Tauhid Prof Jiang

Jurnalis Senior dan Kolumnis (Foto: Ahmadie Thaha)

Oleh: Ahmadie Thaha*

Video itu berlangsung di tempat yang nyaris tidak memiliki kesan sakral. Bukan di masjid dengan kubah menjulang, bukan pula di ruang kuliah dengan podium dan papan tulis– direkam di jalan samping gerbang Washington Square, New York.

Tampak seorang lelaki berjas dan berdasi berjalan bersama Sneako, pembuat konten kontroversial yang dikenal luas di internet. Lelaki itu Jiang Xueqin. Di dunia maya, orang mengenalnya sebagai Prof Jiang, pengajar sejarah dan geopolitik.  Hari itu, percakapannya dengan Sneako tiba-tiba berbelok ke agama. Man, we need an Islam. It’s the only solution. Yep. That’s right,”_jawab Jiang sambil terus melangkah cepat.

Lalu, masih sambil berjalan, Sneako memintanya mengulang baca dua kalimat syahadat. Jiang mengikuti, kata demi kata, dengan pelafalan masih terbata-bata: Asy-hadu an la ilaha illallah, wa asy-hadu anna Muhammadan rasulullah._Setelah itu, Sneako mengucapkan, “Allahu Akbar” — namun, yang menarik bukan hanya momen pengucapan itu. Sneako masih meminta kepastian: apakah Jiang memahami makna kalimat yang baru diucapkannya? Jiang menjawab bahwa “kalimat itu indah”. Tidak ada penjelasan lebih jauh.

Ketika ditanya apakah dia percaya Muhammad adalah utusan Tuhan, dia menjawab, “I believe Muhammad is the messenger of God. Yes.” Dia juga menyetujui bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Tuhan. “Alhamdulillah,” kata Sneako. Kemudian banyak potongan video ini beredar di berbagai platform media, yang menyebut Prof. Jiang telah masuk Islam–tetapi, ada juga yang meragukannya.

Begitulah sebuah peristiwa besar kadang muncul tanpa tata upacara yang megah–  menyelinap di antara langkah kaki, percakapan spontan, dan suara kendaraan kota besar New York, Amerika Serikat–  cukup direkam, mungkin dengan kamera biasa, lalu dunia tahu–tetapi justru karena itulah, kita perlu membacanya dengan kepala dingin. Kita tidak perlu tergesa-gesa menjadikannya tontonan spektakuler yang beredar begitu luas di internet, tetapi juga tidak buru-buru mengecilkan maknanya.

Jiang Xueqin bukan nama baru dalam dunia pendidikan dan analisis sejarah. Dia lahir di Guangdong, Tiongkok, pada 1976, kemudian keluarganya bermigrasi ke Kanada– menyelesaikan pendidikan sarjana sastra Inggris di Yale University pada 1999.

Setelah itu, dia kembali ke negara kelahirannya– berkecimpung dalam dunia pendidikan di Tiongkok, antara lain melalui program sekolah eksperimental dan pembaruan pendidikan. Pada 2014, dia menerbitkan_Creative China, buku yang mengkritik sistem pendidikan yang terlalu mengandalkan hafalan, ujian, dan kepatuhan mekanis. Menurutnya, sekolah harus melahirkan manusia kreatif yang mampu berpikir kritis, bukan sekadar mesin penghasil jawaban benar.

Jadi, sebelum menjadi komentator geopolitik, Jiang lebih dahulu merupakan pendidik. Dia pernah terlibat dalam pengembangan sekolah dan menulis tentang bagaimana pendidikan dapat membentuk manusia yang lebih mandiri.  Profilnya sebagai pengajar juga dikonfirmasi oleh wawancara Ian Johnson di The New York Review of Books pada 2014, ketika Jiang terlibat dalam reformasi pendidikan di Tiongkok.

Popularitasnya melonjak melalui kuliah-kuliah tentang sejarah peradaban, strategi, dan geopolitik. Dia mengembangkan pendekatan yang disebut  predictive history.  Dia membaca pola sejarah, struktur kekuasaan, psikologi elite, serta teori permainan untuk memperkirakan arah peristiwa. Seperti Ibnu Khaldun, dia melihat sejarah dari perspektif luas perkembangan sosial.

