IndexPolitica: Kinerja Kabinet Merah Putih Tidak Dapat Diukur dari Popularitas, 10 Menteri dengan Kinerja Terbaik dan Terendah (Foto: Dok. IndexPolitica)
Pijarberita.com, Jakarta — Lembaga riset politik dan kebijakan publik IndexPolitica Indonesia merilis hasil penelitian mengenai Evaluasi Kinerja Kabinet Merah Putih Pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka.
Denny Charter, Founder dan peneliti senior dari IndexPolitica Indonesia– dalam Siaran Persnya, hari ini di Jakarta– menyatakan, penelitian yang dilakukan secara khusus tidak menggunakan survei opini public Multi Stage Random Sampling, tetapi menggunakan pendekatan Evidence-Based Government. Performance Evaluation dengan metode Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA). “Yang kami ukur adalah kinerja, bukan popularitas. Menteri yang sering diberitakan belum tentu menteri dengan kinerja terbaik. Sebaliknya, menteri yang tidak terlalu populer dapat memiliki kinerja yang sangat baik apabila mampu menghasilkan output dan outcome kebijakan yang terukur,” kata Denny Charter.
Menurut IndexPolitica, terdapat perbedaan fundamental antara popularitas politik dan kinerja pemerintahan. Popularitas berkaitan dengan tingkat pengenalan, eksposur, persepsi, pemberitaan, atau tingkat keterkenalan seorang pejabat di masyarakat. Sementara kinerja diukur dari kemampuan seorang menteri menjalankan mandat kementeriannya, menghasilkan kebijakan, melaksanakan program, mencapai target, serta menciptakan dampak yang dapat diverifikasi. “Popularitas adalah persepsi. Kinerja adalah delivery. Karena itu, keduanya tidak boleh dicampur dalam satu indikator,” ujar Denny.
IndexPolitica menilai — mengukur kinerja menteri hanya melalui pertanyaan kepada masyarakat mengenai apakah mereka puas atau tidak puas berpotensi menghasilkan measurement bias, karena persepsi publik sangat dipengaruhi oleh eksposur media, isu politik, figur, dan popularitas personal. Sebaliknya, penelitian IndexPolitica berusaha menjawab pertanyaan yang berbeda, apa yang telah dikerjakan kementerian, sejauh mana target dicapai, bagaimana implementasinya, dan apa dampak yang dapat dibuktikan?
IndexPolitica menggunakan pendekatan non-survey berbasis bukti dengan menggabungkan analisis dokumen, data kinerja pemerintah, data statistik resmi, evaluasi implementasi kebijakan, analisis outcome, serta penilaian terhadap efektivitas kebijakan.
IndexPolitica menegaskan bahwa masuk dalam kelompok performance gap tidak berarti seorang menteri tidak bekerja atau tidak memiliki program. “Ini bukan daftar menteri baik dan menteri buruk secara personal. Ini adalah pengukuran terhadap tingkat pencapaian mandat kementerian dibandingkan dengan output dan outcome yang dapat diverifikasi,” kata Denny.
IndexPolitica melihat salah satu persoalan utama evaluasi pemerintahan adalah kecenderungan mengukur keberhasilan dari jumlah program yang dilaksanakan, bukan dari dampaknya. Karena itu penelitian memberikan bobot terbesar, yaitu 25 persen, kepada policy outcome.
Sebagai contoh, jumlah peserta sebuah program kesehatan tidak otomatis menunjukkan keberhasilan program tersebut. Evaluasi harus dilanjutkan dengan melihat apakah pemeriksaan menghasilkan deteksi penyakit, apakah pasien memperoleh tindak lanjut, dan apakah terdapat perbaikan indikator kesehatan. Demikian pula pembangunan rumah tidak hanya dinilai dari jumlah rumah yang dibangun, tetapi juga apakah rumah tersebut benar-benar dihuni, terjangkau, memenuhi standar kelayakan, dan berkontribusi mengurangi persoalan perumahan.
“Output menunjukkan apa yang dilakukan pemerintah. Outcome menunjukkan apakah tindakan pemerintah tersebut menghasilkan perubahan. Bagi kami, outcome jauh lebih penting,” kata Denny Charter. (*/fri)
Editor: Jufri Alkatiri
