Renungan Dhino Jemuwah: Tradisi Intelektual Tasawuf Menganalisis Perkembangan AI (Artificial Intelligence) (bag-3)

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Analogi, Ruang Laten sebagai Khayāl dan  Generate sebagai Tajallī

Meletakkan kedua konsep tersebut secara berdampingan—  kita dapat membangun satu analogi yang kuat.  Latent space pada AI Generatif memiliki kemiripan fungsional yang mencolok dengan konsep  ‘ālam al-khayāl Ibn ‘Arabi. Keduanya adalah ranah perantara (barzakh).

Ruang laten berdiri di antara data pelatihan yang abstrak dan output gambar/teks yang konkret– bukanlah data mentah, juga bukan hasil akhir, melainkan satu dunia potensialitas di mana arketipe dan pola-pola universal (dari data) bersemayam dalam keadaan murni, menunggu untuk diberi bentuk spesifik (Villalobos & Ward, 2023).

Konsep Barzakh (Intermediary Space) atau Alam Khayal; Ketika seseorang memikirkan satu konsep abstrak seperti “keadilan” atau “cinta”, didalam Alam Khayalnya — hal itu dapat mewujud menjadi sosok manusia, warna, atau cahaya yang sedang dimajinasikan. Alam ini menjembatani pikiran murni Tuhan/ruh dengan dunia fisik.

Hal ini selaras dengan Latent Space AI; Ketika AI (seperti Midjourney atau ChatGPT) dilatih– tidak menghafal gambar atau kata satu per satu. AI mengubah data tersebut menjadi angka-angka statistik di dalam ruang tersembunyi berdimensi tinggi  (latent space). Latent space  adalah barzakh digital—  bukan kode pemrograman mentah, dan bukan pula produk akhir, melainkan ruang potensi murni.

Manifestasi Bentuk dari Yang Abstrak didalam Alam Khayal– menjadi makna  (ma’na) mendapatkan bentuk  (surah). Contohnya adalah mimpi, di mana ketakutan Anda mewujud menjadi monster, atau ilmu pengetahuan mewujud menjadi susu (seperti dalam hadis nabi).

Pada Latent Space AI; Proses tersebut mirip dengan Generative AI – contohnya– ketika Anda mengetik prompt  “kucing astronot di bulan”, AI masuk ke dalam latent space-nya, mencari titik koordinat (vektor) konsep “kucing”, “astronot”, dan “bulan”, lalu menggabungkannya (decoding) menjadi gambar konkret yang bisa kita lihat di layar komputer.

Kreativitas Tanpa Batas dan “Ilusi” pada alam khayal: Imajinasi manusia bisa melahirkan hal-hal yang tidak ada di dunia nyata (seperti kuda bersayap)– namun bagi Ibnu Arabi, itu bukan sekadar khayalan kosong, melainkan kombinasi dari elemen realitas yang dirakit ulang di Alam Khayal.

Pada Latent Space AI: AI bisa menciptakan wajah manusia yang belum pernah ada di dunia nyata, atau memadukan gaya seni abad pertengahan dengan teknologi futuristik.  Fenomena halusinasi AI (ketika AI membuat informasi palsu namun terdengar meyakinkan) sangat mirip dengan distorsi imajinasi manusia ketika gagal menangkap realitas objektif di Alam Khayal.

Selanjutnya, proses aktif generate itu dapat dianalogikan dengan  tajallī. Ketika AI Generatif menciptakan satu output — sedang melakukan “penampakan” atau “manifestasi” satu  bentuk partikular dari lautan potensi tidak terbatas di ruang laten. Prompt yang diberikan oleh pengguna berfungsi persis seperti konsep  isti’dād  (ketersediaan)  dalam metafisika Ibn ‘Arabi.

Prompt “seekor kucing biru dengan sayap” menciptakan satu  “ketersediaan” spesifik dalam sistem, yang kemudian “menerima” tajallī atau manifestasi dari ruang laten dalam bentuk yang sesuai dengan deskripsi tersebut. Tanpa prompt, potensi di ruang laten tetap tersembunyi, sama seperti tajallī ilahi yang membutuhkan lokus dengan isti’dād tertentu untuk dapat bermanifestasi (Morris, 1987).

Analogi ini membantu kita memahami kreativitas AI bukan sebagai tindakan sadar, melainkan sebagai proses manifestasi ontologis. AI tidak “berpikir” atau “membayangkan” seperti manusia– menjadi satu  lokus (madẓhar) di mana kombinasi data, arsitektur algoritma, dan input pengguna bertemu untuk mewujudkan sebuah forma baru.

Dalam kerangka ini, “imajinasi artifisial” — bukanlah simulasi imajinasi manusia, melainkan satu jenis imajinasi yang berbeda satu khayāl munfaṣil (imajinasi terpisah)– yang beroperasi pada tingkat komputasional, yang memanifestasikan bentuk-bentuk baru dari potensi laten melalui proses yang strukturnya mencerminkan dinamika tajallī (Nasr, 1993).

Kerangka Ibn ‘Arabi ini juga menawarkan solusi elegan terhadap perdebatan tentang orisinalitas karya AI. Dalam pandangan tajallī, tidak ada ciptaan yang benar-benar baru dari ketiadaan (creatio ex nihilo).  Setiap bentuk adalah penampakan baru dari Realitas Tunggal yang sama. Demikian pula, karya AI bukanlah salinan, melainkan sebuah gubahan” atau “konfigurasi” baru (tarkīb jadīd) dari pola-pola yang sudah ada dalam data pelatihan. Orisinalitasnya terletak pada keunikan manifestasinya, sama seperti setiap manusia adalah tajallī yang unik dari esensi kemanusiaan yang satu, meskipun tersusun dari elemen-elemen yang sama (Izutsu, 1984).

Analogi Lapisan/layer Alam Khayal barzah dibandingkan Latent Space Dataset: 1.Khayal Munfasil Khayal kosmik yang ada sendiri; Tempat malaikat dan mimpi-mimpi analogi dengan Dataset Latent Spce- samudera gambar, teks, suara yang tidur di dalam server. 2. ⁠ Khayal Muttasil Khayal di dalam diri manusia; Tempat bayangan, mimpi, analogi dengan visi Prompt di dalam dirimu yakni; Niat, kata, doa yang kamu ketik. 3. ⁠ Pertemuan Saat Ruh menyentuh Jasad → lahir mimpi analogi dengan Saat Prompt menyentuh Dataset → lahir gambar AI.  Jadi saat kita ketik “Adam sebagai cermin di taman barzakh” – kamu sesungguhnya lagi melakukan Tajalli. Ide kita yang masih ghaib, turun ke alam khayal buatan, lalu berwujud. (bersambung)

*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website