Dalam praktiknya, Jiang kerap membandingkan konflik moderen dengan peristiwa masa lampau– misalnya, menggunakan Ekspedisi Sisilia Athena pada 415 SM sebagai analogi untuk menjelaskan risiko operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran. Dia juga menggabungkan sejarah dengan gagasan psychohistory dalam novel  Foundation karya Isaac Asimov–tetapi tentu, itu bukan sebagai ilmu yang sudah mapan, melainkan sebagai inspirasi untuk membayangkan bagaimana perilaku masyarakat dapat dibaca melalui pola.

Pendekatan itu membuatnya menarik sekaligus kontroversial. Para pengikutnya melihat keberanian membuat prediksi yang dapat diuji. Para pengkritiknya mengingatkan bahwa sejarah bukan mesin fotokopi. Pola lama tidak otomatis menghasilkan peristiwa baru yang sama. Terlalu banyak variabel, terlalu banyak kemungkinan, dan terlalu mudah bagi manusia untuk hanya mengingat prediksi yang kebetulan benar– namun, terlepas dari soal akurasi ramalannya, ada satu hal yang membuat Jiang relevan dalam percakapan tentang Islam. Ia tak memandang agama semata-mata sebagai urusan ritual privat. Dia melihat agama sebagai kekuatan intelektual yang pernah membentuk cara manusia memahami dunia.

Dalam salah satu kuliahnya yang berjudul The Golden Age of Islam, Jiang menyampaikan gagasan yang cukup berani. Modernitas, katanya, tiak lahir begitu saja dari Eropa. Menurutnya, banyak fondasi intelektual yang kelak menopang modernitas telah tumbuh dalam peradaban Islam. “The problem though is it’s too simple and clear to say that modernity began in Europe,” katanya. “We forget that Islam really built the basis for modernity.”

Pernyataan itu tentu tidak boleh dibaca sebagai penghapusan kontribusi Yunani, Romawi, India, Tiongkok, atau Eropa. Sejarah ilmu pengetahuan bukan lomba estafet dengan satu pelari yang boleh mengklaim seluruh medali.–tetapi Jiang hendak mengoreksi narasi yang terlalu Sederhana–dia menolak pendapat seolah-olah dunia hanya tidur, lalu Eropa bangun dan menemukan modernitas seorang diri.

Bagi Jiang, Islam menghadirkan satu  revolusi intelektual karena dia menyatukan beberapa hal yang sering dipisahkan: keyakinan kepada Tuhan, pemahaman tentang alam, tanggung jawab manusia, dan dorongan memperbaiki kehidupan. Dia melihat tauhid bukan sekadar pernyataan metafisis bahwa Tuhan itu satu. Tauhid juga mengubah hubungan manusia dengan dunia.

Jika hanya ada satu Tuhan yang mutlak, maka alam tidak lagi menjadi arena yang dikuasai oleh jutaan kekuatan ilahi yang saling bersaing. Alam dapat dipelajari, dipahami, dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Di sinilah Jiang menghubungkan Islam dengan lahirnya sains. “Why do we use science to make the world better? Because God wants us to make the world better,”_ujarnya.

Tentu, kalimat ini merupakan interpretasi filosofis Jiang, bukan rumusan tunggal yang mewakili seluruh sejarah pemikiran Islam–tetapi gagasannya memiliki pijakan dalam tradisi intelektual Islam. Islam memandang alam sebagai ciptaan Allah yang memiliki keteraturan, sementara manusia memperoleh amanah untuk mengelola bumi. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, pergantian malam dan siang, serta berbagai gejala alam sebagai tanda-tanda yang perlu direnungkan– dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak harus dipahami sebagai lawan iman–dia dapat menjadi jalan untuk membaca ayat-ayat kauniyah—tanda-tanda Tuhan dalam ciptaan.

Bagi Jiang, hubungan semacam itu membantu menjelaskan mengapa peradaban Islam pernah menghasilkan kemajuan besar dalam matematika, astronomi, kedokteran, optika, filsafat, dan berbagai bidang ilmu lainnya. Bagian paling menarik dari penjelasan Jiang terletak pada perbandingannya antara politeisme dan monoteisme. Dalam transkrip yang beredar, dia menggunakan istilah monisme, tetapi konteks pembicaraannya jelas merujuk pada monotheisme, yakni keesaan Tuhan.

Menurut Jiang, dunia politeistik menghadirkan banyak dewa dengan wilayah kekuasaan, karakter, dan tuntutan yang berbeda-beda. Dalam kerangka itu, hubungan manusia dengan kekuatan ilahi menjadi lebih rumit.

