Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)
Oleh: Toto Izul Fatah*
Selama ini, ketika mendengar perintah membaca, pikiran kita hampir selalu tertuju kepada huruf, kata, kalimat, dan buku. Membaca dianggap sebagai kegiatan membuka lembaran, mengeja tulisan, lalu memahami makna yang disampaikan oleh penulisnya. Dalam kehidupan beragama, kita mengenal empat kitab suci besar yang diturunkan Allah SWT kepada para nabi dan rasul-Nya. Ada Taurat kepada Nabi Musa, Zabur kepada Nabi Daud, Injil kepada Nabi Isa, dan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.
Kitab-kitab tersebut berisi petunjuk, nilai, peringatan, hukum, kebijaksanaan, dan jalan keselamatan bagi umat manusia– namun, Tuhan tidak hanya memperkenalkan diri-Nya melalui wahyu yang tertulis– Tuhan memperlihatkan juga tanda-tanda kebesaran-Nya melalui alam semesta. Ada firman yang dibaca dalam kitab suci, tetapi ada pula ayat-ayat Tuhan yang terbentang di langit, di bumi, di lautan, di gunung-gunung, bahkan di dalam diri manusia.
Al-Qur’an berulang kali mengajarkan manusia untuk memperhatikan penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, hujan yang menghidupkan tanah, serta berbagai tanda yang terdapat dalam diri manusia– artinya, membaca tidak selalu berarti mengeja huruf. Membaca juga berarti memperhatikan, merasakan, merenungkan, dan menangkap pesan yang disampaikan Tuhan melalui ciptaan-Nya.
Dalam pengertian inilah kita dapat berbicara mengenai empat “kitab suci” yang hidup– yaitu, tanah, air, angin, dan api. Keempatnya disebut “kitab suci yang hidup” bukan karena keempatnya menggantikan atau disamakan kedudukannya dengan kitab wahyu. Sebutan itu merupakan metafora spiritual bahwa alam adalah kumpulan ayat kauniyah, tanda-tanda kebesaran Tuhan yang hidup, bergerak, dan terus berbicara kepada manusia.
Tanah adalah asal, tempat berpijak, ruang kehidupan, sekaligus tempat manusia akhirnya Kembali– dari tanah tumbuh padi, buah-buahan, pepohonan, obat-obatan, dan berbagai sumber kehidupan. Di atas tanah manusia membangun rumah, kota, peradaban, dan menuliskan sejarahnya. Tanah mengajarkan kerendahan hati– berada di bawah, diinjak setiap hari, tetapi tidak kehilangan kemuliaannya.
Menerima apa pun yang jatuh kepadanya, lalu mengolahnya menjadi kehidupan. Tanah juga mengingatkan manusia agar tidak sombong. Setinggi apa pun jabatan, dan sebesar apapun kekuasaan, pada akhirnya tubuhnya akan kembali dipeluk bumi– karena itu, membaca “kitab tanah” berarti belajar tentang kesabaran, kesederhanaan, kesuburan, kematian, dan tanggung jawab antargenerasi.
Air adalah sumber kehidupan. Tidak ada manusia, hewan, tumbuhan, dan ekosistem yang dapat bertahan tanpanya. Air hadir dalam tubuh kita, mengalir dalam darah, menjadi hujan, sungai, danau, mata air, serta samudra. Air mengajarkan kelenturan– tidak memaksakan bentuknya sendiri, tetapi mampu menyesuaikan diri dengan ruang yang ditempatinya. Air mengalir menuju tempat yang lebih rendah, seolah mengajarkan bahwa kehidupan memperoleh kemuliaan bukan dengan meninggikan diri, melainkan dengan memberi manfaat.
Air juga mengajarkan ketekunan– tetesannya tampak lembut, tetapi dalam waktu panjang dapat melubangi batu– tidak selalu melawan dengan kekerasan, tetapi bekerja melalui kesabaran dan konsistensi– namun, air yang memberi kehidupan juga dapat mendatangkan bencana ketika keseimbangannya dirusak. Karena itu, jangan hanya menyalahkan air ketika banjir datang.
Begitu juga dengan angin– tidak terlihat, tetapi keberadaannya dapat dirasakan. Begitu pula napas, ruh, cinta, doa, dan kejujuran. Banyak hal terpenting dalam kehidupan justru tidak selalu dapat ditangkap mata. Angin membawa udara yang kita hirup– membantu penyerbukan tanaman, menggerakkan awan, menyebarkan benih, mengatur suhu, dan menjaga berlangsungnya kehidupan. Angin mengajarkan kebebasan– bergerak melintasi batas-batas yang dibuat manusia– tidak mengenal pagar, sertifikat tanah, batas negara, atau kelas sosial. Udara yang sama dihirup oleh orang kaya dan orang miskin, penguasa dan rakyat biasa. Angin itu lembut dan menyejukkan– tetapi ketika keseimbangan alam terganggu, ia dapat berubah menjadi badai yang merobohkan apa saja.
Hal yang sama juga dengan api– memberi cahaya, kehangatan, energi, dan kemampuan mengolah makanan. Api memungkinkan manusia membangun peradaban. Api juga melambangkan semangat, keberanian, daya juang, dan gairah kehidupan. Tanpa “api” dalam diri, manusia kehilangan dorongan untuk bergerak, bekerja, mencipta, dan membela kebenaran– namun, api yang tidak terkendali akan membakar. Demikian pula ambisi, kemarahan, nafsu, dan kekuasaan. Semuanya dapat menjadi kekuatan positif apabila dikendalikan, tetapi menjadi kehancuran ketika dibiarkan melampaui batas.
Membaca kitab api berarti belajar membedakan antara semangat dan amarah, antara kebutuhan dan kerakusan, antara energi yang menghidupkan dan hawa nafsu yang menghancurkan. Sayangnya, kita sering baru membaca alam setelah bencana terjadi. Kita membaca tanah setelah longsor. Kita membaca air setelah banjir. Kita membaca angin setelah badai. Kita membaca api setelah kebakaran– karena itu, jangan sampai kita rajin mencium kitab suci, tetapi mengotori sungai. Jangan sampai kita fasih mengucapkan ayat, tetapi merusak tanah. Jangan sampai kita berbicara tentang surga, tetapi menciptakan neraka ekologis bagi generasi berikutnya.
Membaca kitab suci yang tertulis seharusnya membimbing kita untuk membaca dan merawat kitab kehidupan yang terbentang. Pada akhirnya, manusia yang benar-benar pandai membaca bukan hanya manusia yang menguasai banyak buku, tetapi manusia yang mampu menemukan kehendak Tuhan di balik setiap peristiwa dan ciptaannya. Empat unsur itu adalah kitab kehidupan yang halamannya terus terbuka. Tanah adalah halamannya. Air adalah tintanya. Angin adalah suaranya. Api adalah cahayanya. Dan manusia adalah pembacanya. Sedangkan Allah SWT adalah Tuhan yang menjadi sumber segala makna.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Editor: Jufri Alkatiri
