduli. Gunung dikeruk. Sungai-sungai tercemar– bahkan sebagian mongering—dan manusia berlomba mengambil dari bumi hasil yang sebanyak-banyaknya, tetapi lupa kewajiban untuk menjaganya dan merawatnya.
Tentu kita tidak pernah tahu apa yang benar-benar akan dilakukan Rasulullah SAW seandainya beliau hidup kembali pada zaman ini. Itu wilayah yang tidak pantas kita pastikan–tetapi pertanyaan imajinatif tersebut penting sebagai cermin muhasabah. Seberapa jauh kehidupan umat Islam hari ini masih mencerminkan ajaran manusia agung yang setiap tahun kelahirannya kita peringati dengan begitu meriah?
Pertanyaan itu menjadi semakin mengusik karena berbagai paradoks tersebut terjadi di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim. Masjid tumbuh subur di mana-mana. Kubah dan menara menjulang hampir di setiap kampung. Pesantren berkembang. Majelis taklim ramai. Pengajian diselenggarakan dari desa hingga kota.
Shalawat kepada Rasulullah SAW menggema di berbagai tempat. Setiap datang bulan Rabiul Awal, perayaan Maulid digelar dengan penuh cinta dan kegembiraan–tetapi pertanyaannya, mengapa semakin banyak masjid belum otomatis membuat semakin sedikit korupsi? Mengapa semakin banyak pengajian belum otomatis mengurangi kezaliman?
Mengapa semakin banyak orang bershalawat belum otomatis membuat kehidupan sosial kita semakin penuh kasih sayang? Inilah paradoks keberagamaan kita. Lebih menyedihkan lagi, dunia pendidikan agama pun beberapa kali diguncang kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang yang seharusnya menjadi pembimbing moral. Ada guru agama, pengasuh atau figur pesantren yang justru menyakiti santrinya. Sejarah bangsa ini bahkan pernah mencatat beberapa kali kasus korupsi yang menyeret pejabat tinggi di lingkungan kementerian yang mengurusi agama.
Pada saat yang sama, perjudian terus mencari bentuk baru. Minuman keras tetap beredar. Narkoba mengancam anak-anak muda. Prostitusi dan pornografi menemukan ruang baru melalui teknologi digital. Begitu pun pinjaman ilegal menjerat masyarakat. Kebencian dan fitnah berkembang melalui media sosial. Orang begitu mudah mencaci, mempermalukan dan menghancurkan kehormatan sesamanya.
Padahal, adakah satu saja dari semua perilaku itu yang diajarkan Nabi Muhammad SAW? Tidak ada. Barangkali problem terbesar umat Islam hari ini bukan karena kita tidak mengenal Nabi. Nama beliau kita sebut setiap hari. Shalawat kita baca. Sirahnya kita pelajari. Maulidnya kita peringati. Problem kita justru mungkin jauh lebih serius: kita sangat mencintai simbol Nabi, tetapi belum sepenuhnya berani menjalankan nilai-nilai Nabi. Kita bershalawat kepada Nabi yang sangat jujur, tetapi kebohongan tetap dianggap biasa.
Kita memuji Nabi yang bergelar Al-Amin, tetapi amanah publik sering dikhianati. Kita merayakan kelahiran Nabi yang membela kaum miskin, tetapi masih ada kebijakan yang lebih ramah kepada mereka yang kuat daripada mereka yang lemah. Kita mencintai Nabi yang sederhana, tetapi sebagian pemimpin mempertontonkan kemewahan di tengah rakyat yang sedang kesulitan. Kita mengaku umat Nabi yang membawa rahmatan lil ‘alamin, tetapi kepada sesama Muslim saja kita kadang saling membenci hanya karena berbeda organisasi, mazhab, pilihan politik atau calon pemimpin.
Ironis. Kita bahkan bisa berseteru hanya karena berbeda cara memperingati Maulid Nabi, padahal Nabi yang sedang kita peringati kelahirannya justru datang untuk mempersatukan manusia. Untuk itu, mari kita membayangkan sejenak. Seandainya Rasulullah SAW berjalan menyusuri negeri ini, apa yang hendak kita perlihatkan kepada beliau?
Apakah kita akan mengajak beliau melihat masjid kita yang berjejer megah? Mungkin– tetapi setelah itu Rasulullah bisa saja bertanya: bagaimana keadaan tetangga miskin di sekitar masjid itu? Kita mungkin menunjukkan pesantren-pesantren besar. Tetapi boleh jadi pertanyaan berikutnya: apakah anak yatim dan orang miskin bisa belajar di sana tanpa takut biaya?
Kita mungkin memperlihatkan pembangunan jalan, gedung tinggi dan berbagai proyek besar– tetapi mungkin beliau akan bertanya: apakah dalam pembangunan itu ada hak rakyat yang dirampas? Apakah ada uang negara yang dicuri? Apakah ada hutan yang dihancurkan?
Kita mungkin menunjukkan kekayaan alam Indonesia yang luar biasa– tetapi mungkin beliau bertanya lagi: mengapa sungainya kotor? Mengapa hutannya gundul? Mengapa tambangnya meninggalkan kerusakan bagi generasi berikutnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu sesungguhnya bukan pertanyaan Rasulullah. Itu adalah pertanyaan kepada hati nurani kita sendiri. Sebab Al-Qur’an sudah mengingatkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)
Karena itu, mencintai Rasulullah bukan hanya rajin bershalawat– dan Maulid jangan berhenti pada seremoni, ceramah, pembacaan shalawat, makan bersama, lalu keesokan harinya kehidupan kembali seperti sebelumnya. Shalawat tentu mulia. Mengingat kelahiran Rasulullah adalah ekspresi cinta yang indah. Tetapi cinta mempunyai konsekuensi.
Kalau kita benar-benar mencintai Rasulullah, maka pejabat yang mencintainya harus berhenti mencuri uang rakyat. Pengusaha yang mencintainya jangan merusak lingkungan demi keuntungan. Ulama yang mencintainya harus menjaga kehormatan umat dan santrinya. Orang kaya yang mencintainya jangan membiarkan tetangganya kelaparan dan seterusnya. Itulah makna mentauladani Rasulullah SAW. “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Kata kuncinya adalah teladan. Nabi Muhammad SAW tidak cukup untuk dipuji. Beliau harus ditiru. Tidak cukup disebut namanya. Akhlaknya harus dihidupkan. Tidak cukup dirindukan. Perjuangannya harus dilanjutkan. Meskipun, kita tetap optimis karena umat ini belum kehilangan seluruh kebaikannya. Masih banyak orang yang diam-diam menyantuni anak yatim. Masih banyak guru yang mengajar dengan ikhlas. Masih banyak dokter yang menolong pasien miskin dan seterusnya.
Maka, memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW tahun ini semestinya menjadi momentum muhasabah besar umat. Jangan sampai setiap tahun kita semakin meriah merayakan kelahirannya, tetapi semakin jauh meninggalkan ajarannya.
Seandainya Nabi Agung itu masih hidup– mungkin beliau tidak membutuhkan pesta penyambutan dari kita. Barangkali yang paling beliau rindukan hanyalah melihat umatnya kembali menjadi umat yang jujur, amanah, adil, saling mencintai, menyayangi yang lemah dan menjaga bumi yang dititipkan Allah kepada manusia– karena itulah hakikat cinta kepada Nabi. Bukan sekadar merayakan hari kelahirannya, tetapi berusaha melahirkan kembali akhlaknya dalam kehidupan kita. Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Editor: Jufri Alkatiri