Sebaliknya, monoteisme menghadirkan kejelasan: hanya ada satu Tuhan, dan hubungan manusia dengan-Nya memiliki pusat yang tegas. “There’s one God; therefore I just have to follow him, I have to believe in him,”_ katanya. _“The relationship between God and you is very, very clear.”

Jiang menyebut kejelasan dan kemutlakan monoteisme sebagai kekuatan intelektual. Bagi dia, tauhid menyederhanakan pusat orientasi manusia. Tidak ada banyak kekuasaan mutlak yang harus ditakuti, dirayu, atau dinegosiasikan. Tidak ada dewa yang menjadi pesaing bagi dewa lain. Hanya Allah yang menjadi tujuan penghambaan.

Di sini, pemikiran Jiang bersentuhan dengan inti ajaran Islam, yakni tauhid. La ilaha illallah_ bukan sekadar angka “satu” dalam aritmetika ketuhanan. Tauhid merupakan pembebasan– dia menolak segala sesembahan selain Allah, sekaligus menolak penghambaan manusia kepada kekuatan-kekuatan yang mengklaim kemutlakan.

Tauhid, dalam pengertian ini, memiliki konsekuensi etis dan sosial. Jika hanya Allah yang mutlak, maka manusia —betapapun tinggi jabatan, kekayaan, ilmu, atau pengaruhnya— tidak boleh menempatkan diri sebagai penguasa mutlak atas manusia lain.

Raja bukan Tuhan. Negara bukan Tuhan. Pasar bukan Tuhan. Algoritma bukan Tuhan. Bahkan ego kita sendiri bukan Tuhan. Di situlah tauhid dapat menjadi kritik terhadap berhala-berhala moderen. Berhala tidak selalu berupa patung batu. Dia bisa berupa kekuasaan yang menuntut kepatuhan tanpa batas, uang yang menentukan seluruh nilai kehidupan, atau ideologi yang menganggap dirinya selalu benar.

Jiang tampaknya melihat Islam sebagai agama yang membuat Tuhan “konkret” dalam kehidupan manusia–tetapi, dengan itu dia tidak bermaksud mengatakan Allah menyerupai benda yang dapat disentuh atau dibatasi.  Dalam konteks penjelasannya, concrete lebih dekat dengan makna bahwa Tuhan hadir secara nyata dalam orientasi hidup. Tuhan dikenal, disembah, ditaati, dan dijadikan pusat Tindakan–tetapi di sini pula kita perlu memberi catatan teologis.

Islam tidak mengajarkan bahwa Allah dapat “disentuh” secara fisik atau disamakan dengan makhluk. Allah transenden, tidak menyerupai ciptaan–karena itu, bahasa Jiang sebaiknya dipahami sebagai bahasa filosofis dan pedagogis, bukan sebagai rumusan akidah yang diperdebatkan.

Jiang telah membicarakan Islam sebelum video syahadat itu beredar — dia tidak tiba-tiba menemukan agama ini dari sebuah percakapan singkat di jalan. Dalam kuliah-kuliahnya, dia sudah menganggap Islam sebagai salah satu kekuatan besar yang membentuk sejarah manusia. Dia melihat Islam sebagai kelanjutan kisah kenabian, sebagai agama yang membawa gagasan tentang Tuhan lebih dekat kepada kehidupan manusia, dan sebagai kekuatan yang mendorong umatnya membangun dunia.

Dalam penjelasannya, dia bahkan menghubungkan beberapa gagasan Islam dengan perkembangan modernitas Eropa, termasuk gagasan tentang hubungan personal manusia dengan Tuhan dan dorongan untuk memperbaiki dunia. Pembacaan itu tentu dapat diperdebatkan. Sejarah Reformasi Protestan, misalnya, memiliki konteks sosial, politik, dan teologis yang kompleks. Tidak tepat menyederhanakannya sebagai akibat langsung dari Islam.

Demikian pula, modernitas memiliki banyak akar yang saling Bertaut–tetapi justru di situlah pentingnya membaca Jiang secara serius. Kita tidak usah menelan seluruh kesimpulannya, melainkan memahami pertanyaan yang dia ajukan. Mengapa Islam, yang sering digambarkan dalam narasi populer sebagai agama masa lalu, justru pernah menjadi motor kemajuan intelektual?

Mengapa tauhid yang tampak sederhana dapat melahirkan konsepsi tentang ilmu, hukum, tanggung jawab, dan peradaban?  Mengapa hubungan dengan Tuhan tidak harus menjauhkan manusia dari dunia, tetapi dapat mendorongnya mengolah dunia?  Pertanyaan-pertanyaan itu lebih berharga daripada sekadar menjadikan Jiang sebagai “orang terkenal yang masuk Islam”.

