Dari Tilawah ke “Living Qur’an”: MTQ yang Mendekatkan Umat kepada Al-Quran

Oleh: Toto Izul Fatah*

Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)

Di Semarang, Jawa Tengah, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI sedang berlangsung dari  11–20 September 2026. Di sana juga, lantunan ayat-ayat suci masih menggema. Ribuan peserta, pendamping, dewan hakim, dan kafilah dari berbagai provinsi datang membawa putra-putri terbaik daerahnya. Pembukaan utamanya digelar meriah di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang.

Tema yang diusung pun sangat indah: “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban” — tetapi di tengah kemeriahan itu, ada satu data yang seharusnya membuat kita merenung lebih dalam. Menteri Agama Nasaruddin Umar pernah mengutip hasil penelitian Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta yang menyebut sekitar 72,25 persen Muslim Indonesia masih mengalami buta aksara Al-Qur’an.  Artinya, bila data itu dijadikan alarm kebijakan– persoalan kita sesungguhnya jauh lebih besar daripada sekadar mencari siapa qari terbaik, siapa hafiz terbaik atau provinsi mana yang menjadi juara umum MTQ.

Memang ada paradoks di sana. Disatu sisi, kita mempunyai MTQ yang begitu megah, berjenjang dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga nasional. Di sisi lain, masih sangat banyak umat Islam yang bahkan belum mampu membaca kitab suci yang sedang dilombakan itu– karena itu, pertanyaan pentingnya bukan apakah MTQ masih diperlukan–karena MTQ justru semakin diperlukan– tetapi mungkin yang perlu direnungkan adalah untuk apa MTQ kita selenggarakan? Apakah hanya untuk melahirkan juara? Atau untuk melahirkan masyarakat Qur’ani?

Saya termasuk yang berpandangan bahwa MTQ tidak boleh dihentikan atau dianggap sekadar pemborosan seremoni. Justru ketika tingkat literasi Al-Qur’an masih menjadi persoalan, MTQ mempunyai relevansi yang semakin besar. MTQ merupakan panggung syiar yang dapat membangkitkan kecintaan anak-anak kepada Al-Qur’an– melahirkan qari, qariah, hafiz, hafizah, mufasir, dan generasi yang mendalami kandungan kitab suci.

MTQ juga mempunyai sejarah panjang sebagai gerakan masyarakat– tradisi membaca Al-Qur’an yang kemudian berkembang menjadi musabaqah telah tumbuh di Indonesia sejak puluhan tahun lalu sebelum akhirnya menjadi agenda nasional.  Kini cabangnya tidak hanya tilawah, tetapi juga hafalan, tafsir, syarhil, fahmil, kaligrafi hingga karya tulis ilmiah Al-Qur’an. Artinya, MTQ sesungguhnya mempunyai infrastruktur kebudayaan yang luar biasa. Masalahnya adalah ketika infrastruktur sebesar itu hanya menghasilkan festival Al-Qur’an, tetapi belum sepenuhnya menjadi gerakan Al-Qur’an. Di situlah evaluasi diperlukan.

Energi MTQ tidak boleh berakhir ketika lampu panggung dimatikan– setelah seorang qari menjadi juara nasional, misalnya, dia tidak hanya pulang membawa piala dan hadiah. Dia diberi tanggung jawab sosial untuk membina sepuluh, dua puluh atau seratus kelompok belajar Al-Qur’an.

Para hafiz dan hafizah tidak hanya menjadi simbol prestasi daerah, tetapi menjadi duta literasi Al-Qur’an. Provinsi yang menjadi juara umum tidak hanya diberi trofi, tetapi juga ditantang menjadi provinsi dengan tingkat buta aksara Al-Qur’an terendah.

