Penyegaran Berbangsa

Oleh : Ahmad Zacky Siradj*

Penyegaran Berbangsa (Foto: bapeten.go.id)

Perombakan kabinet sepertinya memberi pesan harapan– tentu harapan untuk memperbaiki nasib hidup seluruh rakyat.  Adanya beberapa orang yang sebelum masuk kejajaran pemerintahan begitu vocal dan nyaring suaranya, semoga saja dengan masuknya mereka dapat mampu menyampaikan langsung kepada pengambil keputusan, sehingga kebijakan negara tidak hanya tinggal dalam harapan, tapi merealita, mewujud dan dirasakan seluruh rakyat.

Walau sebagian rakyat masih ragu akan adanya langkah perbaikan, mengingat masih kuatnya para pendukung yang dalam setiap langkahnya ingin menyelamatkan diri dengan selalu menghias ucapan dan perbuatannya, dengan irama yang tetap; asal bapak senang. Sehingga ikhtiar penyegaran, penggantian orang, memperbaharui kinerja bernasib sama, menjadi omon-omon belaka.

Awalnya memang dianggap sesuatu yang mustahil, orang yang begitu sangat vokal lantas dengan mudahnya bersedia diajak masuk di jajaran pemerintahan. Kata-kata yang sebelumnya sering diucapkannya meluncur ringan itu, yang menurut sebagian orang telah menyimpang dan keluar dari norma ketimuran, seperti ungkapan dungu, tolol, bodoh, seakan sepi dari saringan etika, kemudian terpublis, bahkan menjadi bumbu yang dinikmati oleh khalayak ramai. Eeh ternyata kata-kata itu pula yang sepertinya kemudian akhir-akhir ini menjadi tiket masuknya kedalam kekuasaan/pemerintahan.

Ada dua kemungkinan memang– apakah kekuasaan atau istana yang pintar, untuk menaklukan orang-orang yang kritis– atau cerdik pandai yang lihai dan cerdas memanfaatkan situasi, sehingga jualannya laku dan punya kedudukan. Bisa salah satu, tetapi juga bisa kedua-duanya. Saling memanfaatkan–namun muncul pertanyaan kemudian, hingga seberapa lama hal ini bisa berjalan dan seberapa jauh penyegaran bernegara itu bisa digapai …?

Ada yang berpandangan bahwa cerdik pandai itu jangan datang keistana atau menghadap raja, tunduk patuh kepada kekuasaan, karena akan menyempitkan ilmu dan mendangkalkan keluasan pandangannya–tetapi istana atau rajalah yang hendaknya datang berkunjung ke orang-orang cerdik pandai, sehingga pemimpin memiliki kerendahan hati dan dapat mengambil hikmah yang penuh kearifan. Jauh dari keangkuhan dan kesombongan kekuasaan. Selain juga untuk menunjukan tentang bagaimana gambaran bijak-arifnya kekuasaan yang luhur dan mulya dalam kepemimpinannya.

Memang disayangkan bahwa jalan penyegaran itu telah ternodai karena ditempuh dengan cara yang tidak atau kurang etis– seperti yang diberhentikan melalui telepon, sementara yang bersangkutan sedang bertugas. Organisasi-organisasi kecil saja bila hendak mengganti kepengurusannya atau melakukan penyegaran kepengurusannya memiliki tatakrama yang santun, karena mengetahui dan menyadari harga sebuah pengabdian.

Ini organisasi yang terbesar ditingkat bangsa, yaitu negara, yang seharusnya memberi ketauladanan, contoh bagi oraganisasi-organisasi lain yang ada dilingkungan negara bangsa tersebut, apa itu orpol atau ormas atau organisasi kemasiswaan atau kepemudaan, tetapi ternyata kejadiannya sangat ironis memang,

Penyegaran perlu terus dihidupkan– tetapi penyegaran bukan hanya untuk sekedar penyegaran. Penyegaran merupakan proses yang alamiah. Penyegaran juga memiliki tujuan yang mulia, karena hidup itu sendiri merupakan proses penyegaran dan selalu menuntut penyegaran yang terus menerus. Lebih-lebih bagi pengelola tatanan kehidupan bernegara.

Hanya saja penyelenggaraan dalam tata kelola kenegaraan harus berjalan diatas koridor yang sesuai dengan cita-cita berbangsa dan bernegara. Membersihkan birokrasi dari korupsi, menata ulang sumber-sumber kehidupan bagi rakyat secara berkeadilan– dan seluruh kebijakan yang diambil penyelenggara negara, jauh dari praktek sebagai penjajah bagi bangsanya.

Penyegaran juga hendaknya dilakukan dalam mengukur diri sendiri. Bila dirinya juga sudah salah ngomong, dalam pidato kenegaraan misalnya. Lupa pikir, apa yang pernah dijanjikan kepada rakyat diingkarinya– lalu sekuat tenaga memaksakan kehendak, padahal semua itu menjadi sumber kelemahannya– maka penyegaran disini hendaknya menyiapkan pengganti dan secara pelan tapi pasti, melakukan undur diri. Inilah yang kemudian disebut dengan penyegaran generasi atau regenerasi.

Bila pemimpin memahami pentingnya regenerasi ini, bukan hanya pergantian kepemimpinan saja yang hendaknya dilakukan, karena dirinya sudah expired– tetapi penyegaran menyeluruh terhadap semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kaitan ini maka penyegaran kehidupan berbangsa dan bernegara, menuntut, harus segera dilakukan. Jangan ditunda-tunda lagi– dan celaka bila saja ada kehendak memperpanjang kekuasaan, walau itu bagian dari kehendak politik, karena hal itu sesungguhnya melawan kudrat dari sunnah kehidupan berbangsa itu sendiri.

*Mantan Ketua IKALUIN Jakarta dan Anggota DPR-RI

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website