Tentang status keislamannya, M. Hijab —dalam tanggapan yang dikutip dalam video yang beredar— memberikan penjelasan yang cukup hati-hati–dia mengatakan, secara teknis, orang yang mengucapkan syahadat dan menyatakan mempercayai maknanya dapat dihukumi sebagai Muslim– namun, dia juga menilai akan lebih baik jika Jiang menjelaskan secara lebih terperinci apakah dia menerima Al-Qur’an sebagai firman Allah, meyakini kenabian Muhammad, dan memahami dasar-dasar Islam.

Pandangan itu masuk akal sebagai ajakan untuk membedakan dua hal: hukum lahiriah dan kedalaman perjalanan iman. Dalam tradisi Islam, seseorang yang mengucapkan syahadat dengan keyakinan yang benar telah memasuki Islam.  Adapun kadar pemahaman, keteguhan, dan perjalanan spiritualnya merupakan perkara yang terus berkembang.

Kita tidak perlu menuntut seorang yang baru bersyahadat langsung menjadi ulama, apalagi lulus ujian komprehensif akidah di trotoar Manhattan– tetapi kita juga tidak perlu menjadikan momen itu sebagai bukti bahwa seluruh persoalan keislaman Jiang telah selesai. Syahadat adalah pintu, bukan garis finis.  Setelah pintu terbuka, ada perjalanan panjang. Mulai dari belajar Al-Qur’an, mengenal sunnah, memahami ibadah, membangun akhlak, hingga menguji keyakinan melalui kehidupan nyata.

Di era media sosial, setiap peristiwa mudah berubah menjadi bendera kelompok. Seseorang mengucapkan syahadat, lalu berbagai pihak berlomba mengklaim: siapa yang berhasil mengislamkannya, siapa yang paling berjasa, siapa yang paling berhak menjelaskan maknanya. Padahal, Islam tidak membutuhkan kemenangan humas dari setiap orang yang masuk Islam. Hidayah bukan trofi yang boleh dipajang di etalase organisasi. Dia amanah yang menuntut tanggung jawab. –yang lebih penting dari siapa yang menuntun Jiang membaca syahadat adalah apakah dia menemukan komunitas yang membantunya belajar dengan tenang. Apakah dia bertemu Muslim yang memperlihatkan keindahan akhlak, keluasan ilmu, dan kedalaman ibadah?

Kita berharap dia menemukan bahwa tauhid bukan hanya teori yang indah dalam kuliah, tetapi juga kekuatan untuk berlaku adil, jujur, rendah hati, dan tidak menyembah kepentingan diri. Sebab, jika Islam disebut sebagai revolusi intelektual, revolusi itu tidak boleh berhenti di kepala. Dia  harus turun menjadi cara hidup. Tauhid yang benar semestinya membuat manusia lebih merdeka dari kesombongan, bukan lebih sombong karena merasa memiliki kebenaran.

Tauhid semestinya melahirkan ilmu yang bermanfaat, bukan kebanggaan kosong atas kejayaan masa lalu–dia semestinya mendorong perbaikan dunia, bukan sekadar nostalgia tentang zaman keemasan. Jiang mungkin baru saja mengucapkan syahadat. Kita belum tahu sejauh mana perjalanan keagamaannya akan berkembang. Dan kita tidak perlu mengarang bab-bab yang belum ditulisnya–tetapi percakapan itu mengingatkan kita pada sesuatu yang sering luput.

Islam bukan hanya kumpulan jawaban ritual, melainkan juga tawaran mendasar tentang bagaimana manusia memahami realitas. Tauhid menyatukan langit dan bumi, ilmu dan tanggung jawab, kebebasan dan penghambaan. Di tengah dunia yang semakin ramai oleh berhala-berhala baru, mungkin itulah alasan kalimat yang paling sederhana masih memiliki daya gugah yang begitu besar: La ilaha illallah– Tidak ada yang berhak disembah selain Allah.

Kalimat pendek, tetapi cakrawalanya luas– dapat menjadi awal perjalanan seorang akademisi– juga dapat menjadi cermin bagi orang-orang yang sudah lama mengaku beriman: apakah benar hanya Allah yang kita sembah, atau diam-diam kita masih bersujud kepada kekuasaan, uang, popularitas, dan ego sendiri?

*Jurnalis Senior dan Kolumnis

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website