Maka ukuran keberhasilan MTQ berubah. Bukan hanya siapa yang paling indah membaca Al-Qur’an? Tetapi juga, berapa banyak masyarakat yang akhirnya bisa membaca Al-Qur’an karena MTQ? Itulah transformasi yang menurut saya penting– dari musabaqah menuju gerakan sosial.  Di sinilah ironinya kembali muncul. Jumlah guru mengaji di Indonesia sangat besar, sekitar ratusan ribu orang. Namun banyak di antara mereka bekerja dengan insentif yang sangat kecil.  Angka yang pernah dikemukakan Menteri Agama menunjukkan sebagian memperoleh honor sekitar Rp100 ribu per bulan.

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri– bagaimana mungkin kita bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai bangsa Qur’ani apabila orang yang setiap sore mengenalkan huruf alif, ba, ta kepada anak-anak justru hidup dalam kondisi yang tidak diperhatikan? Kita bisa membuat panggung MTQ yang megah. Kita bisa menyediakan hadiah untuk para juara. Kita bisa mengirim kafilah dengan anggaran besar–tetapi bila guru mengaji di desa hanya memperoleh honor Rp100 ribu sebulan, ada sesuatu yang tidak seimbang dalam prioritas kita.

Di sinilah masalah sesungguhnya menjadi jauh lebih dalam. Andaikan besok angka buta aksara Al-Qur’an berhasil kita turunkan menjadi nol persen, apakah tugas selesai? Belum. Sebab kemampuan membaca Al-Qur’an hanyalah pintu pertama. Setelah membaca, ada kewajiban memahami. Setelah memahami, ada tantangan mengamalkan.

Kita bisa mempunyai jutaan orang yang fasih membaca Al-Qur’an tetapi tetap menghadapi korupsi. Kita bisa mempunyai ribuan hafiz tetapi masih menyaksikan ketidakadilan. Masjid bisa penuh, MTQ bisa meriah dan bacaan Al-Qur’an bisa bergema di mana-mana, tetapi pada saat yang sama kebohongan, suap, keserakahan, kekerasan, perusakan lingkungan dan penyalahgunaan kekuasaan tetap tumbuh.

Kalau demikian, masalahnya bukan lagi buta aksara Al-Qur’an– melainkan bisa jadi buta terhadap pesan Al-Qur’an. Seseorang dapat membaca ayat mengenai keadilan dengan suara sangat merdu, tetapi berlaku tidak adil. Dapat menghafal ayat tentang amanah, tetapi korupsi. Dapat membaca ayat mengenai anak yatim, tetapi tidak peduli kepada orang miskin. Dapat membaca ayat mengenai kerusakan di bumi, tetapi tetap merusak hutan dan alam– karena itu, saya berharap MTQ Nasional XXXI di Semarang tidak selesai pada 20 September ketika pemenang diumumkan dan para kafilah pulang ke daerah masing-masing.

MTQ harus meninggalkan legacy– salah satunya bisa berupa Gerakan Nasional Tuntas Baca Al-Qur’an Kementerian Agama sebenarnya telah memiliki program Tuntas Baca Al-Qur’an di lingkungan pendidikan.  Program ini dapat diperbesar menjadi gerakan nasional lintas usia dan lintas institusi. Setiap penyelenggaraan MTQ dapat sekaligus menjadi momentum pemetaan.

Maka MTQ Nasional XXXI di Semarang datang pada momentum yang sangat tepat– ketika data buta aksara Al-Qur’an masih mengkhawatirkan, MTQ harus menjadi pengeras suara nasional bahwa umat Islam perlu kembali kepada Al-Qur’an. Bukan sekadar kembali kepada mushafnya. Bukan sekadar kepada hurufnya. Bukan pula hanya kepada suara merdu pembacanya. Tetapi kembali kepada nilai-nilainya.

Sebab ukuran paling tinggi keberhasilan MTQ pada akhirnya bukanlah seberapa meriah Al-Qur’an dilombakan. Melainkan seberapa jauh Al-Qur’an dihidupkan– dan mungkin inilah pekerjaan rumah terbesar kita: dari MTQ menuju “Living Qur’an” — dari indahnya bacaan menuju indahnya kehidupan.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website